Doa

 

“Kami belum pernah mendapat perintah berkenaan dengan urusanmu…Aku tidak melihat melainkan engkau telah haram baginya…” Begitulah kiranya sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seorang perempuan yang mengajukan pertanyaan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tiada tara kesedihan yang dirasakan shahabiyah tersebut saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda mengenai urusan zhihar. Tiada terbayang olehnya jika harus berpisah dengan suaminya. Wanita tersebut mengadukan hal nya kepada Allah Sang Pemilik Langit dan Bumi, kemudian turunlah ayat al-quran yang mulia yang menjelaskan solusi dari permasalahannya tersebut (QS al-mujadillah, 1-4).

Ayat yang dimulai dengan sebuah kalimat pembuka yang sangat menenangkan hati,

“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Yup, Allah adalah Tuhan Yang Maha Mendengar, Dia Maha Melihat semua yang ada di langit dan di bumi, yang Nampak atau yang tersembunyi.

Allah lah yang telah mendengar doa nabi Yunus saat ia berada pada 3 lapis kegelapan. Allah pula yang mendengar doa 3 orang pemuda yang tejebak di dalam gua. Jadi, jangan berputus asa dari rahmat Allah. Berdoalah kepadaNYA dengan sebaik-baiknya. Dan yakinlah, Dia adalah Tuhan Yang Maha Mendengar.

 

Jadi, wahai diriku..

teruslah engkau berdoa kepada Allah..

jangan lah menyerah, karena engkau berdoa kepada Sang Pemilik segalanya..

jangan lah bersedih, karena engkau berdoa kepada Dzat yang tidak pernah menyianyiakanmu sedikitpun..

pernahkah engkau meminta kepada Allah untuk bernafas..??atau mata yang bisa melihat..?atau minta tangan dan kaki..??

tanpa memintanya, Allah telah memberikan kepadamu dengan gratis..

maka tenanglah..dan percayalah..dia pasti mendengar permohonanmu..

dan menangislah..agar Rabbmu mengabulkan permohonanmu itu..

karena engkau sedang bersimpuh kepada Rabb Yang Maha Mendengar..

maksimalkan ikhtiarmu..kemudian bertawakkal lah kepada NYA..

mudah-mudahan..engkau bisa segera keluar dari kesulitanmu..

 

Kyoto, 12 September 2014

Hidayat Panuntun

Cukuplah Allah sebagai saksi

 

“alhamdulillah, akhirnya selesai mengkhatamkan alquran untuk ke-5 kalinya dalam ramadhan ini”

“alhamdulillah, bisa juga shalat malam kontinyu selama 1 bulan”

“ternyata bisa juga 1 tahun berpuasa daud yaa, mudah2an bisa istiqomah”

“ada yang tahu obat sakit tenggorokan? Sakit nih karena buat ngaji terus tiap malem, biasa kejar target khatam di bulan ramadhan”

“ya Allah, mudahkan lah puasa hamba hari ini”

“ya Allah, semoga Engkau ridha infaq sholat jum’at ku tadi”

Mungkin seperti itulah kira-kira status status di jejaring sosial yang tidak jarang kita jumpai di timeline kita. Setelah selesai berbuat suatu kebaikan, tidak jarang seseorang langsung posting di social media kebaikan yang baru saja mereka lakukan. Saat baru saja ditimpa kesedihan, tidak jarang juga orang langsung posting tentang doa di social media.

RIYA’

Wahai mereka yang suka mengumbar semua itu di social media, tidak takutkah kalian dengan bahaya riya’ yang mengintai??!

“Sesungguhnya yang paling ditakutkan dari apa yang saya takutkan menimpa kalian adalah asy syirkul ashghar (syirik kecil), maka para shahabat bertanya, apa yang dimaksud dengan asy syirkul ashghar? Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Ar Riya’.” (HR. Ahmad dari shahabat Mahmud bin Labid no. 27742)

Posting kebaikan di laman media social tidak akan menyebabkan kebaikan tersebut pasti diterima oleh Allah, justru dikhawatirkan akan merusak niat dari amal kebaikan yang telah dilakukan.

