Naruto vs As-Sabiqun al-Awwalun

Anak-anak jaman sekarang, seandainya mereka ditanya siapa pahlawan favorit mereka, tentu saja dengan cepat mereka akan menjawab tokoh-tokoh khayalan dalam film atau komik yang mereka sering mereka baca. Kalau jaman saya dulu, mungkin banyak yang akan menjawab, NARUTO, JIBAN, POWER RANGER, SAILOR MOON, SUPERMAN, ROBOCOP, NINJA HOTARU, dll.

Saya juga masih ingat beberapa teman SMA saya yang sangat mengidolakan tokoh-tokoh jepang. Mereka menamai perkumpulan mereka dengan nama-nama kelompok kartun kesukaan mereka. SHISEITEN (4 pendekar pengawal nya Kyo si-mata iblis dalam komik Kyo), JUPPONGATANA (10 Pendekar bentukan Shishio dalam komik Rurouni Kenshin), AKATSUKI (Penggemar komik naruto pasti sudah pada hafal, hehe), dan masih banyak lagi.

Mereka seolah-olah lupa, di agama islam ada kelompok dan tokoh yang lebih dahsyat dari yang disebut di atas. Kalau tokoh dan kelompok yang disebut diatas itu merupakan tokoh fiktif yang tidak pernah ada, Tokoh dan kelompok ini nyata dan benar-benar pernah ada. Mereka lupa (mungkin juga tidak tahu) kalau mereka punya tokoh dan kelompok yang lebih pantas untuk dibanggakan.

Tidakkah mereka tahu kalau orang islam punya Al-Fuqaha’ As-Sab’ah, 7 Pendekar fiqh yang mumpuni dalam hal ilmu dan amal. Mereka yang terdiri dari

  1. Sa’id bin Al-Musayyib,
  2. ‘Urwah bin Az-Zubair bin Al-’Awwam
  3. Sulaiman bin Yasar
  4. Al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr
  5. Abu Bakr bin ‘Abdirrahman
  6. Kharijah bin Zaid
  7. ‘Ubaidullah bin Abdillah bin ‘Utbah bin Mas’ud

Mereka adalah tujuh orang ulama kota Madinah yang keluasan ilmunya tidak saja diakui oleh penduduk negeri tersebut namun diakui pula oleh para ulama di seluruh penjuru negeri. Dikatakan oleh seorang penyair:

إِذَا قِيْلَ مَنْ فِي الْعِلْمِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ                رِوَايَتُهُمْ لَيْسَتْ عَنِ الْعِـلْمِ خَارِجَةْ

فَقُلْ هُمْ عُبَيْدُ اللهِ عُرْوَةٌ قَاسِـمٌ                سَعِيْدٌ أَبُوْبَكْرٍ سُلَيْـمَانُ خَـارِجَةْ

Jika dikatakan siapa (yang keluasan) ilmunya (seperti) tujuh lautan

Riwayat mereka tidak keluar dari ilmu

Katakanlah mereka itu adalah ‘Ubaidullah, Urwah, Qasim

Sa’id, Abu Bakr, Sulaiman, dan Kharijah.

Orang islam juga masih punya al-’Asyarah al-Mubasysyarun bil Jannah, yaitu sepuluh sahabat Nabi yang mendapat kabar gembira dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penghuni surga. Mereka yang termasuk didalamnya adalah

  1. Abu Bakar Siddiq ra.
  2. Umar Bin Khatab ra.
  3. Usman Bin Affan ra.
  4. Ali Bin Abi Thalib ra.
  5. Thalhah Bin Abdullah ra.
  6. Zubair Bin Awaam
  7. Sa’ad bin Abi Waqqas
  8. Sa’id Bin Zaid
  9. Abdurrahman Bin Auf
  10. Abu Ubaidillah Bin Jarrah.

Mana yang lebih pantas, tokoh dan kelompok fiktif atau tokoh dan kelompok yang nyata dan sudah benar-benar teruji kehebatannya?

So, jika masa kecil kita pernah mengidolakan “orang yang tidak tepat”, paling tidak mari kita ajarkan generasi penerus kita untuk tidak melakukan hal yang sama. Yup, mari kita ajarkan kepada anak dan cucu kita tentang kehebatan pahlawan-pahlawan islam.

 

Kyoto, 12 Februari 2014

Hidayat Panuntun

Sebuah kisah: pemutus segala kelezatan

Beberapa hari yang lalu, istri saya sempat bercerita bahwa temannya ada yang meninggal. Dengan umur yang masih muda, tapi Alloh telah memanggilnya pulang. Kita semua memang milik Alloh, dan kematian merupakan sesuatu hal yang pasti terjadi pada setiap yang bernyawa.

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan” (QS. Ali ‘Imran : 185).

Mari kita dengarkan cerita dari sahabat nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, al-Bara’ bin ‘Azib r.a yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan dishahihkan oleh Imam al-Hakim dan Syaikh al-Albani menceritakan perjalanan para manusia di alam kuburnya:

Suatu hari kami mengantarkan jenazah salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari golongan Anshar. Sesampainya di perkuburan, liang lahad masih digali. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun duduk (menanti) dan kami juga duduk terdiam di sekitarnya seakan-akan di atas kepala kami ada burung gagak yang hinggap. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memainkan sepotong dahan di tangannya ke tanah, lalu beliau mengangkat kepalanya seraya bersabda, “Mohonlah perlindungan kepada Allah dari adzab kubur!” Beliau ulangi perintah ini dua atau tiga kali.

Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seandainya seorang yang beriman sudah tidak lagi menginginkan dunia dan telah mengharapkan akhirat (sakaratul maut), turunlah dari langit para malaikat yang bermuka cerah secerah sinar matahari. Mereka membawa kain kafan dan wewangian dari surga lalu duduk di sekeliling mukmin tersebut sejauh mata memandang. Setelah itu turunlah malaikat pencabut nyawa dan mengambil posisi di arah kepala mukmin tersebut. Malaikat pencabut nyawa itu berkata, ‘Wahai nyawa yang mulia keluarlah engkau untuk menjemput ampunan Allah dan keridhaan-Nya’. Maka nyawa itu (dengan mudahnya) keluar dari tubuh mukmin tersebut seperti lancarnya air yang mengalir dari mulut sebuah kendil. Lalu nyawa tersebut diambil oleh malaikat pencabut nyawa dan dalam sekejap mata diserahkan kepada para malaikat yang berwajah cerah tadi lalu dibungkus dengan kafan surga dan diberi wewangian darinya pula. Hingga terciumlah bau harum seharum wewangian yang paling harum di muka bumi.

Kemudian nyawa yang telah dikafani itu diangkat ke langit. Setiap melewati sekelompok malaikat di langit mereka bertanya, ‘Nyawa siapakah yang amat mulia itu?’ ‘Ini adalah nyawa fulan bin fulan’, jawab para malaikat yang mengawalnya dengan menyebutkan namanya yang terbaik ketika di dunia. Sesampainya di langit dunia mereka meminta izin untuk memasukinya, lalu diizinkan. Maka seluruh malaikat yang ada di langit itu ikut mengantarkannya menuju langit berikutnya. Hingga mereka sampai di langit ketujuh. Di sanalah Allah berfirman, ‘Tulislah nama hambaku ini di dalam kitab ‘Iliyyin. Lalu kembalikanlah ia ke (jasadnya di) bumi, karena darinyalah Aku ciptakan mereka (para manusia), dan kepadanyalah Aku akan kembalikan, serta darinyalah mereka akan Ku bangkitkan.’

Lalu nyawa tersebut dikembalikan ke jasadnya di dunia. Lantas datanglah dua orang malaikat yang memerintahkannya untuk duduk. Mereka berdua bertanya, ‘Siapakah rabbmu?’, ‘Rabbku adalah Allah’ jawabnya. Mereka berdua kembali bertanya, ‘Apakah agamamu?’, ‘Agamaku Islam’ sahutnya. Mereka berdua bertanya lagi, ‘Siapakah orang yang telah diutus untuk kalian?’ “Beliau adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam” jawabnya. ‘Dari mana engkau tahu?’ tanya mereka berdua. ‘Aku membaca Al-Qur’an lalu aku mengimaninya dan mempercayainya’. Tiba-tiba terdengarlah suara dari langit yang menyeru, ‘(Jawaban) hamba-Ku benar! Maka hamparkanlah surga baginya, berilah dia pakaian darinya lalu bukakanlah pintu ke arahnya’. Maka menghembuslah angin segar dan harumnya surga (memasuki kuburannya) lalu kuburannya diluaskan sepanjang mata memandang.

Saat itu datanglah seorang (pemuda asing) yang amat tampan memakai pakaian yang sangat indah dan berbau harum sekali, seraya berkata, ‘Bergembiralah, inilah hari yang telah dijanjikan dulu bagimu’. Mukmin tadi bertanya, ‘Siapakah engkau? Wajahmu menandakan kebaikan’. ‘Aku adalah amal salehmu’ jawabnya. Si mukmin tadi pun berkata, ‘Wahai Rabbku (segerakanlah datangnya) hari kiamat, karena aku ingin bertemu dengan keluarga dan hartaku.

Adapun orang kafir, di saat dia dalam keadaan tidak mengharapkan akhirat dan masih menginginkan (keindahan) duniawi, turunlah dari langit malaikat yang bermuka hitam sambil membawa kain mori kasar. Lalu mereka duduk di sekelilingnya. Saat itu turunlah malaikat pencabut nyawa dan duduk di arah kepalanya seraya berkata, ‘Wahai nyawa yang hina keluarlah dan jemputlah kemurkaan dan kemarahan Allah!’. Maka nyawa orang kafir tadi ‘berlarian’ di sekujur tubuhnya. Maka malaikat pencabut nyawa tadi mencabut nyawa tersebut (dengan paksa), sebagaimana seseorang yang menarik besi beruji yang menempel di kapas basah. Begitu nyawa tersebut sudah berada di tangan malaikat pencabut nyawa, sekejap mata diambil oleh para malaikat bermuka hitam yang ada di sekelilingnya, lalu nyawa tadi segera dibungkus dengan kain mori kasar. Tiba-tiba terciumlah bau busuk sebusuk bangkai yang paling busuk di muka bumi.

Lalu nyawa tadi dibawa ke langit. Setiap mereka melewati segerombolan malaikat mereka selalu ditanya, ‘Nyawa siapakah yang amat hina ini?’, ‘Ini adalah nyawa fulan bin fulan’ jawab mereka dengan namanya yang terburuk ketika di dunia. Sesampainya di langit dunia, mereka minta izin untuk memasukinya, namun tidak diizinkan. Rasulullah membaca firman Allah:

لا تفتح لهم أبواب السماء ولا يدخلون الجنة حتى يلج الجمل في سم الخياط

“Tidak akan dibukakan bagi mereka (orang-orang kafir) pintu-pintu langit dan mereka tidak akan masuk surga, sampai seandainya unta bisa memasuki lobang jarum sekalipun.” (QS. Al-A’raf: 40)

Saat itu Allah berfirman, ‘Tulislah namanya di dalam Sijjin di bawah bumi’, Kemudian nyawa itu dicampakkan (dengan hina dina). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah ta’ala:

وَمَن يُشْرِكْ بِاللهِ فَكَأنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيْحُ فِي مَكَانٍ سَحِيْقٍ

“Barang siapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” (QS. Al-Hajj: 31)

Kemudian nyawa tadi dikembalikan ke jasadnya, hingga datanglah dua orang malaikat yang mendudukannya seraya bertanya, ‘Siapakah rabbmu?’, ‘Hah hah… aku tidak tahu’ jawabnya. Mereka berdua kembali bertanya, ‘Apakah agamamu?’ “Hah hah… aku tidak tahu’ sahutnya. Mereka berdua bertanya lagi, ‘Siapakah orang yang telah diutus untuk kalian?’ “Hah hah… aku tidak tahu’ jawabnya. Saat itu terdengar seruan dari langit, ‘Hamba-Ku telah berdusta! Hamparkan neraka baginya dan bukakan pintu ke arahnya’. Maka hawa panas dan bau busuk neraka pun bertiup ke dalam kuburannya. Lalu kuburannya di ‘press’ (oleh Allah) hingga tulang belulangnya (pecah dan) menancap satu sama lainnya.

