Kisah perang badar

Minggu ini adalah minggu spesial di jepang. Orang jepang menamai minggu ini dengan “golden week”, awalnya saya mengira ada festival atau kegiatan apa gitu, tapi setelah menanyakan hal tersebut ke teman lab akhirnya jadi paham, disebut golden week itu karena di minggu tersebut berkumpul banyak hari libur. Sebenarnya tidak banyak juga sih, dari 7 hari tersebut 5 harinya adalah hari libur (termasuk sabtu dan minggu). Walaupun libur, saya tidak libur (biasa, sok sibuk), saya diberi “liburan” untuk mengikuti seminar di yokohama, huufftt. Dan tahukah anda, karena kebanyakan session di sampaikan dalam bahasa jepang, kalaupun ada session yang berbahasa inggris topiknya tidak relevan dengan tema penelitian S3 saya, akhirnya kadang saya membunuh waktu di tempat seminar dengan membaca sirah nabawiyah.

 

Artikel ini tidak akan bercerita tentang “liburan” saya di Yokohama, sesuai dengan judulnya, saya akan menuliskan kisah tentang sebuah peperangan yang sangat heroik. Perang besar pertama kali yang dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabatnya.

Penyiksaan dan perbuatan dzalim yang dilakukan kaum kafir kepada kaum mu’min sudah sangat banyak sekali. Hal tersebut berlangsung hingga kaum muslimin berhijrah ke kota madinah. Saat hijrah, seluruh harta kaum muslimin ditinggalkan di kota makkah. Sebagai bentuk pembalasan, kaum muslimin pun menghadang kafilah dagang kaum kafir Quraisy yang akan pulang menuju kota Makkah.

Saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar ada kafilah dagang Quraisy di bawah pimpinan Abu Sufyan bin Harb dengan 40 pengawal bergerak dari Syam membawa harta orang-orang Quraisy, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam segera mengajak kaum Muslimin untuk mencegatnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Ini ada kelompok dagang Quraisy yang membawa harta-harta kaum Quraisy. Cegatlah mereka ! Semoga Allah Azza wa Jalla memberikannya kepada kalian.”

Karena niatan awal hanya untuk mencegat kafilah dagang Abu Sufyan bin Harb maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tidak memobilisasi semua sahabat untuk ikut dalam pencegatan tersebut.

 

Gambar 1. Rute Kafilah dagang abu sufyan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan pasukan kafir quraisy

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya menyuruh mereka yang memiliki tunggangan untuk ikut serta dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mencela para shahabat yang tidak ambil bagian dalam perang Badar. Jumlah para shahabat yang mengiringi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam saat itu adalah 319 dengan rincian 230-an kaum Anshar, sisanya kaum Muhajirin. Mereka hanya membawa dua ekor kuda dan 70 unta yang kami tunggangi secara bergantian. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta rombongan berangkat. Saat di Rauha`, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh Abu Lubâbah Radhiyallahu anhu untuk kembali ke Madinah dan mengganti posisi beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pemimpin dan sebelumnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat `Abdullâh bin Ummi Maktûm untuk menggantikan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai imam.

 

Sementara itu, di pihak lain, Abu Sufyân pemimpin kafilah dagang ini terus dalam ekstra waspada dan bersiap-siap mengantisipasi berbagai kemungkinan. Oleh karena itu, ketika berita tentang rencana pencegatan kaum Muslimin ini sampai ke telinganya, dia segera mengirim utusan yang bernama Dhamdham ke Mekah untuk meminta bantuan. Setibanya di Mekah utusan ini berteriak-teriak meminta bantuan sembari memberitahukan harta benda kaum Quraisy yang terancam dirampas oleh kaum Muslimin. Mendengar teriakan ini, sontak seluruh kaum Quraisy keluar dengan membawa senjata, siap berhadapan dengan kaum Muslimin demi menyelamatkan kafilah dagang mereka dan memusnahkan kaum Muslimin yang mereka nilai sebagai ancaman bagi jalur bisnis mereka. Tidak ada seorang pun pembesar Quraisy yang absen dari pertempuran ini kecuali Abu Lahab. Dia menyuruh al-Ash bin Hisyâm menggantikannya. Tidak ada satu keluargapun yang tidak ikut kecuali bani Adiy. Jumlah mereka saat akan berangkat mencapai seribu orang.

 

Kendati sudah mengirim utusan ke Mekah, Abu Sufyân tidak berpangku tangan menunggu kedatangan bala bantuan. Dia terus berusaha mencari berita tentang keberadaan kaum Muslimin. Setelah mendapatkan kepastian posisi kaum Muslimin, dia mengambil jalan lain agar terhindar dari sergapan kaum Muslimin dan ternyata, dia berhasil. Kemudian dia mengirim utusan lagi ke pasukan kaum Quraisy yang masih berada di Juhfah guna memberitahukan keselamatannya dan meminta agar mereka mengurungkan niat menyerang kaum Muslimin. Abu Jahl yang memimpin pasukan kafir Quraisy tidak memperdulikan seruan Abu Sufyân. Abu Jahl mengatakan : “Demi Allah Azza wa Jalla , kita tidak akan kembali ke Mekah sebelum sampai ke Badr. Kita akan tinggal di sana selama tiga hari untuk memotong hewan, memberi makan dan minum khamer sambil menikmati nyanyian para biduwanita. Orang-orang Arab akan mendengar ekspedisi dan perkumpulan kita ini sehingga mereka akan tetap segan kepada kita selama-lamanya. Ayo, majulah !”

 

Kabar tentang pasukan Quraisy ini terdengar juga oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya. Kabar ini direspon oleh para Shahabat dengan respon yang berbeda. Sebagian mereka merasa khawatir karena pertempuran ini tidak disangka-sangka sama sekali dan mereka juga belum melakukan persiapan maksimal. Mereka berusaha menyampaikan berbagai alasan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar diterima. Berkenaan dengan peristiwa ini, Allah Azza wa Jalla menurunkan firman-Nya :

 

“Sebagaimana Rabbmu menyuruhmu pergi dari rumahmu dengan kebenaran, padahal sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya. Mereka membantahmu tentang kebenaran sesudah nyata (bahwa mereka pasti menang), seolah-olah mereka dihalau kepada kematian, sedang mereka melihat (sebab-sebab kematian itu)” (al-anfaal, 5-6)

Melihat keadaan yang kurang menggembirakan ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengajak para shahabat beliau bermusyawarah untuk mengambil keputusan antara melanjutkan perjalanan dan bertempur, atau kembali ke Madinah. Pendapat pertama berasal dari pemimpin kaum Muhajirin yang menyatakan kesiapan mereka untuk bertempur dan tidak akan membiarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertempur seorang diri. Kemudian disusul oleh kaum Anshar yang diwakili oleh Sa’ad bin Mu’azd Radhiyallahu anhu yang juga menyatakan kesetiannya.

 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa gembira mendengar ucapan para Shahabat ini. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ”Berangkatlah kalian dan berbahagialah karena sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah menjanjikanku salah satu dari kedua rombongan tersebut. Demi Allah Azza wa Jalla , seakan aku melihat kematian mereka sekarang.”

 

Dalam perjalanan ini, ada kisah menarik yang bisa dijadikan pelajaran bagi kaum Muslimin yang menginginkan kejayaan. Yaitu, ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pasukan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai di daerah berbatu al-Wabirah, seseorang musyrik menyusul mereka dan menyatakan kesiapannya bergabung berperang bersama pasukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Namun, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak serta merta menyambut uluran tangan si musyrik ini, meski beliau menyadari jumlah pasukan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedikit. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam terlebih dahulu bertanya : “Apakah kamu beriman kepada Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam ?” Orang itu menjawab : “Tidak.” Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Pulanglah kamu karena kami tidak akan meminta tolong kepada orang musyrik [HR. Muslim 3/1449-1450]

 

Kemudian orang itu berlalu. Ketika kami sampai di asy-Syajarah dia menyusul lagi dan menawarkan diri lagi untuk yang kedua kalinya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan tanggapan yang sama dengan yang pertama. Kemudian dia berlalu lagi. Ketika kami sampai di al-Baidâ’, orang itu menyusul lagi dan menawarkan diri lagi untuk yang ketiga. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengulangi pertanyaan beliau ketika orang ini menawarkan diri untuk pertama kalinya : “Apakah kamu beriman kepada Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam ?” Orang itu menjawab : “Ya.” Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan orang ini bergabung dengan pasukan kaum Muslimin.

 

Ketika Rasullulah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pasukannya sampai di dekat Safra` (suatu daerah di dekat Badar); beliau mengutus Basbas dan Ady bin Abi Zaghba` ke Badar. Keduanya disuruh mencari informasi tentang Abu Sufyan dan rombongan dagangnya. Dalam riwayat lainnya disebutkan bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakar Radhiyallahu anhu juga keluar untuk tujuan ini. Keduanya bertemu dengan seseorang yang sudah tua. Rasulullah bertanya kepadanya tentang pasukan Quraisy. Orang tua itu mau menjawab asalkan mereka berdua memberitahu dari mana asal mereka..? Keduanya setuju. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memintanya agar bercerita lebih dahulu. Orang itu menjelaskan bahwa ia mendengar berita tentang Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabatnya telah berangkat pada hari ini dan ini. Jika si pembawa berita itu benar, berarti mereka sekarang sudah sampai di tempat ini dan ini. Dan jika si pembawa berita tentang pasukan Quraisy juga jujur, berarti mereka sekarang berada di tempat ini dan ini.

 

Setelah menyelesaikan ceritanya, orang itu bertanya: “Dari mana kalian berdua ?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Kami berasal dari air”. Kemudian keduanya meninggalkan orang tua itu yang masih bertanya : “Dari air ? Apakah dari air Irak ?”

 

Sore harinya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Ali, Zubair, dan Sa`d Bin Abi Waqqash Radhiyallahu anhum beserta sekelompok Sahabat lainnya untuk mengumpulkan data-data tentang musuh. Di sekitar sumur Badar, rombongan ini menemukan dua orang yang bertugas mengambil air untuk pasukan Mekah. Mereka membawa dua orang ini ke Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang saat itu sedang shalat. Lantas mereka mulai mengorek keterangan dari keduanya. Dua orang ini mengakui bahwa mereka pemberi minum pada pasukan Mekah. Namun, para Sahabat tidak mempercayai mereka. Para Sahabat mengira keduanya adalah anak buah Abu Sufyan. Lalu mereka memukuli keduanya hingga mau mengaku bahwa mereka anak buah Abu Sufyan.

 

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai shalat, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan para Sahabatnya, karena mereka telah memukul keduanya saat jujur dan membiarkan mereka saat berdusta. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada keduanya tentang posisi pasukan Mekah. Mereka menjawab: “Mereka di belakang bukit di Udwatul Qushwa.”

 

Kemudian beliau bertanya tentang jumlah pasukan Mekah. Akan tetapi, dua orang ini tidak bisa menyebutkan jumlah pastinya, namun keduanya menyebutkan jumlah unta yang mereka sembelih setiap harinya, yaitu antara 9 sampai 10. Dari sini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyimpulkan bahwa jumlah mereka antara 900 – 1000 pasukan. Dua orang ini juga menyebutkan bahwa di antara pasukan itu ada beberapa tokoh Mekah. Dalam kitab Rahîqul Makhtûm disebutkan, Beliau bertanya dua orang ini, “Siapa sajakah pemuka Quraisy yang ikut?” Mereka menjawab, “Utbah dan Syaibah, keduanya anak Rabî`ah, Abul Bakhtari bin Hisyâm, Hakim bin Hizâm, Naufal bin Khuwailid, al-Hârits bin Amir, Thaîmah bin Adi, an-Nadhr bin Harits, Zam`ah bin al-Aswad, Abu Jahl bin Hisyam, Umayah bin Khalaf dan lainnya.” Rasululllah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata kepada para Sahabatnya: “Mekah telah mencampakkan para tokohnya ke hadapan kalian.” Lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan beberapa tempat yang akan menjadi tempat tewasnya beberapa tokoh Quraisy.

 

Malam itu Allah Azza wa Jalla menurunkan hujan untuk mensucikan kaum Muslimin dan meneguhkan telapak kaki mereka di atas bumi. Allah Azza wa Jalla jadikan hujan tersebut sebagai bencana yang besar bagi kaum Musyrikin.

 

“Dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan setan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kaki(mu)” (al-anfaal, 11)

 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa pasukannya mendekati mata air Badar mendahului orang-orang Musyrik agar musuh tidak bisa menguasai mata air. Saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah menentukan satu posisi, al-Habâb bin Mundzir Radhiyallahu anhu mengeluarkan pendapatnya, “Wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , bagaimanakah pendapat anda tentang posisi ini ? Apakah posisi ini diwahyukan oleh Allah Azza wa Jalla sehingga kita tidak boleh maju atau mundur ? Ataukah ini hanya pendapat, siasat dan takti perang saja”? Beliau menjawab: “Ini hanya pendapat, siasat dan taktik perang saja.” al-Habâb Radhiyallahu anhu mengatakan : “Wahai Rasulullah, posisi ini kurang tepat, bawalah orang-orang ini ke sumur yang paling dekat dengan posisi musuh. kita kuasai sumur itu lalu yang lainnya kita rusak. Kita membuat telaga besar lalu kita penuhi air. Kemudian baru kita perangi mereka, kita bisa minum sementara mereka tidak bisa.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada al-Habâb Radhiyallahu anhu , “Engkau telah menyampaikan pendapat yang jitu.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyetujuinya dan melakukannya.