Teman, tahukah kalian sesuatu yang lebih berbahaya dari fitnah Dajjal? Padahal fitnah dajjal adalah fitnah paling besar yang akan menimpa manusia di akhir zaman.

“Maukah aku kabarkan kepada kalian sesuatu yang lebih tersembunyi di sisiku atas kalian daripada Masih ad Dajjal?” Dia berkata,”Kami mau,” maka Rasulullah berkata, yaitu syirkul khafi; yaitu seseorang shalat, lalu menghiasi (memperindah) shalatnya, karena ada orang yang memperhatikan shalatnya”. [HR Ibnu Majah, no. 4204, dari hadits Abu Sa’id al Khudri. Hadits ini hasan-Shahih at Targhib wat Tarhib, no. 30]

Amalan yang disertai riya’ justru nanti di hari kiamat tidak akan mendapatkan pahala apapun dari Allah azza wa jalla.

“Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil, yaitu riya’. Allah akan mengatakan kepada mereka pada hari Kiamat tatkala memberikan balasan atas amal-amal manusia “Pergilah kepada orang-orang yang kalian berbuat riya’ kepada mereka di dunia. Apakah kalian akan mendapat balasan dari sisi mereka?” [HR Ahmad, V/428-429 dan al Baghawi dalam Syarhus Sunnah, XIV/324, no. 4135 dari Mahmud bin Labid. Lihat Silsilah Ahaadits Shahiihah, no. 951]

Kita bukanlah orang yang bisa memastikan hati kita tetap bersih dari gangguan syaitan. Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan kepada kita doa agar hati tetap tertambat pada ketaatan.

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan sebuah hadits dalam Shahih-nya, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Ash Radhiyallahu ‘anhuma , dia mengatakan :

“Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya kalbu-kalbu keturunan Adam berada di antara dua jari dari jari-jari Allah laksana satu hati, Allah membolak-balikannya sesuai kehendakNya,” kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa: “Ya Allah, Dzat yang membolak-balikan hati, palingkanlah hati-hati kami kepada ketaatanMu”.

Maka sudah sepatutnya bagi mereka yang suka mengubar kebaikan di dunia maya untuk merubah kebiasaan mereka, hanya untuk menjaga dari riya’ yang bisa menyerang hati seorang hamba setiap saat. Lebih baik waktu yang mereka gunakan saat akan mengetik status tersebut diganti dengan berdoa yang khusuk didalam hati memohon kepada Allah agar kebaikan yang dilakukan diterima oleh-NYA.

Begitu pula dengan berdoa, saya yakin teman-teman pernah menjumpai doa seperti di bawah ini pada laman media social:

“ya Allah, mudahkan lah puasa hamba hari ini”

“ya Allah, semoga Engkau ridha infaq sholat jum’at ku tadi”

“ya Allah, ban motor bocor, kena tilang, kehujanan, sungguh cobaanmu hari ini begitu berat”

Hallow, apakah Allah azza wa jalla aktif bersosial media dan kemudian akan memberikan komentar di bawah status tersebut??!

Mahasuci Allah Rabb pemilik semesta alam, justru berdoa yang seperti itu dikhawatirkan akan menyebabkan timbulnya Riya’ dalam amal perbuatan manusia.

Selayaknya kita belajar dari nabi Ya’qub saat ditimpa ujian kesedihan yang mendalam. Ucapan yang Allah abadikan dalam al-quran, beliau mengatakan”

“…Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku…” (QS. Yusuf: 86)

 

MENYEMBUNYIKAN AMALAN ADALAH TANDA IKHLAS.

Cukuplah bagi kita Allah saja yang tahu semua kebaikan amal yang telah kita lakukan. Mengumbarnya disosial media tidak akan menjadikan amal tersebut jadi semakin besar pahalanya, bahkan justru akan mengancam amal kebaikan itu sendiri apabila timbul riya’ setelah posting di social media. Imam syafi’I rahimahullah mengatakan “Sudah sepatutnya bagi seorang alim memiliki amalan rahasia yang tersembunyi, hanya Allah dan dirinya saja yang mengetahuinya. Karena segala sesuatu yang ditampakkan di hadapan manusia akan sedikit sekali manfaatnya di akhirat kelak.”