Tiba-tiba datanglah seorang yang bermuka amat buruk memakai pakaian kotor dan berbau sangat busuk, seraya berkata, ‘Aku datang membawa kabar buruk untukmu, hari ini adalah hari yang telah dijanjikan bagimu’. Orang kafir itu seraya bertanya, ‘Siapakah engkau? Wajahmu menandakan kesialan!’, ‘Aku adalah dosa-dosamu’ jawabnya. ‘Wahai Rabbku, janganlah engkau datangkan hari kiamat’ seru orang kafir tadi. (HR. Ahmad dalam Al-Musnad (XXX/499-503) dan dishahihkan oleh al-Hakim dalam Al-Mustadrak (I/39) dan al-Albani dalam Ahkamul Janaiz hal. 156)

Begitulah bagaimana perjalanan seseorang ketika dia sudah meninggal. Dua perjalanan yang sangat berbeda, yang satu menempuh jalan keselamatan, yang satu menempuh jalan kesesatan.

Semoga Alloh memberikan kepada kita hidayah agar tetap istiqomah di jalan kebenaran sesuai dengan al-quran dan al-hadist.

Kyoto, 3 Februari 2014

Hidayat Panuntun

Merokok Itu…

Tulisan ini saya buat bukan karena saya sensitif terhadap ormas islam tertentu, bukan juga karena kebencian saya, bukan juga karena ketidaksukaan saya kepada para perokok. Artikel ini saya tulis sebagai bentuk rasa kepedulian saya terhadap kesehatan hidup, apalagi sesama muslim. Jadi, mari kita pahami dengan logika yang baik, mudah-mudahan diterima..:)

Ada artikel menarik yang sempat saya baca beberapa waktu yang lalu, yang membuat artikel itu menarik buat saya adalah salah satu ucapan yang dikutip oleh artikel itu

“..sampai kiamat ulama NU ga akan mengharamkan rokok..”

Berikut linknya :

http://www.merdeka.com/peristiwa/pbnu-sampai-kiamat-rokok-tidak-haram.html

http://www.suaranews.com/2013/12/mui-haramkan-rokok-nu-sampai-kiamat.html

Satu pertanyaan sederhana yang ingin saya tanyakan kepada speaker tersebut, apa yang membuatnya yakin bahwa “sampai hari kiamat” padahal kita bahkan tidak pernah tahu apa yang akan terjadi 1 detik yang akan datang. Kok bisa-bisanya dia memastikan “sampai hari kiamat”. Apakah dia mendapatkan kabar langsung dari Langit tentang keputusan itu?atau kah dia memiliki lembaran-lembaran tentang terciptanya Langit dan Bumi? Ataukah ditangannya semua kunci segala urusan? Tentu saja tidak.

Kembali ke permasalah rokok. Berbicara mengenai rokok ini sungguh tidak akan pernah ada habisnya. Ada sebagian ulama yang mengharamkan, ada yang menghalalkan, ada yang memubahkan, ada yang memakruhkan.

Sebelum berbicara mengenai hukum halal dan haram tersebut. Mari kita tanya kepada para perokok.

Kenapa anda merokok?

Tidak sedikit dari jawaban pertanyaan di atas, awal mulanya hanya coba-coba, kemudian merasa enak, kemudian ketagihan, dst. Tidak tahukah dia kandungan bahaya dalam rokok tersebut?? Ada banyak sekali artikel-artikel kesehatan yang telah mengupas masalah bahaya yang dikandung dalam rokok. Silahkan di cari lewat mesin pencari (google, bing, dll) maka anda akan menjumpai kandungan bahan pembuat rokok dan bahayanya.

Kalau sudah memahami bahaya-bahaya yang mengintai yang disebabkan karena merokok, apakah mereka tetap akan merokok? (saya ragu ada yang menjawab “akan berhenti”)

Dari perokok ada yang mengatakan :

  • “merokok kan bisa menambah pendapatan negara karena dikenakan pajak”

SANGGAHAN :

Pendapatan negara dari cukai rokok, ternyata tak sebanding dengan nilai kerugian yang ditimbulkan karena merokok. Pada 2012, pendapatan negara dari cukai, hanya sebesar Rp 55 triliun. Namun, kerugiannya mencapai Rp 254,41 triliun.
Kerugian tersebut, rinciannya adalah uang yang dikeluarkan untuk pembelian rokok Rp 138 triliun, biaya perawatan medis rawat inap dan jalan Rp 2,11 triliun, kehilangan produktivitas akibat kematian prematur dan morbiditas maupun disabilitas Rp 105,3 triliun (sumber :

http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/13/09/19/mtd6bm-kerugian-akibat-rokok-capai-rp-25441-t

http://health.kompas.com/read/2013/11/01/1705424/

Nilai.Kerugian.Akibat.Rokok.Terlalu.Besar)

Apalah artinya pemasukan buat Negara kalau ternyata nombok nya lebih besar dari pada pemasukan yang diterima.

  •  “kalau rokok ga ada yang beli, kasian penjualnya tidak dapat rejeki”

SANGGAHAN :

Siapakah Si Pemberi Rizki untuk setiap manusia, bahkan untuk makhluk hidup paling kecil sekalipun? Anda (perokok)?? Tentu tidak kan.