Gambar 2. Strategi perang yang diusulkan Sahabat al-Habâb bin Mundzir Radhiyallahu anhu

Setelah melakukan semua persiapan fisik yang memungkinan untuk mewujudkan kemenangan di lapangan, malam itu beliau bertadarru` (memohon) kepada Allah Azza wa Jalla agar menolongnya.

 

Ya Allah Azza wa Jalla , penuhilah janji-Mu kepadaku. Ya Allah Azza wa Jalla berikanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah Azza wa Jalla , jika Engkau membinasakan pasukan Islam ini, maka tidak ada yang akan beribadah kepada-Mu di muka bumi ini. [HR. Muslim 3/1384 hadits no 1763]

 

Dalam riwayat ini juga disebutkan bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam terus bermunajat kepada Rabbnya hingga selendang beliau jatuh dari pundak. Abu Bakar Radhiyallahu anhu datang dan mengambil selendang tersebut kemudian meletakkan kembali di pundak beliau. Abu Bakar Radhiyallahu anhu berkata, “Wahai Nabi Allah Azza wa Jalla , sudah cukup engkau bermunajat kepada Rabbmu dan Allah Azza wa Jalla pasti akan memenuhi janji-Nya.” Kemudian turunlah firman Allah Azza wa Jalla :

 

“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu : “Sesungguhnya aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu Malaikat yang datang berturut-turut”. (Al-anfaal, 9)

Setelah itu Abu Bakar Radhiyallahu anhu memegang tangan beliau dan berkata, “Cukup wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , engkau telah berkali-kali memohon kepada Rabbmu”. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam segera mengambil baju besi dan terjun ke medan tempur seraya membaca firman Allah Azza wa Jalla :

 

“Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang”. (al-Qamar, 45)

 

Tepat pada tanggal 17 Ramadhan tahun 2 Hijriyah, Sejarah mencatat bagaimana kuasa Alloh berkerja kepada makhluk ciptaanNYA. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a : “Ya Allah Azza wa Jalla, kaum Quraisy telah datang dengan sombong dan penuh kecongkakan. Mereka menentang-Mu dan mendustakan Rasul-Mu. Ya Allah Azza wa Jalla , berilah pertolongan yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah Azza wa Jalla, binasakanlah mereka pagi ini!”

 

Setelah itu, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengobarkan semangat pasukan Muslimin. Imam Muslim meriwayatkan bahwa ketika kaum Quraisy sudah mendekat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Bangkitlah kalian menuju surga yang luasnya seperti luas langit dan bumi.”Mendengar ini, Umair bin Humam al-Anshâri Radhiyallahu anhu berkata, “Wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam! Apakah benar surga seluas langit dan bumi?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Benar.” Dengan penuh rasa kagum, Umair Radhiyallahu anhu berujar, “Wah.. wah!” Mendengar ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam balik bertanya : “Kenapa engkau berkata demikian?” Umair Radhiyallahu anhu menjawab, “Tidak, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Demi Allah, aku hanya berharap menjadi bagian dari penghuninya.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya engkau akan menjadi salah satu penghuninya.” Kemudian, Umair Radhiyallahu anhu mengeluarkan beberapa butir kurma dari kantong anak panahnya dan menyantapnya. Tidak lama kemudian, Umair Radhiyallahu anhu mengatakan, “Seandainya aku masih hidup sampai bisa menghabiskan kurma-kurma ini, maka itu adalah kehidupan yang sangat panjang.” Lalu ia melemparkan kurma-kurma itu, kemudian maju bertempur sampai akhirnya terbunuh.

 

#bersambung_insyaallah

Sumber: Shahih shirah nabawiyah

Yokohama, 30 Maret 2014

Hidayat Panuntun

Belajar dari kekurangan seorang yang buta

Akhirnya, setelah beberapa waktu tidak sempat menulis karena kesibukan yang cukup menegangkan (padahal biasa aja, hehehe).. aktivitas disini benar-benar berbeda dengan aktivitas saat masih di indonesia yang jam 4 sore sudah bersiap-siap untuk pulang ke rumah. Di sini, jam 4 sore masih terlalu pagi untuk pulang, teman-teman satu lab biasanya menyudahi kegiatan di lab setelah jam 9. Dan saya  pun terbawa dengan pola mereka.

Hmmm…tapi kali ini saya tidak mau membahas tentang itu.

Beberapa waktu yang lalu saya membaca link video youtube yang di share di wall FB saya. Video tentang seorang yang buta.
berikut adalah videonya:

Saya tidak akan menuliskan banyak hal, cukup video tersebut mewakili apa yang ingin saya sampaikan.
Nama pemuda yang sholih itu adalah Mu’adz. Pemuda yang istimewa.. Kenapa istimewa, karena dalam kebutaannya dia berhasil menghafalkan Al-quran (subhanallah..bagaimana dengan saya….astaghfirullah..T_T).
Mungkin, beberapa orang yang melihat video tersebut akan merasa sedih/iba karena dia adalah seseorang yang Allah mengambil nikmat penglihatan dari dirinya.

Tapi..kita tidak perlu merasa iba kepada pemuda itu..bahkan bagi pemuda itu, buta adalah nikmat yang diberikan Allah untuknya. Berikut saya cuplikan potongan kata-kata pemuda tersebut.

Penanya: Katanya anda suka bermain?

Pemuda: Alhamdulillah, Allah telah memberikan kepada ku nikmat dengan mengambil penglihatanku, subhanallah..alhamdulillah.. Dalam shalatku, aku sama sekali tidak pernah berdoa agar Allah mengembalikan penglihatanku..

Penanya: Anda tidak mau allah mengembalikan penglihatan anda..?? Mengapa..??

Pemuda: Agar aku dapat memohon ampun kepada Allah kelak dihari kiamat.. Hingga Allah akan meringankan sebagian adzabku (jika aku diadzab).. Kelak aku akan berdiri dihadapNYA..dalam keadaan bergetar dan ketakutan..Lalu DIA bertanya kepadaku, “apa yang telah kamu lakukan terhadap Al-quran..??”..Semoga Allah mau meringankan siksaanku, dan Allah merahmati siapapun yang kehendakinya..

Subhanallah..astaghfirullah..

Hujjah apa yang akan disampaikan oleh orang-orang yang diberi nikmat yang banyak oleh Allah tapi mereka tidak bersyukur…?????

Semoga bisa kita bisa mengambil ibrah dari seorang pemuda tersebut..

 

Kyoto, 13 April 2014

Hidayat Panuntun

Uwais Al-Qarni

Bagaimana menurut kalian, apabila ada seseorang yang mempunyai kedudukan yang sangat tinggi memuji-muji kalian..?? Bagaimana apabila presiden di suatu rapat di hadapan para menteri-menterinya memuji satu nama, dan nama itu adalah anda..bagaimana perasaan anda..?? Sudah tentu perasaan yang muncul adalah perasaan bangga, senang, dan mungkin ada rasa tidak percaya hingga mendapatkan pujian itu.

Lalu bagaimana jika yang memuji itu adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam…?? Tentu bakalan lebih girang lagi bukan.

Berikut adalah sebuah kisah bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seseorang dari hamba Alloh yang bahkan beliau belum pernah melihatnya sama sekali..Subhanallah..

 

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dia seorang penduduk Yaman, daerah Qarn, dan dari kabilah Murad. Ayahnya telah meninggal. Dia hidup bersama ibunya dan dia berbakti kepadanya. Dia pernah terkena penyakit kusta. Dia berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, lalu dia berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, lalu dia diberi kesembuhan, tetapi masih ada bekas sebesar dirham di kedua lengannya. Sungguh, dia adalah pemimpin para tabi’in.”

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, “Jika kamu bisa meminta kepadanya untuk memohonkan ampun (kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala) untukmu, maka lakukanlah!”

Ketika Umar radhiyallahu ‘anhu telah menjadi Amirul Mukminin, dia bertanya kepada para jamaah haji dari Yaman di Baitullah pada musim haji, “Apakah di antara warga kalian ada yang bernama Uwais al-Qarni?” “Ada,” jawab mereka.

Umar radhiyallahu ‘anhu melanjutkan, “Bagaimana keadaannya ketika kalian meninggalkannya?”

Mereka menjawab tanpa mengetahui derajat Uwais, “Kami meninggalkannya dalam keadaan miskin harta benda dan pakaiannya usang.”

Umar radhiyallahu ‘anhu berkata kepada mereka, “Celakalah kalian. Sungguh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bercerita tentangnya. Kalau dia bisa memohonkan ampun untuk kalian, lakukanlah!”

Dan setiap tahun Umar radhiyallahu ‘anhu selalu menanti Uwais. Dan kebetulan suatu kali dia datang bersama jemaah haji dari Yaman, lalu Umar radhiyallahu ‘anhumenemuinya. Dia hendak memastikannya terlebih dahulu, makanya dia bertanya, “Siapa namamu?”

“Uwais,” jawabnya.

Umar radhiyallahu ‘anhu melanjutkan, “Di Yaman daerah mana?’

Dia menjawab, “Dari Qarn.”

“Tepatnya dari kabilah mana?” Tanya Umar radhiyallahu ‘anhu.

Dia menjawab, “Dari kabilah Murad.”

Umar radhiyallahu ‘anhu bertanya lagi, “Bagaimana ayahmu?”

“Ayahku telah meninggal dunia. Saya hidup bersama ibuku,” jawabnya.

Umar radhiyallahu ‘anhu melanjutkan, “Bagaimana keadaanmu bersama ibumu?’

Uwais berkata, “Saya berharap dapat berbakti kepadanya.”

“Apakah engkau pernah sakit sebelumnya?” lanjut Umar radhiyallahu ‘anhu.

“Iya. Saya pernah terkena penyakit kusta, lalu saya berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga saya diberi kesembuhan.”

Umar radhiyallahu ‘anhu bertanya lagi, “Apakah masih ada bekas dari penyakit tersebut?”

Dia menjawab, “Iya. Di lenganku masih ada bekas sebesar dirham.” Dia memperlihatkan lengannya kepada Umar radhiyallahu ‘anhu. Ketika Umarradhiyallahu ‘anhu melihat hal tersebut, maka dia langsung memeluknya seraya berkata, “Engkaulah orang yang diceritakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mohonkanlah ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untukku!”

Dia berkata, “Masa saya memohonkan ampun untukmu wahai Amirul Mukminin?”

Umar radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Iya.”

Umar radhiyallahu ‘anhu meminta dengan terus mendesak kepadanya sehingga Uwais memohonkan ampun untuknya.

Selanjutnya Umar radhiyallahu ‘anhu bertanya kepadanya mengenai ke mana arah tujuannya setelah musim haji. Dia menjawab, “Saya akan pergi ke kabilah Murad dari penduduk Yaman ke Irak.”

Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Saya akan kirim surat ke walikota Irak mengenai kamu?”

Uwais berkata, “Saya bersumpah kepada Anda wahai Amriul Mukminin agar engkau tidak melakukannya. Biarkanlah saya berjalan di tengah lalu lalang banyak orang tanpa dipedulikan orang.”

(Sumber: Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah, Pustaka Arafah Cetakan 1)

Kyoto, 17 Maret 2014

Hidayat Panuntun

 

Ini adalah contoh manusia yang pintar

Jika ada pertanyaan yang diajukan untuk kalian semua, pertanyaan yang sangat simpel, mudah dijawab. Begini pertanyaannya, Siapakah yang paling pintar dan paling bermanfaat ilmunya, antara Einstein, Sir Isaac Newton, dan Amr ‘ibnu Jamuh…? Kira-kira apa yang jawaban anda..?

Siapa yang tidak kenal dengan Einstein..? Seorang fisikawan modern yang telah menemukan sebuah teori relativitas yang mashur hingga kini. Fisikawan yang terkenal dengan rumus E=mc2 nya. Siapa juga yang tidak kenal dengan Newton, seorang yang dianggap sebagai peletak dasar gravitasi dengan kisah apel yang sangat terkenal di anak-anak SD.

Bagaimana dengan nama terakhir..???

Saya yakin tidak semua orang mengenal nama terakhir yang saya tulis tersebut, bahkan boleh dikatakan hanya sedikit sekali yang mengenal nama itu. Memang benar, nama ini tidak pernah kita dengarkan pada saat pelajaran ilmu-ilmu dasar di SD dulu, tidak seperti dua nama yang saya sebut sebelumnya yang sangat sering disebut saat mempelajari IPA di sekolah.

Silahkan berpikir 1 menit untuk menebak siapa manusia ini..ilmu apa yang dia miliki..manfaat apa yang diperoleh dari ilmu itu..

Sudah… Sudah ada bayangan siapa nama terakhir yang saya sebutkan tersebut…????

Baiklah, akan saya bantu untuk mendeskripsikan nama terakhir..