Teman, tahukah kalian golongan orang yang akan mendapatkan naungan di hari kiamat nanti?

“…Seseorang yang bersedekah kemudian ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya…” (HR. Bukhari no. 1423 dan Muslim no.1031,dari Abu Hurairah)

‘Ali bin Al Husain bin ‘Ali, salah seorang keturunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi contoh sempurna untuk hadist ini. Dikisahkan beliau suka berjalan di malam hari membagi-bagi bahan makan ke rumah-rumah secara sembunyi. Beliau mengatakan:

Sesungguhnya sedekah secara sembunyi-sembunyi akan meredam kemarahan Rabb ‘azza wa jalla.

Tidak ada seorang penduduk madinah pun yang tahu siapa yang memberi mereka bahan makanan tiap hari. Mereka hanya tahu bahan makanan tersebut berhenti mereka dapatkan saat ‘ali bin Husain meninggal dunia. Akhirnya mereka sadar, ‘ali bin Husain lah yang selama ini membagi-bagikan bahan makanan untuk mereka.

Ibnu jauzy menceritakan dalam bukunya Shifatus Shofwah, Daud bin Abi Hindi berpuasa selama 40 tahun dan tidak ada satupun orang, termasuk keluarganya yang mengetahuinya. Ia adalah seorang penjual sutera di pasar. Di pagi hari, ia keluar ke pasar sambil membawa sarapan pagi. Dan di tengah jalan menuju pasar, ia pun menyedekahkannya. Kemudian ia pun kembali ke rumahnya pada sore hari, sekaligus berbuka dan makan malam bersama keluarganya. Jadi orang-orang di pasar mengira bahwa ia telah sarapan di rumahnya. Sedangkan orang-orang yang berada di rumah mengira bahwa ia menunaikan sarapan di pasar.

Subhanallah, itulah secuil kisah para salaf dalam menyembunyikan amal kebaikan mereka. Mereka tidak membutuhkan orang lain untuk tahu kebaikan apa yang telah mereka lakukan. Bagi mereka, cukuplah Allah sebaik-baik Rabb yang mencatat setiap perbuatan yang menjadi saksi.

 

Kyoto, 18 Juli 2014

Hidayat Panuntun

Bersabarlah..karna Allah bersama kita

Dengan yakinnya saat itu Nabi Musa ‘alaihissalam menjawab “Aku”.. Ya, itulah jawaban Nabi Musa saat ditanya oleh kaumnya siapakah orang yang paling alim di muka bumi, dan Musa pun menjawab “Aku”. Sebuah jawaban yang kemudian Allah menghadirkan kisah perjalan Nabi Musa sebanyak 23 ayat di surat alkahfi. Nabi Musa adalah salah satu rasul ulul ‘azmi, Rasul yang termasuk dalam kategori istimewa karena ketabahan dan kesabaran mereka dalam mengemban risalah tauhid yang diberikan Allah pada mereka. Tapi Musa pernah tidak bisa bersabar saat berjalan bersama dengan seorang hamba diantara hamba-hamba kami (nabi khidir) yang kemudian Allah hadirkan kisah perjalanan tersebut secara lengkap di surat al-kahfi.

Ada yang menarik di kisah pada surat al-kahfi tersebut, saat Musa berkata kepada Khidir “…Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar…”(al-kahfi, 69). Coba bandingkan dengan gaya bahasa Nabi Ismail saat sang ayah bermaksud menyembelihnya demi melaksanakan perintah Allah,

Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar”(As-saaffaat, 102)

Para mufassirin berpendapat, gaya bahasa nabi Musa over confident, Ismail memandang dirinya sebagian kecil dari dari orang-orang yang dikarunia kesabaran. Tapi Musa, menjanjikan kesabaran atas nama pribadinya. Dan, seperti yang telah kita ketahui di sura al kahfi tersebut, Musa gagal bersabar disetiap kesempatannya bersama Khidir. Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam pun berkomentar “seandainya Musa bisa lebih bersabar, mungkin kita akan memperoleh lebih banyak pelajaran”.