Sesungguhnya Allah adalah satu-satunya pemberi rizki, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam hal itu. Karena Allah Ta’ala berfirman,

Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah Pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezki kepada kamu dari langit dan bumi?” (QS. Fathir: 3)

Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?” Katakanlah: “Allah.” (QS. Saba’: 24)

Bahkan Seandainya Allah menahan rizki manusia, maka tidak ada selain-Nya yang dapat membuka pintu rizki tersebut. Allah Ta’ala berfirman,

Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Fathir: 2).

Dari penjelasan di atas, jelas sudah bahwa alasan KASIAN KEPADA PENJUAL terbantahkan, karena rejeki itu bukan dari mereka (para perokok). Boleh jadi Allah akan membukakan pintu rejeki lain yang  lebih besar seandainya mereka mau berhenti menjual atau memproduksi rokok. Bahkan si-perokok bisa menabung uang yang biasanya ia gunakan untuk membeli rokok.

  • “merokok atau ga merokok sama saja pasti mati”

 

Sanggahan :

Memang benar, kematian itu adalah suatu ketetapan dari Allah bagi para hamba-hambaNYA yang mempunyai nyawa. Allah berfirman

“Tiap-tiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati” (QS. Ali ‘Imran : 185).

Manusia memiliki hak untuk memilih sendiri-sendiri jalan menuju kematiannya. Masing-masing berbeda dalam memilih jalan kematian. Seorang ayah dengan anaknya berbeda dalam memilih jalan kematian. Antara saudara dengan saudara lainnya berbeda memilih jalan kematian. Yang jelas, muaranya jelas yaitu mati, tapi cara untuk mati ini berbeda-beda.

Jadi silahkah, mana yang anda pilih, apakah mati karena merokok? Silahkan dijawab sendiri..:)

Saya belum membahas masalah rokok tersebut halal dan halam, saya hanya ingin mendiskusikan hal tersebut diatas disertai dengan penjelasan yang ilmiah. Mudah-mudahan Allah melindungi kita dari kebinasaan

“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al Baqarah: 195).

Bersambung (insyaallah)

Kyoto, 19 Desember 2013

Hidayat Panuntun

Teruntuk engkau wahai teman

Syukur dan tahmid terbingkai indah dalam sanjungan hamba untuk Dzat Yang Maha Pemurah. Dia-lah, dengan taufik dan hikmah-Nya, yang memilihkan derajat tinggi untuk hamba atau hina berkepanjangan.

            Shalawat serta salam terangkai elok dalam do’a hamba kepada baginda agung, Muhammad bin Abdillah [saw]. Beliau lah, dengan penuh kasih dan sayang, yang telah mengarahkan jalan-jalan mudah menuju keabadian surga.

           

Kawan…

            Lama sudah rasanya kita tidak berjumpa. Ada rindu yang mengejar sebenarnya, jika sekian waktu berpisah. Sebab, engkau adalah kawan dekatku. Karena, kita pernah berjalan dan hidup bersahabat.

           

Namun, itu dahulu kala…

            Saat kita masih disatukan oleh majelis ilmu. Saat semangatku dan semangatmu dalam thalabul ilmi bagai banjir bandang yang tak terbendung. Ya, momen-momen indah kita dalam suka duka belajar agama.

           

Kawan…

            Masihkah teringat olehmu ? Saat orangtua kita telihat marah karena cara berpakaian kita yang berubah. Apalagi ketika kita mulai senang dan gemar menilai segala sesuatu dengan pandangan agama ?

            Dan, orangtua kita pun akhirnya memaklumi. Sebab, kita masih berdarah muda. Suka dengan hal-hal baru dan menantang.

            Masihkah pula engkau teringat ? Saat nama-nama kita dipanggil dalam sebuah dewan guru. Karena kita terlambat masuk kelas demi menegakkan shalat dzuhur berjama’ah ?

            Dan, akhirnya kita pun menang. Sebab, sebagian guru pun mendukung. Sekali lagi, sebab kita masih muda. Semangat dan sikap idealis kita begitu tinggi.

           

Kawan…

            Masihkah engkau seperti yang dulu ? Bersemangat membara untuk fokus belajar ilmu-ilmu agama ?

           

Kawan…

            Engkau begitu cerdas. Daripada menghafal rumus dan aksioma dalam ilmu matematika, apakah tidak sebaiknya engkau menghafal ayat-ayat suci Al-Qur’an ? Aku yakin engkau pasti mampu menjadi seorang penghafal Al-Qur’an.

            Engkau sungguh pintar. Daripada menghafal nama-nama latin tumbuhan lengkap dengan ordo dan familinya, apakah tidak sebaiknya engkau menghafal hadits-hadits Nabi [saw] lengkap dengan sanadnya ? Aku yakin engkau pasti bisa menjadi seorang penghafal hadits.

            Engkau benar-benar pandai. Daripada engkau menghafal vocabulary dan rumus-rumus tense dalam Bahasa Inggris, apakah tidak sebaiknya engkau menghafal mufradat Bahasa Arab dan menguasai tata Bahasa Arab ? Aku yakin engkau dapat menjadi seorang ahli nahwu dan sharaf.

            Engkau memiliki kekuatan mengingat yang tinggi. Daripada engkau menghafal tahun dan peristiwa yang terjadi dalam lintasan sejarah romawi dan daratan eropa, apakah tidak sebaiknya engkau menghafal tahun dan peristiwa yang terjadi dalam sejarah kehidupan Nabi [saw] ? Aku yakin engkau mampu menjadi seorang ahli tentang sejarah islam.

           

Kawan…

            Dengan kemampuan, kecerdasan, dan kemauan juga tentu dengan pertolongan dari Allah [swt], aku yakin engkau bisa menjadi seorang pembimbing agama.

           

Namun…

Di mana engkau sekarang ?

Kemana engkau pergi ?

Apalagi yang sedang engkau kejar ?