Ia adalah ipar dari Abdullah bin Amr bin Haram, karena menjadi suami dari saudara perempuan Hindun binti ‘Amara Ibnul Jamuh merupakan salah seorang tokoh penduduk Madinah dan salah seorang pemimpin Bani Salamah. Ia didahului masuk Islam oleh putranya Mu’adz bin Amr yang termasuk kelompok 70 peserta bai’at ‘Aqabah. Bersama shahabatnya Mu’adz bin Jabal, Mu’adz bin Amr ini menyebarkan Agama Islam di kalangan penduduk Madinah dengan keberanian luar biasa sebagai layaknya pemuda Mu’min yang gagah.

Saya yakin sekarang anda sudah punya bayangan siapakah orang terakhir yang namanya saya sebutkan tadi.

Dan tahukah anda jawaban yang paling betul dari pertanyaan diatas…??? Ya, Amr ibnul Jamuh adalah jawaban yang paling tepat. Mengapa…??? Mari kita ikuti kisahnya,

Telah menjadi kebiasaan bagi golongan bangsawan di Madi­nah, menyediakan di rumah masing-masing duplikat berhala­ berhala besar yang terdapat di tempat-tempat pemujaan umum yang dikunjungi oleh orang banyak. Maka sesuai dengan ke­dudukannya sebagai seorang bangsawan dan pemimpin, Amr bin Jamuh juga mendirikan berhala di rumahnya yang dinamakan Manaf.

Putranya, Mu’adz bin Amr bersama temannya Mu’adz bin Jabal telah bermufakat akan menjadikan berhala di rumah bapaknya itu sebagai barang permainan dan penghinaan. Di waktu malam mereka menyelinap ke dalam rumah, lalu meng­ambil berhala itu dan membuangnya ke dalam lobang yang biasa digunakan manusia untuk membuang hajatnya. Pagi harinya Amr tidak melihat Manaf berada di tempatnya yang biasa, maka dicarinyalah berhala itu dan akhirnya ditemu­kannya di tempat pembuangan hajat. Bukan main marahnya Amr, lalu bentaknya: “Keparat siapa yang telah melakukan perbuatan durhaka terhadap tuhan-tuhan kita malam tadi . . . ?” Kemudian dicuci dan dibersihkannya berhala itu dan diberinya wangi-wangian.

Malam berikutnya, berdua Mu’adz bin Amr dan Mu’adz bin Jabal memperlakukan berhala itu seperti pada malam se­belumnya. Demikianlah pula pada malam-malam selanjutnya. Dan akhirnya setelah merasa bosan, Amar mengambil pedangnya lalu menaruhnya di leher Manaf, sambil berkata: “Jika kamu betul-betul dapat memberikan kebaikan, berusahalah untuk mempertahankan dirimu … !”

Pagi-pagi keesokan harinya Amr tidak menemukan berhala­nya di tempat biasa … tetapi ditemukannya kali ini di tempat pembuangan hajat itu tidak sendirian, berhala itu terikat bersama bangkai seekor anjing dengan tali yang kuat. Dan selagi ia dalam keheranan, kekecewaan serta amarah, tiba-tiba datanglah ke tempatnya itu beberapa orang bangsawan Madinah yang telah masuk Islam. Sambil menunjuk kepada berhala yang tergeletak tidak berdaya dan terikat pada bangkai anjing itu, mereka meng­ajak akal budi dan hati nurani Amr bin Jamuh untuk berdialog serta membeberkan kepadanya perihal Tuhan yang sesungguh­nya, Yang Maha Agung lagi.

Maha Tinggi, yang tidak satupun yang menyamai-Nya. Begitupun tentang Muhammad saw. orang yang jujur dan terpercaya, yang muncul di arena kehidupan ini untuk memberi bukan untuk menerima, untuk memberi petunjuk dan bukan untuk menyesatkan. Dan mengenai Agama Islam yang datang untuk membebaskan manusia dari belenggu,  segala macam belenggu  dan menghidupkan pada mereka ruh Allah serta menerangi dalam hati mereka dengan cahaya-Nya.

Maka dalam beberapa saat, Amr telah menemukan diri dan harapannya . . . . Beberapa saat kemudian ia pergi, dibersihkan­nya pakaian dan badannya lalu memakai minyak wangi dan merapikan diri, kemudian dengan kening tegak dan jiwa bersinar ia pergi untuk bai’at kepada Nabi terakhir, dan menempati kedudukannya di barisan orang-orang beriman.

Subhanallah.. Sesungguhnya manusia yang paling beruntung itu adalah manusia yang dengan ilmu yang dikuasainya bisa menyebabkan datangnya hidayah dari Allah. Manusia yang dengan ilmu yang dikuasainya menyebabkan dia bertambah takut kepada Allah, bertambah yakin bahwa Allah lah Rabb Pemilik Alam semesta. Sungguh betapa banyaknya ilmuan, filsuf, pemikir yang telah Alloh benamkan dalam kesesatan meskipun mereka menguasai ilmu yang lebih banyak dibandingkan yang lain.

Sebagai contoh dapat kita kemukakan di sini, Athena. Yakni Athena di masa Perikles, Pythagoras dan Socrates! Athena yang telah mencapai tingkat berfikir yang menakjubkan, tetapi seluruh penduduknya, baik para filosof, tokoh-tokoh pemerintahan sampai kepada rakyat biasa, mempercayai patung-patung yang dipahat, dan memujanya sampai taraf yang amat hina dan memalukan. Bagaimana mungkin kaum pemikir bisa sampai mempercayai patung-patung yang mereka pahat sendiri dan menyembahnya sebagai dewa, Na’udzubillah tsuma na’udzubillah.

Sekarang mari kita saksikan bagaimana ilmu yang telah diperoleh Amr ibnu Jamuh ini mengantarkannya kepada syurga firdaus, surga tertinggi dambaan kaum muslimin.

Amr telah berketetapan hati dan telah menyiapkan per­alatannya untuk turut dalam perang Badar, tetapi putra-putranya memohon kepada Nabi agar ia mengurungkan maksudnya dengan kesadaran sendiri, atau bila terpaksa dengan larangan dari Nabi. Nabi pun menyampaikan kepada Amr bahwa Islam membebas­kan dirinya dari kewajiban perang, dengan alasan ketidak mampu­an disebabkan cacad kakinya yang berat itu. Tetapi ia tetap mendesak dan minta diizinkan, hingga Rasulullah terpaksa mengeluarkan perintah agar ia tetap tinggal di Madinah.

Sekarang datanglah saatnya perang Uhud. Amr lalu pergi menemui Nabi saw. memohon kepadanya agar diizinkan turut, katanya: “Ya Rasulallah, putra-putraku bermaksud hendak menghalangiku pergi bertempur bersama anda. Demi Allah, aku amat berharap kiranya dengan kepincanganku ini aku dapat merebut surga .. . !”

Karena permintaannya yang amat sangat, Nabi saw. mem­berinya izin untuk turut. Maka diambilnya alat-alat senjatanya, dan dengan hati yang diliputi oleh rasa puas dan gembira, ia berjalan berjingkat-jingkat. Dan dengan suara beriba-iba ia memohon kepada Allah: “Ya Allah, berilah aku kesempatan untuk menemui syahid, dan janganlah aku dikembalikan kepada keluargaku . . . !”

Dan kedua pasukan pun bertemulah di hari Uhud itu …Amr ibnul Jamuh bersama keempat putranya maju ke depan me­nebaskan pedangnya kepada tentara penyebar kesesatan dan pasukan syirik . . . .

Di tengah-tengah pertarungan yang hiruk pikuk itu Amr melompat dan berjingkat, dan sekali lompat pedangnya me­nyambar satu kepala dari kepala-kepala orang musyrik. la terus melepaskan pukulan-pukulan pedangnya ke kiri ke kanan dengan tangan kanannya, sambil menengok ke sekelilingnya, seolah-olah mengharapkan kedatangan Malaikat dengan secepatnya yang akan menemani dan mengawalnya masuk surga.

Memang, ia telah memohon kepada Tuhannya agar diberi syahid, dan ia yakin bahwa Allah swt. pastilah akan mengabul­kannya. Dan ia rindu, amat rindu sekali akan berjingkat dengan kakinya yang pincang itu dalam surga, agar ahli surga itu sama mengetahui bahwa Muhammad Rasulullah saw. itu tahu bagai­mana caranya memilih shahabat dan bagaimana Pula mendidik dan menempa manusia ….

Dan saat yang ditunggu-tunggunya itu pun tibalah, suatu pukulan pedang yang berkelebat  . . , memaklumkan datangnya saat keberangkatan . . . , yakni keberangkatan seorang syahid yang mulia, menuju surga jannatul khuldi, surga Firdausi yang abadi … !

Dan tatkala Kaum Muslimin memakamkan para syuhada mereka,Rasulullah saw. mengeluarkan perintah yang telah kita dengar dulu, yaitu:

“Perhatikan, tanamkanlah jasad Abdullah bin Amr bin Haram dan Amr ibnul Jamuh di makam yang satu, karena selagi hidup mereka adalah dua orang shahabat yang setia dan bersayang-sayangan … !”

Kedua shahabat yang bersayang-sayangan dan telah menemui syahid itu dikuburkan dalam sebuah makam, yakni dalam pang­kuan tanah yang menyambut jasad mereka yang suci, setelah menyaksikan kepahlawanan mereka yang luar biasa.

Dan setelah berlalu masa selama 46 tahun di pemakaman dan penyatuan mereka, datanglah banjir besar yang melanda dan menggenangi tanah pekuburan, disebabkan digalinya sebuah mata air yang dialirkan Mu’awiyah melalui tempat itu. Kaum Muslimin pun segera memindahkan kerangka para syuhada. Kiranya mereka sebagai dilukiskan oleh orang-orang yang ikut memindahkan mereka: “Jasad mereka menjadi lembut, dan ujung-ujung anggota tubuh mereka jadi melengkung … !”

Ketika itu Jabir bin Abdullah masih hidup. Maka bersama keluarganya ia pergi memindahkan kerangka bapaknya Abdullah bin Amr bin Haram serta kerangka bapak kecilnya Amr ibnul Jamuh …. Kiranya mereka dapati kedua mereka dalam kubur seolah-olah sedang tidur nyenyak . . . . Tak sedikit pun tubuh mereka dimakan tanah, dan dari kedua bibir masing-masing belum hilang senyuman manis alamat ridla dan bangga yang telah terlukis semenjak mereka dipanggil untuk menemui Allah dulu….

Apakah anda sekalian merasa heran . . . ? Tidak, jangan tuan-tuan merasa heran . . . ! Karena jiwa-jiwa besar yang suci lagi bertaqwa, yang mampu mengendalikan arah tujuan hidupnya, membuat tubuh-tubuh kasar yang menjadi tempat kediam­annya, memiliki semacam ketahanan yang dapat menangkis sebab-sebab kelapukan dan mengatasi bencana-bencana tanah….

 

Sekarang, apakah jawaban saya masih anda ragukan kebenarannya…???

Kyoto, 15 Maret 2014

Hidayat Panuntun

 

Pelajaran dari kisah Nabi Ibrahim

Akhir-akhir ini, istri sering sekali mendengarkan muratal syeikh Mishari Rashid al-`Afasy. Surat yang paling sering diputar akhir-akhir ini adalah Surat Ibrahim, surat ke 14  dari kitabullah Al-quran. Saya yang ada di sebelahnya pun otomatis menjadi ikut sering mendengarkan qiraat dari syeikh Mishari tersebut. Suara beliau sungguh luar biasa indahnya, enak didengarkan, (tapi tidak membuat kantuk, hehehe). Bagaikan suara kicau burung yang indah.

Tapi artikel ini tidak akan membahas tentang keindahan suara syeikh mishari, bagaimana beliau bisa mendapatkan suara tersebut, atau pun bagaimana kita bisa seperti beliau. Saya lebih suka menulis tentang salah satu ayat yang ada pada surat ibrahim tersebut, yaitu ayat ke 37 yang terjemahannya adalah sebagai berikut :

Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur (Ibrahim, 37)

Mari kita dengarkan penuturan salah satu sahabat nabi, Ibnu Abbas ra, menceritakan bagaimana indahnya kisah tersebut. Kisah tentang Bapak, anak, dan istrinya. Kisah tentang Ibrahim, anaknya ismail, dan istrinya Hajar. Kisah yang bertempat di belahan bumi paling suci di muka bumi, yang terdapat Baitul Haram. Di sanalah kaum muslimin berhaji. Di sanalah mereka menghadap dalam shalat. Di sanalah wahyu turun kepada Ismail dan orang setelahnya, yaitu Rasul termulia Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Salam.

Ini adalah kisah yang panjang dan alurnya mengalir jelas.  Peristiwanya gambling, yang menceritakan tentang bapak kita Ismail bin Khalilullah Ibrahim ‘Alayhi Salam dan tentang ibu kita Hajar Ummu Ismail. Semua orang Arab adalah eturunan Ismail. Ada yang menyatakan bahwa sebagian orang Arab berasal dari asal-usul Arab kuno yang bukan anak keturunan Ismail. Ibu kita Hajar adalah wanita Mesir yang dihadiahkan oleh penguasa dzalim Mesir kepada Sarah dalam sebuah kisah yang akan disebutkan selanjutnya.

Takdir Allah menetapkan bahwa Nabi Ibrahim tidak mempunyai anak kecuali dia sudah dalam keadaan tua. Manakala Ibrahim belum kunjung dikaruniai anak dari istrinya, Sarah, maka Sarah memberikan hamba sahayanya, Hajar, kepada Ibrahim untuk dinikahi dengan harapan bahwa darinya Allah akan memberi anak. Hajar pun hamil dan melahirkan Ismail di bumi yang penuh berkah, Palestina.

Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa. (Ibrahim, 39)

Sifat manusiawi Sarah pun muncul, dan ini memang tidak bisa dipersalahkan. Sarah akhirnya cemburu kepada Hajar. Hal tersebut bukan menunjukkan kejelekan dari Sarah, tapi memang seperti itulah fitrah seorang wanita didunia. Bahkan istri-istri Rasulullah pun pernah saling cemburu. Allah pun memerintahkan Ibrahim agar pindah bersama Hajar dan Ismail kecil yang masih dalam susuan ibunya. Allah memerintahkan Ibrahim ke tempat jauh yang tidak bisa dijangkau oleh kendaraan kecuali dengan kelelahan jiwa. Daerah padang pasir yang tandus dan luas tanpa ada orang yang ada disekitarnya.

Ini adalah perkara yang mungkin sulit dan berat bagi Ibrahim yang sudah tua, yang diberi anak Ismail dalam usia lanjut. Bisa kita bayangkan, setelah sekian lama menanti kelahiran seorang anak, setelah diberi anugrah seorang anak kemudian diuji dengan perintah untuk menjauhkannya. Perkaranya bertambah sulit manakala Ibrahim meletakkan belahan jiwanya dan ibunya di tempat yang sepi tanpa air, tanpa makanan dan tanpa penduduk.

Ibrahim membawa Ismail kecil, dan ibunya dari tanah yang penuh berkah dengan udaranya yang sejuk, kebunnya yang hijau, airnya yang mengalir ke lembah itu, dan kemudian meletakkan keduanya di bawah pohon pada suatu padang pasir yang tandus. Kemudian Ibrahim segera meninggalkan mereka di tempat itu tanpa membuatkan rumah, mencari orang yang bersedia tinggal di sisinya.

Hajar pun kemudian berkata kepada suaminya, Ibrahim, “Engkau membiarkan kami dan pergi begitu saja..??”. Ibrahim pun berlalu tanpa menoleh dan menjawab pertanyaan dari ibu Ismail tersebut. Hajar mengulang pertanyaan itu berkali-kali sementara Ibrahim tidak menjawabnya sedikitpun. Ini adalah perintah Allah, dan perintah Allah tidak boleh dibantah. Inilah Islam di mana Ibrahim membawa dirinya kepadanya.

“Ketika Tuhannya berfirman kepadanya, ‘Tunduk patuhlah!’ Ibrahim menjawab, ‘Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam.” (QS. Al-Baqarah: 131)

Ketika hajar merasa gagal mendapatkan jawaban atas pertanyaannya tersebut, dia kemudia merubah pertanyaannya, “Apakah Allah yang memerintahkanmu untuk melakukan ini..??”. Barulah kemudian ibrahim menjawab, “Iya, Allah lah yang memerintahkan aku untuk melakukan ini”. Kemudian Hajar pun tersenyum lega dan menjawab, “Kalau memang demikian, Dia tidak akan mengabaikan kami.”, kemudian Hajar pun kembali kepada anaknya, Ismail. Sang Bapak ini pun kemudian berjalan sampai kesuatu bukit dimana mereka tidak bisa melihatnya. Kemudian beliau menghadapkan wajahnya ke Baitullah, lalu berdoa dengan beberapa kalimat seraya mengangkat kedua tangannya dan mengucapkan,

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam tanaman di dekat rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berikanlah rizki kepada mereka dari buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim: 37)

Sungguh indah doa Ibrahim kepada keluarga yang baru saja beliau tinggal di bawah pohon di padang pasir yang luas. Ibrahim menyerahkan semua urusannya kepada Rabb Yang Mengatur Segala Sesuatu, Rabb Yang tidak pernah menyalahi janji, Rabb yang maha penyayang.

Hajar menyusui Ismail dan meminum dari air yang berada di dalam kantong kulit. Berhari-hari hajar dan ismail kecil tinggal di lembah tersebut. Semakin lama, perbekalan mereka pun habis. Air sudah habis, ia merasa kehausan, demikian pula putranya, Ismali kecil, yang menangis kehausan. Ia pun pergi karena tidak tega melihatnya. Hingga ia menemukan Shafa, bukit yang paling dekat dengannya. Maka ia berdiri di atasnya, menghadap ke lembah sambil melihat-lihat adakah seseorang, tetapi dia tidak melihat seorang pun. Setelah turun dari Shafa, ia sampai di lembah, ia mengangkat ujung bajunya dan berusaha keras seperti orang yang berjuang mati-matian, hingga berhasil melewati lembah. Lalu dia mendatangi bukit yang lain, Marwah, berdiri di atasnya sembari melihat apakah ada seseorang yang dapat dilihatnya, tetapi dia tetap tidak melihat seorang pun. Dia melakukan hal itu sebanyak tujuh kali.”

Pada saat dia mondar-mandir itu, dia menyempatkan diri menengok anaknya, untuk menghilangkan rasa cemas dan mengetahui keadaannya. Kemudian dia meneruskan mondar-mandir. Inilah sa’i pertama di antara bukit Shafa dan Marwah. Dan sa’i yang pertama kali dilakukan oleh Hajar ini menjadi salah satu syiar ibadah haji dan umrah.

“Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya.” (QS. Al-Baqarah:158)

Setelah tujuh kali berputar-putar antara bukit shafa dan marwah, Hajar pun mendengar suara. Dia mencermatinya. Dia berkata kepada dirinya, “Diamlah.” Sepertinya dia ingin agar bisa mendengar sejauh mungkin. Ternyata suara itu terdengar oleh telinganya untuk kedua kalinya. Dia berkata kepada sumber suara itu, “Aku telah mendengar suaramu, jika kamu berkenan untuk menolong.” Dia meneliti sumber suara itu. Dia melihat, ternyata suara itu berasal dari putranya. Ternyata Malaikat Allah, Jibril, sedang memukulkan tumitnya atau sayapnya ke tanah di tempat Zamzam. Air
pun memancar. Ia menciduk dan memasukkan air itu ke kantongnya. Air itu terusmengalir deras setelah ia menciduknya.” Karena didorong rasa ingin memanfaatkan air tersebut, Hajar pun membendung air Zamzam tersebut.

Ibnu Abbas mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda, “Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada ibu Ismail, jika saja ia membiarkan Zamzam.” Atau beliau bersabda, ”Seandainya ia tidak menciduk airnya, niscaya Zamzam menjadi mata air yang mengalir.”

Lebih lanjut, Ibnu Abbas mengatakan bahwa kemudian ia meminum air itu dan menyusui anaknya. Lalu Malaikat berkata kepadanya, “Janganlah engkau khawatir akan disia-siakan, karena di sini terdapat sebuah rumah Allah yang akan dibangun oleh anak ini dan bapaknya. Dan sesungguhnya Allah tidak akan menelantarkan penduduknya.” Posisi rumah Allah itu terletak lebih tinggi dari permukaan bumi, seperti sebuah anak bukit yang diterpa banjir sehingga mengikis bagian kiri dan kanannya.

Allah menyempurnakan nikmat kepada Ismail dan ibunya. Maka datanglah orang-orang ke lembah itu untuk menetap. Ibu dan Ismail pun mulai kerasan. Keterasingan sedikit demi sedikit mulai lenyap. Mereka mulai menetap di lembah itu setelah takjub melihat air yang memancar di padang pasir yang tandus. Mereka takjub dan meminta ibu Ismail agar mengizinkan mereka untuk tinggal bersamanya. Ibu Ismail setuju, dengan syarat bahwa mereka tidak berhak terhadap air. Mereka hanya boleh minum. Mata air tetap menjadi hak ibu dan Ismail. Maka mereka mendatangkan keluarga mereka dan tinggal bersama ibu Ismail.

Perhatikanlah bagaimana seseorang yang yakin betul dengan penjagaan dan perlindungan dari Alloh. Ibu Ismail tidak ragu sedikitpun mengucapkan bahwa mereka tidak akan diterlantarkan karena sang bapak melakukan perintah dari Alloh. Dan ternyata persangkaan Ibu Ismail tepat. Bahkan tempat tersebut sekarang dikunjungi oleh jutaan umat muslim dari segala penjuru untuk melaksanakan ibadah haji.

Melaksanakan perintah Alloh itu jelas akan mendatangkan kebaikan, kebahagiaan dan kemuliaan bagi yang melakukannya. Kita tidak akan pernah tahu seperti apa takdir yang telah ditetapkan untuk kita. Tugas kita adalah berusaha dengan sungguh-sungguh, berdoa, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Alloh Rabb Pencipta Langit. Sebagaimana yang dilakukan Ibu Ismail saat melihat Ismail kecil menangis merengek-rengek kerena kehausan, yang dilakukan Ibu Ismail adalah berusaha dengan sangat keras untuk mencarikan sumber makanan untuk anaknya. Hal tersebut dibuktikan dengan Ibu Ismail berlari hingga 7 kali bolak-balik dari bukit shafa menuju bukit marwah. Hingga pada akhirnya pertolongan Alloh pun datang di tengah-tengah kesulitan Ibu ismail mencari air.

Semoga kita bisa belajar dari kisah Nabi kita, Bapak para Nabi, Ibrahim as.

Kyoto, 14 Maret 2014

Hidayat Panuntun

Karena engkau berdoa kepada Dzat Yang Maha Mendengar

Terharu saat membaca cerita ini.

Benar-benar takjud dengan ini,

Bagaimana kuasa Alloh berlaku kepada seorang hamba,

Bagaimana seorang istri yang tetap taat kepada suaminya,

Bagaimana seorang anak yang sholehah yang doanya di dengar oleh Alloh dari atas langit ke tujuh.

Mari kita sama-sama simak sebuah cerita yang benar-benar terjadi di bumi Arab, semoga bisa menjadi pelajaran, untuk ku, keluargaku dan seluruh umat muslim di seluruh dunia.

Kisah ini dituturkan oleh seorang istri yang menceritakan tentang kisah suaminya pada tahun 1415 H, ia berkata :

Suamiku adalah seorang pemuda yang gagah, semangat, rajin, tampan, berakhlak mulia, taat beragama, dan berbakti kepada kedua orang tuanya. Ia menikahiku pada tahun 1390 H. Aku tinggal bersamanya (di kota Riyadh) di rumah ayahnya sebagaimana tradisi keluarga-keluarga Arab Saudi. Aku takjub dan kagum dengan baktinya kepada kedua orang tuanya. Aku bersyukur dan memuji Allah yang telah menganugerahkan kepadaku suamiku ini. Kamipun dikaruniai seorang putri setelah setahun pernikahan kami.

Lalu suamiku pindah kerjaan di daerah timur Arab Saudi. Sehingga ia berangkat kerja selama seminggu (di tempat kerjanya) dan pulang tinggal bersama kami seminggu. Hingga akhirnya setelah 3 tahun, dan putriku telah berusia 4 tahun… Pada suatu hari yaitu tanggal 9 Ramadhan tahun 1395 H tatkala ia dalam perjalanan dari kota kerjanya menuju rumah kami di Riyadh ia mengalami kecelakaan, mobilnya terbalik. Akibatnya ia dimasukkan ke Rumah Sakit, ia dalam keadaan koma. Setelah itu para dokter spesialis mengabarkan kepada kami bahwasanya ia mengalami kelumpuhan otak. 95 persen organ otaknya telah rusak. Kejadian ini sangatlah menyedihkan kami, terlebih lagi kedua orang tuanya lanjut usia. Dan semakin menambah kesedihanku adalah pertanyaan putri kami (Asmaa’) tentang ayahnya yang sangat ia rindukan kedatangannya. Ayahnya telah berjanji membelikan mainan yang disenanginya…

Kami senantiasa bergantian menjenguknya di Rumah Sakit, dan ia tetap dalam kondisinya, tidak ada perubahan sama sekali. Setelah lima tahun berlalu, sebagian orang menyarankan kepadaku agar aku cerai darinya melalui pengadilan, karena suamiku telah mati otaknya, dan tidak bisa diharapkan lagi kesembuhannya. Yang berfatwa demikian sebagian syaikh -aku tidak ingat lagi nama mereka- yaitu bolehnya aku cerai dari suamiku jika memang benar otaknya telah mati. Akan tetapi aku menolaknya, benar-benar aku menolak anjuran tersebut.

Aku tidak akan cerai darinya selama ia masih ada di atas muka bumi ini. Ia dikuburkan sebagaimana mayat-mayat yang lain atau mereka membiarkannya tetap menjadi suamiku hingga Allah melakukan apa yang Allah kehendaki.

Akupun memfokuskan konsentrasiku untuk mentarbiyah putri kecilku. Aku memasukannya ke sekolah tahfiz al-Quran hingga akhirnya iapun menghafal al-Qur’an padahal umurnya kurang dari 10 tahun. Dan aku telah mengabarkannya tentang kondisi ayahnya yang sesungguhnya. Putriku terkadang menangis tatkala mengingat ayahnya, dan terkadang hanya diam membisu.