           

Kawan…

            Sedih rasanya saat mendengar tentangmu kini. Cahaya ilmu di wajahmu telah tertukar dengan gelapnya dosa. Sujud dan rukukmu yang lalu telah berubah menjadi langkah-langkah cela. Do’a dan dzikirmu telah berganti nada dan lagu.

Engkau bukan yang dahulu lagi.

           

Kawan…

            Sekuntum surat ini aku rangkaikan untukmu. Moga-moga engkau teringat kembali akan tekad dan cita-citamu untuk menjadi seorang ulama’, penerang umat manusia.

Sungguh, do’aku selalu ada untukmu.

 

Saat Para Wali (Mewanti-wanti) “Budaya” Selamatan/Tahlilan (Part 1)

Malam ini saya membaca sebuah artikel ilmiah yang cukup menarik. Sebuah penelitian tentang walisongo yang dilakukan oleh beberapa peneliti. Dokumen penelitian itu sekarang tersimpan di Museum Leiden, Belanda (Bagi yang tidak percaya bisa dicek di Belanda sana..^^)

 

Penelitian ini melibatkan beberapa peneliti dari belanda yaitu Dr. Bjo Schrieke, Dr. Jgh Gunning, Dr. Da Rinkers.

Mereka meneliti tentang bagaimana persebaran dakwah oleh para walisongo.

 

Dalam naskah tersebut, diantaranya menceritakan tentang bagaimana Sunan Ampel yang memperingatkan Sunan Kalijaga yang masih melestarikan budaya Hindu/Budha ketika itu (SELAMATAN). Saat Sunan Ampel memperingatkan tentang hal tersebut, akan tetapi oleh Sunan Kalijaga dijawab, “BIARLAH NANTI GENERASI SETELAH KITA KETIKA ISLAM TELAH TERTANAM DI HATI MASYARAKAT YANG AKAN MENGHILANGKAN BUDAYA TAHLILAN ITU”.

 

Dalam buku Kisah dan Ajaran Walisongo yang ditulis H. Lawrens Rasyidi (Penerbit Terbit Terang – Surabaya) mengupas panjang lebar mengenai masalah ini. Dimana Sunan Kudus, Sunan Kalijogo, Sunan Gunung Jati, dan Sunan Muria berbeda pandangan mengenai adat istiadat dengan Sunan Bonang, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Drajat.

 

Sunan Kalijogo mengusulkan agar adat istiadat lama seperti selamatan, sesaji, wayang, gamelan disisipkan dalam ajaran islam. Akan tetepi Sunan Ampel mempunyai kekhawatiran dikemudian hari adat istiadat dan upacara lama tersebut nantinya akan dianggap sebagai ajaran yang berasal dari Agama Islam. Sunan Kudus memberikan pengertian, ia mempunyai keyakinan bahwa di belakang hari akan ada yang menyempurnakannya. Sunan Kudus berkeyakinan bahwa kelak akan ada yang mengingatkan bahwa kegiatan itu sebenarnya BUKAN MERUPAKAN BAGIAN DARI AJARAN AGAMA ISLAM. Para Sunan tersebut mengajarkan agama islam dengan mencoba menerima sisa ajaran agama Hindu dan Budha didalam menyampaikan ajaran islam agar diterima masyarakat.

 

Dari hasil penelitian peneliti dari belanda tersebut dapat kita simpulkan bahwa kegiatan seperti tahlilan, selamatan, peringatan kematian (7 hari, 40 hari, 1000 hari, dll) itu merupakan ajaran agama Hindu/Budha yang dulu digunakan oleh para Sunan untuk dakwah Islam agar masyarakat mau menerima ajaran islam.

 

Sesuai dengan yang dikatakan Sunan Kalijaga diatas, “BIARLAH NANTI GENERASI SETELAH KITA KETIKA ISLAM TELAH TERTANAM DI HATI MASYARAKAT YANG AKAN MENGHILANGKAN BUDAYA TAHLILAN ITU”. Berarti ada “tugas” yang belum selesai yang harus disampaikan pada ustadz saat ini.

Bagi mereka yang ngotot mengerjakan kegiatan tersebut. Ada baiknya kita ingatkan mereka tentang sebuah hadist Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam yang diriwayatkan dari jalur Ummul Mu’minin Aisyah rodhiyallahu ‘anha (yang artinya), “Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718.)

 

Ya, Disebut Perkara Baru, Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam tidak pernah melakukan kegiatan tersebut sebelumnya. Ketika Putra Beliau yang bernama Ibrahim meninggal, beliau shallallahu ‘alaihi was sallam tidak pernah melakukan acara Tahlil 7 Hari, 40 Hari, 1000 Hari. Pun Begitu ketika Rasulullah meninggal, para sahabat radhiallahu ‘anhuma ketika itu tidak melakukan tahlilan tersebut. Kalau Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam  dan para sahabat tidak melakukannya, kenapa ada sebagian kaum muslimin saat ini melakukan kegiatan tersebut. betul-betul sebuah perkara yang baru dan (sesuai dengan hadist nabi diatas) TERTOLAK.

 

Seperti yang dikatakan oleh Sunan Kalijaga dalam buku dan hasil penelitian tersebut, Beliau berharap nantinya ketika islam telah tertanam di hati masyarakat, maka kegiatan itu akan hilang. Atau seperti harapan Sunan Kudus yang berharap KELAK AKAN ADA YANG MENGINGATKAN BAHWA KEGIATAN TERSEBUT BUKAN MERUPAKAN BAGIAN DARI AJARAN AGAMA ISLAM.