Putriku adalah seorang yang taat beragama, ia senantiasa sholat pada waktunya, ia sholat di penghujung malam padahal sejak umurnya belum 7 tahun. Aku memuji Allah yang telah memberi taufiq kepadaku dalam mentarbiyah putriku, demikian juga neneknya yang sangat sayang dan dekat dengannya, demikian juga kakeknya rahimahullah.

Putriku pergi bersamaku untuk menjenguk ayahnya, ia meruqyah ayahnya, dan juga bersedekah untuk kesembuhan ayahnya.
Pada suatu hari di tahun 1410 H, putriku berkata kepadaku : Ummi biarkanlah aku malam ini tidur bersama ayahku…
Setelah keraguan menyelimutiku akhirnya akupun mengizinkannya.
Putriku bercerita :

Aku duduk di samping ayah, aku membaca surat Al-Baqoroh hingga selesai. Lalu rasa kantukpun menguasaiku, akupun tertidur. Aku mendapati seakan-akan ada ketenangan dalam hatiku, akupun bangun dari tidurku lalu aku berwudhu dan sholat –sesuai yang Allah tetapkan untukku-.

Lalu sekali lagi akupun dikuasai oleh rasa kantuk, sedangkan aku masih di tempat sholatku. Seakan-akan ada seseorang yang berkata kepadaku, “Bangunlah…!!, bagaimana engkau tidur sementara Ar-Rohmaan (Allah) terjaga??, bagaimana engkau tidur sementara ini adalah waktu dikabulkannya doa, Allah tidak akan menolak doa seorang hamba di waktu ini??”

Akupun bangun…seakan-akan aku mengingat sesuatu yang terlupakan…lalu akupun mengangkat kedua tanganku (untuk berdoa), dan aku memandangi ayahku –sementara kedua mataku berlinang air mata-. Aku berkata dalam do’aku, “Yaa Robku, Yaa Hayyu (Yang Maha Hidup)…Yaa ‘Adziim (Yang Maha Agung).., Yaa Jabbaar (Yang Maha Kuasa)…, Yaa Kabiir (Yang Maha Besar)…, Yaa Mut’aal (Yang Maha Tinggi)…, Yaa Rohmaan (Yang Maha Pengasih)…, Yaa Rohiim (Yang Maha Penyayang)…, ini adalah ayahku, seorang hamba dari hamba-hambaMu, ia telah ditimpa penderitaan dan kami telah bersabar, kami Memuji Engkau…, kemi beriman dengan keputusan dan ketetapanMu baginya…

Ya Allah…, sesungguhnya ia berada dibawah kehendakMu dan kasih sayangMu.., Wahai Engkau yang telah menyembuhkan nabi Ayyub dari penderitaannya, dan telah mengembalikan nabi Musa kepada ibunya…Yang telah menyelamatkan Nabi Yuunus dari perut ikan paus, Engkau Yang telah menjadikan api menjadi dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim…sembuhkanlah ayahku dari penderitaannya…

Ya Allah…sesungguhnya mereka telah menyangka bahwasanya ia tidak mungkin lagi sembuh…Ya Allah milikMu-lah kekuasaan dan keagungan, sayangilah ayahku, angkatlah penderitaannya…”

Lalu rasa kantukpun menguasaiku, hingga akupun tertidur sebelum subuh.

Tiba-tiba ada suara lirih menyeru.., “Siapa engkau?, apa yang kau lakukan di sini?”. Akupun bangun karena suara tersebut, lalu aku menengok ke kanan dan ke kiri, namun aku tidak melihat seorangpun. Lalu aku kembali lagi melihat ke kanan dan ke kiri…, ternyata yang bersuara tersebut adalah ayahku…

Maka akupun tak kuasa menahan diriku, lalu akupun bangun dan memeluknya karena gembira dan bahagia…, sementara ayahku berusaha menjauhkan aku darinya dan beristighfar. Ia barkata, “Ittaqillah…(Takutlah engkau kepada Allah….), engkau tidak halal bagiku…!”. Maka aku berkata kepadanya, “Aku ini putrimu Asmaa'”. Maka ayahkupun terdiam. Lalu akupun keluar untuk segera mengabarkan para dokter. Merekapun segera datang, tatkala mereka melihat apa yang terjadi merekapun keheranan.

Salah seorang dokter Amerika berkata –dengan bahasa Arab yang tidak fasih- : “Subhaanallahu…”. Dokter yang lain dari Mesir berkata, “Maha suci Allah Yang telah menghidupkan kembali tulang belulang yang telah kering…”. Sementara ayahku tidak mengetahui apa yang telah terjadi, hingga akhirnya kami mengabarkan kepadanya. Iapun menangis…dan berkata, اللهُ خُيْرًا حًافِظًا وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِيْنَ Sungguh Allah adalah Penjaga Yang terbaik, dan Dialah yang Melindungi orang-orang sholeh…, demi Allah tidak ada yang kuingat sebelum kecelakaan kecuali sebelum terjadinya kecelakaan aku berniat untuk berhenti melaksanakan sholat dhuha, aku tidak tahu apakah aku jadi mengerjakan sholat duha atau tidak..??

Sang istri berkata : Maka suamiku Abu Asmaa’ akhirnya kembali lagi bagi kami sebagaimana biasnya yang aku mengenalinya, sementara usianya hampir 46 tahun. Lalu setelah itu kamipun dianugerahi seorang putra, Alhamdulillah sekarang umurnya sudah mulai masuk tahun kedua. Maha suci Allah Yang telah mengembalikan suamiku setelah 15 tahun…, Yang telah menjaga putrinya…, Yang telah memberi taufiq kepadaku dan menganugerahkan keikhlasan bagiku hingga bisa menjadi istri yang baik bagi suamiku…meskipun ia dalam keadaan koma…

Maka janganlah sekali-kali kalian meninggalkan do’a…, sesungguhnya tidak ada yang menolak qodoo’ kecuali do’a…barang siapa yang menjaga syari’at Allah maka Allah akan menjaganya.

Jangan lupa juga untuk berbakti kepada kedua orang tua… dan hendaknya kita ingat bahwasanya di tangan Allah lah pengaturan segala sesuatu…di tanganNya lah segala taqdir, tidak ada seorangpun selainNya yang ikut mengatur…

Ini adalah kisahku sebagai ‘ibroh (pelajaran), semoga Allah menjadikan kisah ini bermanfaat bagi orang-orang yang merasa bahwa seluruh jalan telah tertutup, dan penderitaan telah menyelimutinya, sebab-sebab dan pintu-pintu keselamatan telah tertutup…

Maka ketuklah pintu langit dengan do’a, dan yakinlah dengan pengabulan Allah….
Demikianlah….Alhamdulillahi Robbil ‘Aaalamiin (SELESAI…)

          Janganlah pernah putus asa…jika Tuhanmu adalah Allah…
          Cukup ketuklah pintunya dengan doamu yang tulus…
          Hiaslah do’amu dengan berhusnudzon kepada Allah Yang Maha Suci
          Lalu yakinlah dengan pertolongan yang dekat dariNya…

(sumber : http://www.muslm.org/vb/archive/index.php/t-416953.html, pent: Firanda Andirja)

Kyoto, 21 Februari 2014

Hidayat Panuntun

Gunung yang menghapus 2 kota

Saya menghabiskan tadi malam untuk melihat video dari youtube tentang dahsyatnya gunung yang satu ini [klik untuk ke video]. Saya benar-benar takjub bagaimana Alloh yang Maha Besar menciptakan makhluk yang mempunyai kekuatan merusak yang sangat besar. Gunung ini terletak di Negara Itali, tepatnya disebelah timur kota Napoli. Sebagai gunung yang tercatat sebagai gunung paling aktif di Eropa, Gunung ini telah berkali-kali erupsi, erupsi paling besar yang pernah dicatat oleh sejarah terjadi pada tahun 79 AD. Gunung ini bernama Gunung Visuvius.

http;//anehdidunia.blogspot.com

Gunung Visuvius saat ini.

Image of a map showing Mount Vesuvius and where it is located in Italy.

Letak Gunung Visuvius

Emmanuel Auger, Ilmuan dari University di Napoli Federico II in Naples, Italy bersama dengan tim melakukan penelitian terhadap Gunung Visuvius. Mereka menggunakan gelombang seismic untuk mempelajari apa yang sebenarnya terdapat di bawah gunung Visuvius saat ini. Cara mudahnya, mereka menggunakan teknik yang sama yang digunakan para dokter kandungan untuk memeriksa janin yang ada di perut ibu. Dari pancaran gelombang seismic tersebut, dengan bantuan komputer, kemudian dicoba untuk menvisualisasikan bentuk bagian bawah Gunung Visuvius. Para ilmuan tersebut kemudian menemukan hasil yang sungguh sangat mengerikan khususnya untuk kelangsungan hidup orang yang tinggal di benua Eropa. Dari penelitian itu diketahui bahwa saat ini di bawah gunung Visuvius terdapat magma yang berada di kedalaman 8 kilometer di bawah Gunung tersebut dan mempunyai luas paling tidak 400 km persegi.

Prediksi kantung magma Gunung Visuvius.

Gambar 3D Gunung Visuvius

Tampilan 3D kantung Magma Gunung Visuvius (lihat link video diatas untuk lebih jelasnya).

KOTA POMPEII DAN HERCULANEUM

Kota Pompeii dan herculaneum terletak di sebelah tenggara dan sebelah timur dari Gunung Visuvius. Kota ini terkenal sebagai pusat maksiat di jaman romawi kuno. Jauh sebelum letusan Gunung Visuvius itu terjadi, tepatnya pada tahun 62 AD, kota tersebut dihantam oleh sebuah gempa yang sangat besar yang meluluhlantakkan bangunan dan kuil. Setelah gempa besar tersebut, kota pompeii menjadi sering dihantam gempa-gempa susulan yang getarannya lebih kecil dari gempa utama. Karena intensitas gempa yang sering dirasakan, penduduk kota tersebut menjadi terbiasa dengan adanya gempa-gempa yang menghantam daerah tersebut. Sampai pada akhirnya mereka juga menganggap biasa gempa pendahuluan yang mendahului meletusnya gunung visuvius.

Menurut catatan sejarah di jaman Romawi kuno, Gempa besar selanjutnya menghantam kota Pompeii pada pagi di tahun 79 AD. Karena seringnya dihantam gempa, mereka tidak waspada terhadap Gunung Raksasa yang berada di belakang mereka. Dan benar saja, tepat di siang hari, Gunung Visuvius meletus dan mengubur kota tersebut dan memusnahkan penduduknya.

Arah pergerakan Abu Gunung Visuvius.

Seorang sastrawan/filsuf Romawi kuno, Pliny the young, menggambarkan detik-detik meletusnya Gunung Visuvius. Saat itu, sang sastrawan tersebut sedang berada di teluk Napoli, menggambarkan Letusan gunung visuvius berbentuk seperti jamur, tegak dan mempunyai payung diatasnya. Abu terlempar jauh tinggi ke atas seperti batang, lalu melebar dan akhirnya berhamburan ke bumi. Tinggi semburan ini diduga mencapai 30 kilometer, dan selama hampir 12 jam kemudian, Pompeii seperti dilapisi abu dan kerikil vulkanis setebal beberapa sentimeter.

Visualisasi Gunung Visuvius berdasarkan catatan Pliny the Young.

Letak Kota Pompeii

Letak Kota Herculaneum

Lapisan debu tebal yang menutupi kedua kota tersebut menyebabkan kota tersebut menjadi kota yang hilang. Hingga pada akhirnya kota Herculaneum ditemukan pada tahun 1738 dan Kota Pompeii ditemukan pada tahun 1784.

Raja Charles VII sangat tertarik dengan temuan-temuan ini hingga memerintahkan untuk melakukan penggalian kembali ke dua kota yang hilang tersebut. Giuseppe Fiorelli yang menjadi kepala tim eskavasi dua kota yang hilang tersebut menggunakan teknik injeksi plester untuk menghilangkan lapisan debu-debu erupsi yang selama ini mengubur kota itu.

 AZAB UNTUK MEREKA YANG DURHAKA

Hasil dari eskavasi yang dilakukan oleh Giuseppe Fiorelli mengungkapkan sebuah fakta yang mengejutkan. Korban keganasana letusan gunung Visuvius ini masih berada di dalam rumah/ruangan mereka tanpa berlari menyelematkan diri. Dari wajah mereka tampak seperti mereka sangat kaget karena ada sesuatu yang menimpa mereka. Dan yang lebih mencengangkan lagi, beberapa dari mereka ditemukan meninggal dalam keadaan sedang keadaan berzina dengan sesama jenis.

Bisa dilacak diberbagai sumber, kota tersebut merupakan pusat prostitusi pada masa Romawi Kuno. Organ kemaluan pria dengan ukuran alsi digantung di pintu-pintu masuk tempat prostitusi tersebut. Menurut tradisi yang mereka yakini saat itu, organ seksual dan hubungan seksual tidaklah tabu dan tidak perlu dilakukan ditempat sembunyi, akan tetapi hendaknya dipertontonkan kepada orang banyak. Na’udzubillah.

Peristiwa itu mengingatkan Kaum sodoom (kaum dari Nabi Luth) yang dimusnahkan oleh Alloh karena mereka durhaka kepadaNYA. Salah satu bentuk kedurhakaannya adalah mereka suka dengan sesama jenis alias Homoseksual. Kemudian Alloh memusnahkan mereka dengan sekejap saja, ya mereka dimusnahkan oleh Alloh dalam waktu semalam saja oleh gempa bumi dan letusan gunung berapi. Al-quran menggambarkan bagaimana kisah yang sangat mengerikan itu terjadi pada Surat Hud ayat 82-83:

Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri Kaum Luth itu yang di atas ke bawah (dibalikkan) dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi. Yang diberi tanda oleh Rabbmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim.

Begitu pula dengan Penduduk kota Pompeii, mereka dihancurkan hanya dengan sekejap saja. Ini terbukti dari hasil eskavasi yang dilakukan oleh Giuseppe Fiorelli yang mengatakan bahwa mayat yang ditemukan masih dalam posisi di pembaringan dan mimik muka mereka seperti terkaget-kaget. Hal ini mengindikasikan bahwa bencana tersebut menerjang mereka secara tiba-tiba, tanpa memberikan waktu untuk mereka berlari menyelamatkan diri.

http;//anehdidunia.blogspot.com

http;//anehdidunia.blogspot.com

http;//anehdidunia.blogspot.com

 VISUVIUS SAAT INI.

Sejak tahun 1944, daerah Gunung Visuvius telah dihantam banyak gempa minor (Gempa Kecil). Peneliti dari University of Buffalo, Michael Sheridan, mengatakan bahwa gunung yang terbentuk 25000 tahun yang lalu tersebut mempunyai siklus erupsi besar setiap 2000 tahun sekali. Diantara erupsi besar tersebut terdapat erupsi kecil yang mendahului. Sejarah mencatat, setelah erupsi besar yang terjadi pada 79 AD, terdapat kurang lebih 30 erupsi kecil yang terjadi di Gunung tersebut. Dengan menggunakan asumsi yang dikemukakan oleh sheridan (siklus erupsi besar per 2000 tahun) maka boleh jadi waktu letusan dari Gunung Visuvius tersebut tinggal menunggu waktu. Dengan luas kantung magma yang mencapai 400 kilometer persegi, letusan gunung tersebut tentu akan menyebabkan efek yang sangat besar, daerah eropa pada khususnya, dan Dunia pada umumnya.

Tidak ada yang bisa dilakukan manusia untuk mencegah terjadinya gempa bumi dan gunung meletus. Hal itu disebabkan karena aktivitas tersebut merupakan bentuk kesetimbangan yang diakibatkan karena pergerakan lempeng bumi.

Hanya Alloh lah Rabb Yang Tahu Segalanya, wallahu a’lam bisshowab

Kyoto, 20 Februari 2014

Hidayat Panuntun

Gunung api terbesar di dunia

Masih tentang Gunung Api, saat ini memang Yellowstone Super Volcano merupakan salah satu dari beberapa gunung api aktif yang dikhawatirkan jika meletus. Karena status dari Gunung tersebut termasuk dalam kategori super volcano, tentu dampak yang diakibatkan pun juga akan super.

Tapi tahukah anda, Gunung Api yang paling besar di dunia???

Sebuah penelitian yang dipimpin oleh Dr William Sager dari University of Houston menemukan sebuah penemuan yang sangat menggemparkan. Penelitian tersebut berhasil menemukan sebuah gunung raksasa yang terdapat di dalam laut di Shatsky Rise area yang terletak 1609 km di sebelah timur Negara Jepang. Gunung tersebut diumumkan ke publik sebagai Gunung Api pada tanggal 5 September 2013.

(paper beliau berjudul “William W. Sager et al. An immense shield volcano within the Shatsky Rise oceanic plateau, northwest Pacific Ocean. Nature Geoscience, published online September 05, 2013; doi: 10.1038/ngeo1934”)

The Tamu Massif is located within the Shatsky rise. (ODP)

Lokasi shatsky rise area.

Gunung tersebut diberi nama TAMU MASSIF. Gunung ini terbentuk kira-kira 145 juta tahun lalu dan mempunyai kubah sebesar 450 km × 650 km dengan luas total hampir mencapai 300000 km2. Dengan luas sebesar itu, maka gunung ini mempunyai luas yang lebih besar dari Negara Inggris Raya yang mempunyai luas hanya 229848 km2 dan bahkan 2 kali lipat dari besar pulau Jawa yang mempunyai luas 128,297 km².

3-D map of the Tamu Massif. (IODP/Texas A&M University)

Tampilan 3D Tamu Massif

 Map of the Tamu Massif formation. Grey area, lower right, shows the footprint of Martian Olympus Mons at the same scale (William W. Sager et al).

Formasi Gunung Tamu Massif (http://www.sci-news.com/othersciences/geophysics/science-tamu-massif-largest-volcano-pacific-01366.html)

 Seismic-reflection profile along line A-B on the map, see upper image (William W. Sager et al).

Penampang melintang Tamu Massif dari A ke B (sumber : http://www.sci-news.com/othersciences/geophysics/science-tamu-massif-largest-volcano-pacific-01366.html)

Dengan luas yang melebihi gunung-gunung yang selama ini dikategorikan kedalam SuperVolcano maka bisa gunung tamu massif ini bisa dikategorikan ke dalam MegaVolcano. Gunung yang puncaknya berada di kedalaman 1981 m dibawah permukaan air laut memang berbeda dengan gunung api pada umumnya yang biasanya menjulang tinggi. Gunung ini cenderung berbentuk lebar dan sangat luas (bisa dilihat pada gambar penampang melintang diatas).  Bisa dibayangkan bagaimana ngeri nya apabila gunung tersebut meletus, berapa tinggi gelombang tsunami yang akan terjadi? berapa keras ledakan yang akan terdengar? berapa milyar km kubik material yang dimuntahkan?

Kita saat ini mungkin bisa sedikit lega karena gunung ini oleh para peneliti dikategorikan ke dalam gunung yang sudah punah. Artinya gununng tersebut tidak mempunyai kemungkinan untuk meletus (huuffftt)

Mereka Adalah Tentara Alloh

Orang yang pintar adalah orang yang mampu merasakan kebesaran Alloh lewat ciptaanNYA. Orang yang pintar bukanlah orang yang bergelar professor, ilmuan, dokter sub-spesialis yang menekuni bidang kajian ilmu tertentu. Orang yang pintar adalah orang yang dengan ilmu yang dia miliki semakin takut dan yakin akan kebesaran Alloh.

Seperti yang sudah saya tulis diatas, saat ini para peneliti mengkategorikan gunung Tamu Massif kedalam kelompok gunung yang telah punah. Tapi siapa yang bisa menjamin hal tersebut?? Dalam science menurut para pemikir barat dikatakan bahwa tidak ada kebenaran yang mutlak, tapi tidak dalam agama! Kebenaran itu mutlak milik Alloh Rabb Pemilik Alam. Dan dalam ILMU-NYA, tidak ada suatu hal pun yang tidak mungkin. Betapa banyak kejadian yang tidak mungkin terjadi menurut akal manusia tapi tetap bisa terjadi karena kehendak Alloh!

Bahkan, ada gunung yang sudah dianggap mati, tapi ternyata aktif kembali, subhanallah

Silahkan lihat video dari salah satu televisi di indonesia berikut ini:

Masih banyak sejarah yang mencatat bagaimana suatu hal yang tadinya dirasa tidak mungkin menurut akal manusia ternyata bisa terjadi. Contohnya, pada jaman dulu, orang-orang tentu akan mengatakan tidak mungkin Kerajaan Persia dan Romawi itu kalah dari musuh-musuhnya, tapi kuasa Alloh berkata lain,kedua kerajaan besar (di masanya) itu sekarang tinggal sejarah.

Logika berpikir manusia pasti mengatakan 200.000 pasukan romawi akan menang dengan mudah saat bertempur melawan 3000 pasukan muslim di pertempuran Mu’tah. Tapi sekali lagi, kuasa Alloh berada di atas segalanya. dengan izinNYA, pasukan muslim berhasil mengalahkan pasukan romawi yang jumlahnya hampir 60 kali lipat jumlah pasukan muslim.

Al-quran dengan manis menuliskan sejarah bagaimana hancurnya kaum ‘aad, tsamud, kaum nabi sholeh dan kaum-kaum yang durhaka lainnya. Mereka dibinasakan oleh Alloh melalui tentaraNya dimuka bumi yang berupa Gempa bumi dan Letusan gunung berapi, suara yang mengguntur (halilintar), Banjir bandang, angin yang dingin dan kering. Ya, melalui mereka lah Alloh membinasakan kaum-kaum yang durhaka terdahulu.

Pertanyaan sederhananya sekarang adalah, mungkinkan tentara-tentara Alloh itu juga akan membinasakan kaum yang durhaka pada masa sekarang?? Maka jawabannya adalah mungkin saja karena tidak ada yang tidak mungkin di sisi Alloh.

Bisa dibayangkan bagaimana jadinya jika Yellowstone di Amerika Serikat meletus, Es di kutub mencair?? Tentu itu akan memberikan efek yang sangat buruk sekali bagi kelangsungan hidup manusia. Bahkan di Indonesia sendiri, kita sedang di intai oleh Gunung Anak Krakatau. Ini bukan Anak haram hasil hubungan gelap, tapi ini merupakan anak hasil letusan dari Ibunya (Gunung Krakatau yang telah meletus pada 27 Agustus 1883) yang menewaskan 36.417 orang padahal saat itu jumlah penduduk tidak sebanyak sekarang. Dengan pertumbuhan yang mencapai 20 Inchi/bulan, bisa dibayangkan bagaimana jika sang Anak  ini kelak mengamuk.

Anak Krakatau, dua tahun sejak awal terbentuknya. Foto diambil 12 atau 13 Mei 1929 (sumber : wikipedia)

 

Anak Krakatau, Februari 2008 (sumber : Wikipedia)

Kembali ke Tamu Massif, saat ini para peneliti mengkategorikan gunung tersebut sebagai gunung yang tidak aktif. Tapi siapa yang bisa menjamin kebenaran hal itu? Boleh jadi tentara Alloh yang satu ini akan aktif saat Alloh memerintahkannya untuk aktif. Sekedar informasi, kedinamisan dari lempeng bumi juga menjadi pemacu suatu Gunung Api untuk meletus. Bahkan sejarah mencatat ada gunung yang sudah dinyatakan mati tapi ternyata aktif dan meletus kembali (lihat video diatas). Maka sekali lagi, tidak ada suatu hal pun di dunia ini yang tidak mungkin di sisi Alloh. Wallahu a’lam bisshowab.

Saya paling suka mengutip bagian pembukaan surat Rasulullah shallallahu’alaihi wassalam kepada raja-raja di sekitar jazirah arab saat itu.

Semoga keselamatan untuk orang yang mengikuti petunjuk.

 

Kyoto, 15 Februari 2014

Hidayat Panuntun

Gunung berapi yang (mungkin) mengakhiri eksistensi manusia?

Jagad dunia maya hari ini dipenuhi postingan tentang gunung meletus dan dampak-dampaknya. Ya, Hari ini, 14 February 2014, Gunung api aktif di jawa timur menampakkan wujudnya yang sebenarnya. Gunung Api yang bernama Kelud ini meletus selama hampir 3 jam dan memuntahkan material setinggi hampir 17 km. Luas daerah terdampak dari letusan gunung ini sangat luas, bahkan hingga mencapai kota Bandung, jawa barat yang berjarak hampir 700 km dari pusat letusan gunung tersebut.

Indonesia memang surganya bagi gunung api. Kalau jaman SD dulu, saya dapat penjelasan dari bu guru SD bahwa Indonesia berada di cincin api (ring of fire) di area pasifik.

Ring of fire

Sebelum gunung kelud, Indonesia sudah dihantam letusan dari gunung lain, yaitu gunung sinabung. Gunung yang baru saja berhenti memuntahkan isinya itu telah memakan korban paling tidak 14 nyawa orang.

Saat ini mungkin perhatian masyarakat lebih tertuju kepada dua gunung ini (ya jelas lah, wong baru saja meletus). Tapi tahukan anda, suara ledakan yang dikeluarkan gunung kelud tadi malam itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan suara ledakan Gunung Krakatau di selat sunda yang meletus pada 27 Agustus 1883. Gunung itu meletus dengan ledakan yang paling hebat dengan suara yang terdengar hingga jarak hampir 5500 km lebih. Bisa dibayangkan, kalau jalan deandles yang dibangun dari anyer sampai panarukan yang punya jarak 1000an km, berarti suara ledakan Gunung Krakatau 5 kali panjang jalan deandles.

GUNUNG TOBA.