 

Yang terakhir, saya akan menuliskan tentang peristiwa yang terjadi sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam. Ketika itu sahabat nabi Ibnu Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu melewati suatu masjid yang di dalamnya terdapat orang-orang yang sedang duduk. MEREKA BERTAKBIR, BERTAHLIL, BERTASBIH DENGAN DIPIMPIN OLEH SESEORANG. Lalu Ibnu Mas’ud mengingkari mereka dengan mengatakan, “Hitunglah dosa-dosa kalian. Aku adalah penjamin bahwa sedikit pun dari amalan kebaikan kalian tidak akan hilang. Celakalah kalian, wahai umat Muhammad! Begitu cepat kebinasaan kalian! Mereka sahabat nabi kalian masih ada.Pakaian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga belum rusak.Bejananya pun belum pecah.Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, apakah kalian berada dalam agama yang lebih baik dari agamanya Muhammad?Ataukah kalian ingin membuka pintu kesesatan (bid’ah)?” Mereka menjawab, ”Demi Allah, wahai Abu ‘Abdurrahman (Ibnu Mas’ud), kami tidaklah menginginkan selain kebaikan”. Ibnu Mas’ud berkata, “Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya” (HR. Ad Darimi no. 204. Husain Salim Asad mengatakan sanad hadits ini jayyid).

 

Oleh karena itu, mari kita teruskan tugas para wali yang masih belum terselesaikan tersebut. tepat seperti apa yang dikakatan Sunan Kalijogo ataupun Sunan Kudus waktu mereka mendakwahkan islam. Mereka berharap akan ada orang yang mengingatkan kepada masyarakat saat kegiatan-kegiatan tersebut “dilestarikan” oleh masyarakat, meskipun rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam tidak pernah mengajarkan hal tersebut.

Semoga ALLOH memberikan kepada kita HidayahNYA agar kita bisa selamat dari tipu daya syetan.

 

Semoga ALLOH menjauhkan kita dari sifat SOMBONG. dimana hakikat dari SOMBONG adalah seperti yang dijelaskan Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam dalam suatu hadist. “…Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain. (HR. Muslim no. 91). Kesombongan itu adalah menolak kebenaran, setelah semua bukti-bukti diberikan kepada mereka. Belumkan datang bagi mereka peringatan dari ALLOH dan RasulNYA.

 

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka) dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik” (Al-Hadiid, 16)

 

(Bersambung..)

 

Hidayat Panuntun

Potorono, 16 Februari 2013 (23:27)

Waspada terhadap syirik kecil

Al-Imam adz-Dzahabi di dalam kitab al-Kabair menyebutkan beberapa fenomena dan bentuk syirik ashghar (syirik kecil), di antaranya yaitu:

1.Riya’ Dalam Beribadah.

Barang siapa yang melakukan ibadah atau qurbah (amalan untuk mendekatkan diri kepada Allah ), namun bertujuan untuk Allah dan agar dilihat atau dipuji manusia maka dia telah melakukan syirik ashghar. Sehingga amalan yang dia kerjakan sia-sia dan ditolak. Dalil yang menjelaskan hal itu adalah sebuah hadits qudsi dari dari Rasulullah, bahwa Allah berfirman, artinya,
“Aku tidak membutuhkan sekutu-sekutu, barang siapa yang mengerjakan suatu perbuatan di dalamnya menyekutukan Aku dengan selain-Ku maka Aku tinggalkan dia dan sekutunya.” (HR Muslim)

2.Bersumpah dengan Selain Allah

Di antara bentuk syirik ashghar yang banyak terjadi di masyarkat adalah bersumpah dengan selain Allah . Rasulullah telah bersabda,
“Barang siapa yang bersumpah dengan selain Allah maka dia telah menyekutukan Allah.” (HR. Ahmad, shahihul jami’ no.6204)

Beliau juga telah bersabda,
“Ketahuilah, sesungguhnya Allah telah melarang kalian bersumpah dengan nama bapak-bapak kalian. Barang siapa bersumpah maka hendaknya dia bersumpah dengan nama Allah atau (kalau tidak) hendaknya dia diam.” (HR al-Bukhari, al-Fath 11/530)

Maka tidak dibolehkan seorang muslim bersumpah dengan menyebut selain Allah meskipun tidak bertujuan untuk mengagungkan makhluk dengan sumpah itu. Dan walaupun yang digunakan untuk bersumpah adalah seorang nabi atau orang shalih. Sebagaimana tidak boleh bersumpah dengan menyebut Ka’bah, dengan amanat, kemuliaan, kehidupan fulan, nabi, wali, tidak boleh pula bersumpah dengan nama bapak, ibu, anak, dengan barakahnya si fulan dan kedudukannya. Semua ini hukumnya haram, karena bersumpah hanya dibolehkan dengan menyebut Allah , nama-nama dan sifat-sifat-Nya.

Barang siapa yang terlanjur mengucapkan sumpah yang diharamkan tersebut maka hendaknya dia mengucapkan la ilaha illallah kemudian beristighfar dan tidak mengulangi perbuatan semisal itu. Nabi telah bersabda,
“Barang siapa yang bersumpah dan dia berkata di dalam sumpahnya tersebut dengan menyebut Latta dan Uzza maka hendaknya dia mengucapkan la ilaha illallah.” (HR al-Bukhari di dalam al-Fath 11/546)

Di samping itu ada beberapa kalimat yang mengandung kesyirikan dan sering diucapkan oleh banyak orang, seperti; Aku bertawakkal (bersandar) kepada Allah dan kepadamu; Aku tidak kuasa apa-apa kalau tidak karena Allah dan karenamu; Kalau saja bukan karena Allah dan karenamu; Ini dari Allah dan darimu atau lafal-lafal lain yang semakna dengan ini. Rasulullah telah bersabda,
“Janganlah kalian mengucapkan, “Atas kehedak Allah dan kehendak fulan” akan tetapi ucapkanlah, “Atas kehendak Allah kemudian kehendak fulan.” (HR Abu Dawud, dalam silsilah shahihah, 137)

Demikian juga kalimat-kalimat yang berisi celaan terhadap masa (waktu) seperti; Allah melaknat zaman yang kelam ini; Ini waktu atau hari pembawa sial dan yang semisalnya. Karena mencela masa adalah sama dengan mencela Allah yang telah menciptakan masa tersebut. Nabi bersabda, Allah berfirman, artinya,
“Anak Adam mencela masa, padahal Akulah Masa itu, di tangan-Ku siang dan malam.” (HR al-Bukhari)

Masuk dalam kategori lafal-lafal yang diharamkan adalah memberikan nama dengan segala sesuatu yang diperhambakan kepada selain Allah , seperti Abdul Husain, Abdul Masih, Abdur Rasul, Abdun Nabi dan lain sebagainya.