Jauh sebelum letusan gunung Krakatau. Ada letusan yang lebih dahsyat lagi sampai-sampai letusan Krakatau mungkin hanya seperti suara orang batuk saja jika dibandingkan dengan suara letusan gunung ini. Ya, letusan itu mengakibatkan gunung tersebut menjadi hilang 2/3 bagian tubuhnya, dan berganti menjadi danau diameter 90 km (bisa dibayangkan bagaimana besar gunungnya kalau sekarang luas caldera nya saja 90 km). Letusan gunung itu oleh para ilmuan dikatakan sebagai letusan paling dahsyat yang pernah terjadi di muka bumi. Letusan yang mengakibatkan hampir punahnya makhluk hidup dari muka bumi. Gunung itu sekarang kita namakan sebagai “danau toba”.

Gunung toba oleh para ilmuan dikategorikan ke dalam salah satu dari 10 Gunung yang termasuk dalam kategori super volcano (lihat table dibawah). Harap dicatat, sebuah gunung dikategorikan sebagai gunung supervolcano apabila mempunyai kekuatan dan volume meterial muntahan lebih besar dari 1000 km3.  Itu artinya sama dengan kira-kira 1 juta kali kekuatan dari ledakan gunung kelud saat ini.

YELLOWSTONE

Tahukah anda, dari ke 10 super volcano di seluruh dunia tersebut, ada 1 super volcano yang saat ini sedang mempersiapkan diri untuk “tampil”. Gunung tersebut berada di Negara amerika serikat dan dijadikan sebagai taman wisata “national park”. Gunung tersebut diberi nama Yellowstone.

 

Yellowstone dengan caldera yang mempunyai diameter hampir 50 km (warna kuning). (sumber : http://volcanoes.usgs.gov/observatories/yvo/index.html)

Kalau kita melihat Gunung berapi di Indonesia, semua bentuk gunung berapi tersebut berbentuk segitiga dengan sisi lancip berada di atas (mengerucut ke atas) akan tetapi, Yellowstone memiliki bentuk yang berbeda dengan gunung api biasanya. Yellowstone mempunyai bentuk segitiga terbalik, dengan sisi lancip berada di bawah (mengerucut ke bawah). Moncong dari Yellowstone membenam jauh di dasar bumi yang mana menjadikan gunung ini sangat berbahaya sekali. Di bagian atas gunung itu saat ini dijadikan sebagai tempat wisata oleh warga, tapi di bagian bawahnya tersimpan sesuatu yang maha dahsyat. Yang amat berbahaya bagi kelangsungan hidup manusia modern. Minimal (sesuai dengan kriteria super volcano) gunung itu akan mempunyai kekuatan ledakan sebesar 1 juta kali kekuatan ledakan gunung kelud saat ini.

 

Bentuk geometri Yellowstone yang seperti segitiga terbalik, sumber (http://geology.com/usgs/yellowstone-volcano/)

Pada bulan Oktober 2011 lalu, sebuah badan kerja sama yang terdiri dari badan pemantau Super V Yellowstone yaitu The Yellowstone Volcano Observatory (YVO) dan lembaga survey geologi Amerika, dikenal dengan nama The U.S. Geological Survey (USGS), sudah mencatat begitu banyak aktivitas gempa di National Park itu. Tercatat sekitar 27 gempa telah terjadi. Bulan sebelumnya (September 2011) bahkan lebih banyak lagi yaitu 45 kali gempa. Pada bulan Juli terjadi aktivitas gempa 50-an kali. Ini jelas menandakan keaktifan Yellowstone semakin menampak. Seorang mahasiswa postdoctoral dari USGS berhasil mengindentifikasi keberadaan magma di kedalam sekitar 3-6 km dibawah permukaan tanah. Dengan semakin dekatnya magma ke permukaan, maka “masa penampakan” dari Yellowstone pun juga akan semakin dekat.

Dengan kekuatan dan volume yang mencapai (minimal) 1 juta kali dali ledakan Gunung Kelud saat ini, boleh jadi seandainya Yellowstone meletus maka itulah saat-saat terakhir bagi sebagian besar umat manusia di muka bumi ini. Ya, paling tidak letusan gunung itu akan mengancam eksistensi dari Negara yang sekarang bernama Amerika Serikat.

KAUM LUTH, BEKAS VOLCANIC, DAN PELAJARANNYA.

Semua ummat islam mengetahui nabi yang ini, Beliau bernama LUTH, diutus kepada kaum sodom. Berdasarkan kajian arkeologis, kota tersebut berada di wilayah Laut Mati yang terbentang memanjang di antara perbatasan Palestina-Yordania. Al-quran mengkisahkan dengan jelas bagaimana azab Alloh berlaku terhadap Kaum tersebut.

Ayat ke-82 Surat Huud dengan jelas menyebutkan jenis bencana yang menimpa kaum Luth. “Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri Kaum Luth itu yang atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan (batu belerang) tanah yang terbakar secara bertubi-tubi.”

Pernyataan “menjungkirbalikkan (kota)” bermakna kawasan tersebut diluluhlantakkan oleh gempa bumi yang dahsyat dan “dihujani dengan batu belerang” mungkin seperti material dari letusan gunung berapi saat itu. Sesuai dengan ini, Danau Luth, tempat penghancuran terjadi, mengandung bukti “nyata” dari bencana tersebut.

Ahli arkeologi dari jerman bernama Werner Keller mengungkapkan di dasar danau luth (sekaran kita kenal dengan laut mati) terdapat retakan yang sangat lebar yang melewati daerah lembah siddim, termasuk Sodom dan Gomorrah. Kejadian tektonik di daerah tersebut diakibatkan karena peristiwa gempa bumi dahsyat yang mungkin disertai dengan letusan, petir, keluarnya gas alam serta lautan api.

Werner keller pun melanjutkan analisisnya, “Pergeseran patahan membangkitkan tenaga vulkanik yang telah tertidur lama sepanjang patahan. Di lembah yang tinggi di Jordania dekat Bashan masih terdapat kawah yang menjulang dari gunung api yang sudah mati; bentangan lava yang luas dan lapisan basal yang dalam yang telah terdeposit pada permukaan batu kapur”.

Saya jadi membayangkan, kalau bencana letusan gunung berapi bisa membinasakan kota Sodom di masa nabi Luth, mungkinkah ledakan Yellowstone juga akan mengancam eksistensi manusia di muka bumi?? Yang jelas, cepat atau lambat, gunung Yellowstone di Amerika Serikat itu pasti akan meletus juga. Sebagai salah satu dari anggota keluarga “super volcano”, letusan yang akan terjadi mungkin akan menjadi letusan paling hebat yang pernah terjadi di muka bumi. Pertanyaannya adalah, sudah siapkan manusia menghadapi semua itu??
wallahu a’lam bisshowab. Hanya Alloh lah yang tahu semua jawabannya. Yang jelas, Alloh telah mengirimkan tanda-tandaNYA berupa letusan gunung-gunung yang tenaganya jauh lebih kecil dari Yellowstone, tapi sudah berakibat yang cukup fatal bagi manusia (khususnya di pulau jawa).

Semoga Alloh memberikan kepada kita petunjuk dan kekuatan agar tetap istiqomah di atas petunjuk tersebut.

Wallahu Musta’an.

Kyoto, 14 Februari 2014

Hidayat Panuntun

Naruto vs As-Sabiqun al-Awwalun

Anak-anak jaman sekarang, seandainya mereka ditanya siapa pahlawan favorit mereka, tentu saja dengan cepat mereka akan menjawab tokoh-tokoh khayalan dalam film atau komik yang mereka sering mereka baca. Kalau jaman saya dulu, mungkin banyak yang akan menjawab, NARUTO, JIBAN, POWER RANGER, SAILOR MOON, SUPERMAN, ROBOCOP, NINJA HOTARU, dll.

Saya juga masih ingat beberapa teman SMA saya yang sangat mengidolakan tokoh-tokoh jepang. Mereka menamai perkumpulan mereka dengan nama-nama kelompok kartun kesukaan mereka. SHISEITEN (4 pendekar pengawal nya Kyo si-mata iblis dalam komik Kyo), JUPPONGATANA (10 Pendekar bentukan Shishio dalam komik Rurouni Kenshin), AKATSUKI (Penggemar komik naruto pasti sudah pada hafal, hehe), dan masih banyak lagi.

Mereka seolah-olah lupa, di agama islam ada kelompok dan tokoh yang lebih dahsyat dari yang disebut di atas. Kalau tokoh dan kelompok yang disebut diatas itu merupakan tokoh fiktif yang tidak pernah ada, Tokoh dan kelompok ini nyata dan benar-benar pernah ada. Mereka lupa (mungkin juga tidak tahu) kalau mereka punya tokoh dan kelompok yang lebih pantas untuk dibanggakan.

Tidakkah mereka tahu kalau orang islam punya Al-Fuqaha’ As-Sab’ah, 7 Pendekar fiqh yang mumpuni dalam hal ilmu dan amal. Mereka yang terdiri dari

  1. Sa’id bin Al-Musayyib,
  2. ‘Urwah bin Az-Zubair bin Al-’Awwam
  3. Sulaiman bin Yasar
  4. Al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr
  5. Abu Bakr bin ‘Abdirrahman
  6. Kharijah bin Zaid
  7. ‘Ubaidullah bin Abdillah bin ‘Utbah bin Mas’ud

Mereka adalah tujuh orang ulama kota Madinah yang keluasan ilmunya tidak saja diakui oleh penduduk negeri tersebut namun diakui pula oleh para ulama di seluruh penjuru negeri. Dikatakan oleh seorang penyair:

إِذَا قِيْلَ مَنْ فِي الْعِلْمِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ                رِوَايَتُهُمْ لَيْسَتْ عَنِ الْعِـلْمِ خَارِجَةْ

فَقُلْ هُمْ عُبَيْدُ اللهِ عُرْوَةٌ قَاسِـمٌ                سَعِيْدٌ أَبُوْبَكْرٍ سُلَيْـمَانُ خَـارِجَةْ

Jika dikatakan siapa (yang keluasan) ilmunya (seperti) tujuh lautan

Riwayat mereka tidak keluar dari ilmu

Katakanlah mereka itu adalah ‘Ubaidullah, Urwah, Qasim

Sa’id, Abu Bakr, Sulaiman, dan Kharijah.

Orang islam juga masih punya al-’Asyarah al-Mubasysyarun bil Jannah, yaitu sepuluh sahabat Nabi yang mendapat kabar gembira dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penghuni surga. Mereka yang termasuk didalamnya adalah

  1. Abu Bakar Siddiq ra.
  2. Umar Bin Khatab ra.
  3. Usman Bin Affan ra.
  4. Ali Bin Abi Thalib ra.
  5. Thalhah Bin Abdullah ra.
  6. Zubair Bin Awaam
  7. Sa’ad bin Abi Waqqas
  8. Sa’id Bin Zaid
  9. Abdurrahman Bin Auf
  10. Abu Ubaidillah Bin Jarrah.

Mana yang lebih pantas, tokoh dan kelompok fiktif atau tokoh dan kelompok yang nyata dan sudah benar-benar teruji kehebatannya?

So, jika masa kecil kita pernah mengidolakan “orang yang tidak tepat”, paling tidak mari kita ajarkan generasi penerus kita untuk tidak melakukan hal yang sama. Yup, mari kita ajarkan kepada anak dan cucu kita tentang kehebatan pahlawan-pahlawan islam.

 

Kyoto, 12 Februari 2014

Hidayat Panuntun

Sebuah kisah: pemutus segala kelezatan

Beberapa hari yang lalu, istri saya sempat bercerita bahwa temannya ada yang meninggal. Dengan umur yang masih muda, tapi Alloh telah memanggilnya pulang. Kita semua memang milik Alloh, dan kematian merupakan sesuatu hal yang pasti terjadi pada setiap yang bernyawa.

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan” (QS. Ali ‘Imran : 185).

Mari kita dengarkan cerita dari sahabat nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, al-Bara’ bin ‘Azib r.a yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan dishahihkan oleh Imam al-Hakim dan Syaikh al-Albani menceritakan perjalanan para manusia di alam kuburnya:

Suatu hari kami mengantarkan jenazah salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari golongan Anshar. Sesampainya di perkuburan, liang lahad masih digali. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun duduk (menanti) dan kami juga duduk terdiam di sekitarnya seakan-akan di atas kepala kami ada burung gagak yang hinggap. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memainkan sepotong dahan di tangannya ke tanah, lalu beliau mengangkat kepalanya seraya bersabda, “Mohonlah perlindungan kepada Allah dari adzab kubur!” Beliau ulangi perintah ini dua atau tiga kali.

Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seandainya seorang yang beriman sudah tidak lagi menginginkan dunia dan telah mengharapkan akhirat (sakaratul maut), turunlah dari langit para malaikat yang bermuka cerah secerah sinar matahari. Mereka membawa kain kafan dan wewangian dari surga lalu duduk di sekeliling mukmin tersebut sejauh mata memandang. Setelah itu turunlah malaikat pencabut nyawa dan mengambil posisi di arah kepala mukmin tersebut. Malaikat pencabut nyawa itu berkata, ‘Wahai nyawa yang mulia keluarlah engkau untuk menjemput ampunan Allah dan keridhaan-Nya’. Maka nyawa itu (dengan mudahnya) keluar dari tubuh mukmin tersebut seperti lancarnya air yang mengalir dari mulut sebuah kendil. Lalu nyawa tersebut diambil oleh malaikat pencabut nyawa dan dalam sekejap mata diserahkan kepada para malaikat yang berwajah cerah tadi lalu dibungkus dengan kafan surga dan diberi wewangian darinya pula. Hingga terciumlah bau harum seharum wewangian yang paling harum di muka bumi.

Kemudian nyawa yang telah dikafani itu diangkat ke langit. Setiap melewati sekelompok malaikat di langit mereka bertanya, ‘Nyawa siapakah yang amat mulia itu?’ ‘Ini adalah nyawa fulan bin fulan’, jawab para malaikat yang mengawalnya dengan menyebutkan namanya yang terbaik ketika di dunia. Sesampainya di langit dunia mereka meminta izin untuk memasukinya, lalu diizinkan. Maka seluruh malaikat yang ada di langit itu ikut mengantarkannya menuju langit berikutnya. Hingga mereka sampai di langit ketujuh. Di sanalah Allah berfirman, ‘Tulislah nama hambaku ini di dalam kitab ‘Iliyyin. Lalu kembalikanlah ia ke (jasadnya di) bumi, karena darinyalah Aku ciptakan mereka (para manusia), dan kepadanyalah Aku akan kembalikan, serta darinyalah mereka akan Ku bangkitkan.’

Lalu nyawa tersebut dikembalikan ke jasadnya di dunia. Lantas datanglah dua orang malaikat yang memerintahkannya untuk duduk. Mereka berdua bertanya, ‘Siapakah rabbmu?’, ‘Rabbku adalah Allah’ jawabnya. Mereka berdua kembali bertanya, ‘Apakah agamamu?’, ‘Agamaku Islam’ sahutnya. Mereka berdua bertanya lagi, ‘Siapakah orang yang telah diutus untuk kalian?’ “Beliau adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam” jawabnya. ‘Dari mana engkau tahu?’ tanya mereka berdua. ‘Aku membaca Al-Qur’an lalu aku mengimaninya dan mempercayainya’. Tiba-tiba terdengarlah suara dari langit yang menyeru, ‘(Jawaban) hamba-Ku benar! Maka hamparkanlah surga baginya, berilah dia pakaian darinya lalu bukakanlah pintu ke arahnya’. Maka menghembuslah angin segar dan harumnya surga (memasuki kuburannya) lalu kuburannya diluaskan sepanjang mata memandang.

Saat itu datanglah seorang (pemuda asing) yang amat tampan memakai pakaian yang sangat indah dan berbau harum sekali, seraya berkata, ‘Bergembiralah, inilah hari yang telah dijanjikan dulu bagimu’. Mukmin tadi bertanya, ‘Siapakah engkau? Wajahmu menandakan kebaikan’. ‘Aku adalah amal salehmu’ jawabnya. Si mukmin tadi pun berkata, ‘Wahai Rabbku (segerakanlah datangnya) hari kiamat, karena aku ingin bertemu dengan keluarga dan hartaku.

Adapun orang kafir, di saat dia dalam keadaan tidak mengharapkan akhirat dan masih menginginkan (keindahan) duniawi, turunlah dari langit malaikat yang bermuka hitam sambil membawa kain mori kasar. Lalu mereka duduk di sekelilingnya. Saat itu turunlah malaikat pencabut nyawa dan duduk di arah kepalanya seraya berkata, ‘Wahai nyawa yang hina keluarlah dan jemputlah kemurkaan dan kemarahan Allah!’. Maka nyawa orang kafir tadi ‘berlarian’ di sekujur tubuhnya. Maka malaikat pencabut nyawa tadi mencabut nyawa tersebut (dengan paksa), sebagaimana seseorang yang menarik besi beruji yang menempel di kapas basah. Begitu nyawa tersebut sudah berada di tangan malaikat pencabut nyawa, sekejap mata diambil oleh para malaikat bermuka hitam yang ada di sekelilingnya, lalu nyawa tadi segera dibungkus dengan kain mori kasar. Tiba-tiba terciumlah bau busuk sebusuk bangkai yang paling busuk di muka bumi.

Lalu nyawa tadi dibawa ke langit. Setiap mereka melewati segerombolan malaikat mereka selalu ditanya, ‘Nyawa siapakah yang amat hina ini?’, ‘Ini adalah nyawa fulan bin fulan’ jawab mereka dengan namanya yang terburuk ketika di dunia. Sesampainya di langit dunia, mereka minta izin untuk memasukinya, namun tidak diizinkan. Rasulullah membaca firman Allah:

لا تفتح لهم أبواب السماء ولا يدخلون الجنة حتى يلج الجمل في سم الخياط

“Tidak akan dibukakan bagi mereka (orang-orang kafir) pintu-pintu langit dan mereka tidak akan masuk surga, sampai seandainya unta bisa memasuki lobang jarum sekalipun.” (QS. Al-A’raf: 40)

Saat itu Allah berfirman, ‘Tulislah namanya di dalam Sijjin di bawah bumi’, Kemudian nyawa itu dicampakkan (dengan hina dina). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah ta’ala:

وَمَن يُشْرِكْ بِاللهِ فَكَأنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيْحُ فِي مَكَانٍ سَحِيْقٍ

“Barang siapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” (QS. Al-Hajj: 31)

Kemudian nyawa tadi dikembalikan ke jasadnya, hingga datanglah dua orang malaikat yang mendudukannya seraya bertanya, ‘Siapakah rabbmu?’, ‘Hah hah… aku tidak tahu’ jawabnya. Mereka berdua kembali bertanya, ‘Apakah agamamu?’ “Hah hah… aku tidak tahu’ sahutnya. Mereka berdua bertanya lagi, ‘Siapakah orang yang telah diutus untuk kalian?’ “Hah hah… aku tidak tahu’ jawabnya. Saat itu terdengar seruan dari langit, ‘Hamba-Ku telah berdusta! Hamparkan neraka baginya dan bukakan pintu ke arahnya’. Maka hawa panas dan bau busuk neraka pun bertiup ke dalam kuburannya. Lalu kuburannya di ‘press’ (oleh Allah) hingga tulang belulangnya (pecah dan) menancap satu sama lainnya.

Tiba-tiba datanglah seorang yang bermuka amat buruk memakai pakaian kotor dan berbau sangat busuk, seraya berkata, ‘Aku datang membawa kabar buruk untukmu, hari ini adalah hari yang telah dijanjikan bagimu’. Orang kafir itu seraya bertanya, ‘Siapakah engkau? Wajahmu menandakan kesialan!’, ‘Aku adalah dosa-dosamu’ jawabnya. ‘Wahai Rabbku, janganlah engkau datangkan hari kiamat’ seru orang kafir tadi. (HR. Ahmad dalam Al-Musnad (XXX/499-503) dan dishahihkan oleh al-Hakim dalam Al-Mustadrak (I/39) dan al-Albani dalam Ahkamul Janaiz hal. 156)

Begitulah bagaimana perjalanan seseorang ketika dia sudah meninggal. Dua perjalanan yang sangat berbeda, yang satu menempuh jalan keselamatan, yang satu menempuh jalan kesesatan.

Semoga Alloh memberikan kepada kita hidayah agar tetap istiqomah di jalan kebenaran sesuai dengan al-quran dan al-hadist.

Kyoto, 3 Februari 2014

Hidayat Panuntun

Merokok Itu…

Tulisan ini saya buat bukan karena saya sensitif terhadap ormas islam tertentu, bukan juga karena kebencian saya, bukan juga karena ketidaksukaan saya kepada para perokok. Artikel ini saya tulis sebagai bentuk rasa kepedulian saya terhadap kesehatan hidup, apalagi sesama muslim. Jadi, mari kita pahami dengan logika yang baik, mudah-mudahan diterima..:)

Ada artikel menarik yang sempat saya baca beberapa waktu yang lalu, yang membuat artikel itu menarik buat saya adalah salah satu ucapan yang dikutip oleh artikel itu

“..sampai kiamat ulama NU ga akan mengharamkan rokok..”

Berikut linknya :

http://www.merdeka.com/peristiwa/pbnu-sampai-kiamat-rokok-tidak-haram.html

http://www.suaranews.com/2013/12/mui-haramkan-rokok-nu-sampai-kiamat.html

Satu pertanyaan sederhana yang ingin saya tanyakan kepada speaker tersebut, apa yang membuatnya yakin bahwa “sampai hari kiamat” padahal kita bahkan tidak pernah tahu apa yang akan terjadi 1 detik yang akan datang. Kok bisa-bisanya dia memastikan “sampai hari kiamat”. Apakah dia mendapatkan kabar langsung dari Langit tentang keputusan itu?atau kah dia memiliki lembaran-lembaran tentang terciptanya Langit dan Bumi? Ataukah ditangannya semua kunci segala urusan? Tentu saja tidak.

Kembali ke permasalah rokok. Berbicara mengenai rokok ini sungguh tidak akan pernah ada habisnya. Ada sebagian ulama yang mengharamkan, ada yang menghalalkan, ada yang memubahkan, ada yang memakruhkan.

Sebelum berbicara mengenai hukum halal dan haram tersebut. Mari kita tanya kepada para perokok.

Kenapa anda merokok?

Tidak sedikit dari jawaban pertanyaan di atas, awal mulanya hanya coba-coba, kemudian merasa enak, kemudian ketagihan, dst. Tidak tahukah dia kandungan bahaya dalam rokok tersebut?? Ada banyak sekali artikel-artikel kesehatan yang telah mengupas masalah bahaya yang dikandung dalam rokok. Silahkan di cari lewat mesin pencari (google, bing, dll) maka anda akan menjumpai kandungan bahan pembuat rokok dan bahayanya.

Kalau sudah memahami bahaya-bahaya yang mengintai yang disebabkan karena merokok, apakah mereka tetap akan merokok? (saya ragu ada yang menjawab “akan berhenti”)

Dari perokok ada yang mengatakan :

  • “merokok kan bisa menambah pendapatan negara karena dikenakan pajak”

SANGGAHAN :

Pendapatan negara dari cukai rokok, ternyata tak sebanding dengan nilai kerugian yang ditimbulkan karena merokok. Pada 2012, pendapatan negara dari cukai, hanya sebesar Rp 55 triliun. Namun, kerugiannya mencapai Rp 254,41 triliun.
Kerugian tersebut, rinciannya adalah uang yang dikeluarkan untuk pembelian rokok Rp 138 triliun, biaya perawatan medis rawat inap dan jalan Rp 2,11 triliun, kehilangan produktivitas akibat kematian prematur dan morbiditas maupun disabilitas Rp 105,3 triliun (sumber :

http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/13/09/19/mtd6bm-kerugian-akibat-rokok-capai-rp-25441-t

http://health.kompas.com/read/2013/11/01/1705424/

Nilai.Kerugian.Akibat.Rokok.Terlalu.Besar)

Apalah artinya pemasukan buat Negara kalau ternyata nombok nya lebih besar dari pada pemasukan yang diterima.

  •  “kalau rokok ga ada yang beli, kasian penjualnya tidak dapat rejeki”

SANGGAHAN :

Siapakah Si Pemberi Rizki untuk setiap manusia, bahkan untuk makhluk hidup paling kecil sekalipun? Anda (perokok)?? Tentu tidak kan.

Sesungguhnya Allah adalah satu-satunya pemberi rizki, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam hal itu. Karena Allah Ta’ala berfirman,

Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah Pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezki kepada kamu dari langit dan bumi?” (QS. Fathir: 3)

Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?” Katakanlah: “Allah.” (QS. Saba’: 24)

Bahkan Seandainya Allah menahan rizki manusia, maka tidak ada selain-Nya yang dapat membuka pintu rizki tersebut. Allah Ta’ala berfirman,

Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Fathir: 2).

Dari penjelasan di atas, jelas sudah bahwa alasan KASIAN KEPADA PENJUAL terbantahkan, karena rejeki itu bukan dari mereka (para perokok). Boleh jadi Allah akan membukakan pintu rejeki lain yang  lebih besar seandainya mereka mau berhenti menjual atau memproduksi rokok. Bahkan si-perokok bisa menabung uang yang biasanya ia gunakan untuk membeli rokok.

  • “merokok atau ga merokok sama saja pasti mati”

 

Sanggahan :

Memang benar, kematian itu adalah suatu ketetapan dari Allah bagi para hamba-hambaNYA yang mempunyai nyawa. Allah berfirman

“Tiap-tiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati” (QS. Ali ‘Imran : 185).

Manusia memiliki hak untuk memilih sendiri-sendiri jalan menuju kematiannya. Masing-masing berbeda dalam memilih jalan kematian. Seorang ayah dengan anaknya berbeda dalam memilih jalan kematian. Antara saudara dengan saudara lainnya berbeda memilih jalan kematian. Yang jelas, muaranya jelas yaitu mati, tapi cara untuk mati ini berbeda-beda.

Jadi silahkah, mana yang anda pilih, apakah mati karena merokok? Silahkan dijawab sendiri..:)

Saya belum membahas masalah rokok tersebut halal dan halam, saya hanya ingin mendiskusikan hal tersebut diatas disertai dengan penjelasan yang ilmiah. Mudah-mudahan Allah melindungi kita dari kebinasaan

“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al Baqarah: 195).

Bersambung (insyaallah)

Kyoto, 19 Desember 2013

Hidayat Panuntun