3. Tathayyur

Yaitu merasa sial karena melihat sesuatu. Tathayyur diambil dari kata thiyarah berasal dari ath-Thair yakni burung. Awal mulanya adalah bahwa dulu orang Arab apabila akan melakukan sesuatu seperti bepergian atau lainnya, maka dia melepaskan burung, kalau burung tersebut terbang ke arah kanan maka dia melanjutkan keinginannya, dan kalau terbangnya ke arah kiri maka dia merasa sial dan mengurungkan keinginannya. Rasulullah telah menjelaskan tentang tathayyur ini dalam sabdanya,
“Thiyarah adalah syirik.” (HR. Ahmad, Shahihul Jami’ 3955)

Dalam sabdanya yang lain disebutkan,
“Bukan termasuk golongan kami orang yang melakukan thiyaroh atau diminta untuk berthiyarah, juga orang yang melakukan perdukunan dan minta didukunkan.” (HR. ath-Thabrani, silsilah hadits shahihah, 2195)

Masuk ke dalam kategori keyakinan yang merusak kemurnian tauhid adalah merasa sial dengan bulan Shafar, merasa sial dengan hari Jum’at tanggal tiga belas atau dengan angka tiga belas. Ini semua hukumnya haram dan termasuk dalam syirik ashghar.

Obat dari penyakit ini adalah dengan betawakkal sepenuhnya kepada Allah. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Thiyarah adalah syirik, dan tidak ada di antara kita kecuali terkadang pada dirinya terlintas sedikit dari tasya’um (rasa sial) ini, akan tetapi Allah menghilangkannya dengan sikap tawakkal.” (riwayat Abu Dawud dan al-Bukhari di dalam al-Adabul Mufrad)

4.Meninggalkan Shalat Karena Malas

Sedangkan jika meninggalkannya karena juhud (mengingkari) atas wajibnya shalat tersebut atau beristihza’ (mengolok-olok) maka dia kafir keluar dari Islam menurut ijma’. Adapun jika meninggalkannya karena malas atau menganggap enteng maka dia telah melakukan dosa besar yang sangat besar, berdasarkan sabda Nabi,
“Perjanjian antara kami dengan mereka adalah shalat, maka barang siapa yang meninggalkannya dia telah kafir.” (HR Ahmad, shahihul jami’, 4143)
“Antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah bila dia meninggalkan shalat.” (HR. Muslim)

Dan menurut sebagian ulama, meninggalkan shalat hukumnya adalah kufur akbar berdasarkan dalil di atas dan dalil-dalil yang lainnya meskipun meninggalkannya karena malas dan menganggap enteng. Terlepas dari dua pendapat yang ada, meninggalkan shalat adalah sesuatu yang sangat berbahaya.

Catatan: Pendapat yang lebih kuat yaitu bahwa orang yang meninggalkan shalat karena malas adalah kafir, wallahu a’lam.

5.Jimat dan Sejenisnya

Termasuk syirik adalah berkeyakinan bahwa manfaat atau kesembuhan dapat diperoleh dari benda-benda yang tidak pernah dijadikan oleh Allah sebagai sebab untuk mendapatkannya. Seperti keyakinan sebagian orang terhadap jimat-jimat, benda pusaka, tuah, logam-logam tertentu, rajah-rajah syirik yang diberikan dan ditulis oleh para dukun dan tukang sihir. Juga keyakinan terhadap benda peninggalan atau warisan orang tua, kakek, lalu digantungkan di leher anak-anak, istri atau ditaruh di kendaraan, di dalam rumah agar dapat menolak bala’, sihir serta memberikan manfaat dan menjadi pagar pelindung.

Semua ini tidak diragukan lagi akan menafikan tawakkal kepada Allah. Dan benda-benda itu tidak memberikan manfaat apa-apa kepada manusia. Jika seseorang berkeyakinan bahwa benda-benda tersebut memberikan manfaat, selain Allah maka dia telah musyrik. Rasulullah bersabda,
“Barang siapa yang menggantungkan jimat maka dia telah syirik.” (HR. Ahmad, silsilah hadits shahihah 492)

Orang yang melakukan itu semua adalah musyrik dengan kemusyrikan yang besar jika dia berkeyakinan bahwa benda-benda tersebut memang memberikan manfaat atau dapat memberikan madharat selain Allah. Adapun jika berkeyakinan bahwa benda tersebut hanya merupakan sebab kemanfaatan dan kemadharatan padahal Allah tidak menjadikannya sebagai sebab untuk mendapatkannya maka dia terjerumus dalam syirik ashghar. Kita berlindung kepada Allah dari semua itu.

Potorono,
6 sya’ban 1432 H (8 juli 2011)

Salahkah Bila Aku Cemburu

Bagi yang sudah menikah, mungkin sering muncul pertanyaan demikian di kalangan para istri ataupun dari suami. Maka jawabnya dapat kita dapati dari kisah-kisah istri Rasulullah n. Mereka pun ternyata memiliki rasa cemburu padahal mereka dipuji oleh Allah l dalam firman-Nya:
Wahai istri-istri Rasulullah, kalian tidak sama dengan seorang wanita pun (yang selain kalian) jika kalian bertakwa…(al-Ahzab: 32)
Al-Imam al-Qurthubi t menyatakan bahwa istri-istri Rasulullah tidak sama dengan wanita lain dalam hal keutamaan dan kemuliaan, namun dengan syarat adanya takwa pada diri mereka. (al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, 14/115)
Rasulullah sendiri sebagai seorang suami memaklumi rasa cemburu mereka, tidak menghukum mereka selama cemburu itu dalam batas kewajaran. ‘Aisyah r.a bertutur tentang cemburunya:
مَا غِرْتُ عَلَى امْرَأَةٍ لِرَسُوْلِ الله n كَمَا غِرْتُ عَلَى خَدِيْجَةَ لِكَثْرَةِ ذِكْرِ رَسُوْلِ اللهِ n إِيَّاهَا وَثَنَائِهِ عَلَيْهَا
“Aku tidak pernah cemburu kepada seorang pun dari istri Rasulullah  seperti cemburuku kepada Khadijah karena Rasulullah n banyak menyebut dan menyanjungnya.” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 5229 dan Muslim no. 2435)
‘Aisyah r.a pernah berkata kepada Rasulullah mengungkapkan rasa cemburunya kepada Khadijah:
كَأَنَّهَ لَمْ يَكُنْ فِي الدُّنْيَا امْرَأَةٌ إِلاَّ خَدِيْجَةُ؟ فَيَقُوْلُ: إِنَّهَا كَانَتْ وَكَانَتْ وَكَانَ لِي مِنْهَا وَلَدٌ
“Seakan-akan di dunia ini tidak ada wanita kecuali Khadijah?” Rasulullah n menjawab, “Khadijah itu begini dan begitu5, dan aku mendapatkan anak darinya.” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 3818)
Al-Hafizh Ibnu Hajar t berkata, “Sebab kecemburuan ‘Aisyah karena Rasulullah n banyak menyebut Khadijah  r.a meski Khadijah r.a telah tiada dan ‘Aisyah r.a aman dari tersaingi oleh Khadijah r.a. Namun karena Rasulullah sering menyebutnya, ‘Aisyah r.a memahami betapa berartinya Khadijah r.a bagi beliau. Karena itulah bergejolak kemarahan ‘Aisyah r.a mengobarkan rasa cemburunya hingga mengantarkannya untuk mengatakan kepada suaminya, “Allah telah menggantikan untukmu wanita yang lebih baik darinya.” Namun Rasulullah n berkata, “Allah  tidak pernah menggantikan untukku wanita yang lebih baik darinya.” Bersamaan dengan itu, kita tidak mendapatkan adanya berita yang menunjukkan kemarahan Rasulullah  kepada ‘Aisyah r.a, karena ‘Aisyah r.a mengucapkan hal tersebut didorong rasa cemburunya yang merupakan tabiat wanita.” (Fathul Bari, 9/395).
Pernah ketika Rasulullah berada di rumah seorang istrinya, salah seorang ummahatul mukminin (istri beliau yang lain) mengirimkan sepiring makanan untuk beliau. Melihat hal itu, istri yang Rasulullah n sedang berdiam di rumahnya segera memukul tangan pelayan yang membawa makanan tersebut hingga jatuhlah piring itu dan pecah. Rasulullah n pun mengumpulkan pecahan piring tersebut kemudian mengumpulkan makanan yang berserakan lalu beliau letakkan di atas piring yang pecah seraya berkata, “Ibu kalian sedang cemburu.” Beliau lalu menahan pelayan tersebut hingga diberikan kepadanya ganti berupa piring yang masih utuh milik istri yang memecahkannya, sementara piring yang pecah disimpan di tempatnya. (Sahih, HR. al-Bukhari no. 5225).
Hadits ini menunjukkan wanita yang sedang cemburu tidaklah diberi hukuman atas perbuatan yang dia lakukan tatkala api cemburu berkobar. Karena dalam keadaan demikian, akalnya tertutup disebabkan kemarahan yang sangat. (Fathul Bari, 9/391, Syarah Shahih Muslim, 15/202)
Namun, bila cemburu itu mengantarkan kepada perbuatan yang diharamkan seperti mengghibah, maka Rasulullah n tidak membiarkannya. Suatu saat ‘Aisyah r.a berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, cukup bagimu Shafiyyah, dia itu begini dan begitu.” Salah seorang rawi hadits ini mengatakan bahwa yang dimaksud ‘Aisyah adalah Shafiyyah itu pendek. Mendengar hal tersebut, Rasulullah n berkata kepada ‘Aisyah:
لَقَدْ قُلْتِ كَلِمَةً لَوْ مُزِجَتْ بِمَاءِ الْبَحْرِ لَمَزَجَتْهُ
“Sungguh engkau telah mengucapkan satu kata, yang seandainya dicampur dengan air lautan niscaya akan dapat mencampurinya (yakni mencemarinya).” (HR. Abu Dawud no. 4232. Isnad hadits ini sahih dan rijal-nya tsiqah, sebagaimana disebutkan dalam Bahjatun Nazhirin, 3/25).
Juga kisah lainnya, ketika sampai berita kepada Shafiyyah r.a bahwa Hafshah  r.a mencelanya dengan mengatakan, “Putri Yahudi”, Shafiyyah menangis. Bersamaan dengan itu Rasulullah n masuk menemuinya dan mendapatinya sedang menangis. Maka beliau pun bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?”
Shafiyyah menjawab, “Hafshah mencelaku dengan mengatakan aku putri Yahudi.”
Rasulullah n berkata menghiburnya, “Sesungguhnya engkau adalah putri seorang Rasulullah, pamanmu adalah seorang Rasulullah, dan engkau adalah istri seorang Rasulullah. Lalu bagaimana dia membanggakan dirinya terhadapmu?”
Kemudian beliau menasihati Hafshah r.a, “Bertakwalah kepada Allah, wahai Hafshah.” (HR. an-Nasa’i dalam ‘Isyratun Nisa, hlm. 43 dan selainnya)

Wallahu a’lam.

Potorono,  2 jumadil akhir 1432H

Hidayat Panuntun