Wallahu ‘alam, seperti itulah karakter nabi Musa. Beliau diutus kepada kaum yang paling ngeyel, keras kepala sedunia. Kaum yang paling menindas dan paling angkuh yang ada hingga saat ini. Beliau diutus saat itu untuk memperingatkan kaum yang rajanya mendakwakan diri sebagai tuhan. Fir’aun, itulah nama raja tersebut.

Kaum tersebut adalah kaum yang kita kenal dengan nama kaum Yahudi. Mari kita lihat bagaimana keras kepala, angkuh, dan sombongnya kaum Yahudi tersebut. Allah menggambarkan bagaimana kaum yahudi di surat Al-baqarah ayat 96

“Dan sungguh kamu akan mendapati mereka (Yahudi – Bani Israil), manusia yang paling tamak kepada kehidupan dunia (rakus akan harta), bahkan (lebih tamak) daripada orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari adzab. Dan Allooh Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (al-baqarah, 96)

 

Dan juga peristiwa di hari sabat yang kemudian Allah mengabadikan peristiwa tersebut pada surat al-baqarah (163-166)

dan Tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka Berlaku fasik.

Hingga sampai di akhir ayat,

Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang dilarang mereka mengerjakannya, Kami katakan kepadanya: “Jadilah kamu kera yang hina.

Mari kita lihat lagi bagaimana keras kepalanya kaum Yahudi di surat An-nisaa ayat 153 berikut ini:

Ahli kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah kitab dari langit. Maka Sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. mereka berkata: “Perlihatkanlah Allah kepada Kami dengan nyata”. Maka mereka disambar petir karena kezalimannya, dan mereka menyembah anak sapi, sesudah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata, lalu Kami ma’afkan (mereka) dari yang demikian. dan telah Kami berikan kepada Musa keterangan yang nyata (an-nisaa, 153)

Juga soal meminta makanan yang lain, padahal di sisi mereka telah ada makanan yang turun dari syurga. Allah berfirman pada surat Al-baqarah ayat 61

Dan Kami naungi kamu dengan awan, dan Kami turunkan kepadamu “manna” dan “salwa”. Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu; dan tidaklah mereka menganiaya Kami; akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. (Al-baqarah 57)

Dan (ingatlah), ketika kamu (yahudi) berkata: “Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya”. Musa berkata: “Maukah kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta” (al-baqarah, 61)

Israel bukan Yahudi.

Israel adalah nama lain dari Nabiyullah Ya’qub. Dan nama ini diakui sendiri oleh orang-orang yahudi  sebagaimana disebutkan dalam hadis yang di riwayatkan dari abu daud, dari Ibn Abbas radhiallahu ‘anhu: “Sekelompok orang yahudi mendatangi Nabi untuk menanyakan empat hal yang hanya diketahui oleh seorang nabi. Pada salah satu jawabannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: “Apakah kalian mengakui bahwa Israil adalah Ya’qub?” Mereka menjawab: “Ya, betul.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ya Allah, saksikanlah.” (HR. Daud At-Thayalisy 2846)

Ada yang besar yang perlu diperhatikan oleh kaum muslimin, Penamaan negeri yahudi dengan Israel termasuk dari sekian banyak konspirasi yahudi terhadap dunia. Mereka menutupi kejahatan mereka dengan nama bapak mereka Israel. Karena mereka bisa jadi telah sadar seandainya memakai nama negera Yahudi         akan dicap jelek oleh seluruh dunia. Mengingat Allah telah mencela mereka (yahudi) di banyak ayat pada al-quran.

Mungkin ada yang mengatakan “kami tidak bermaksud untuk menghina nabi ya’qub, tapi sebaliknya yang kami maksud itu adalah Yahudi”. Tahukah anda ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah di Mekkah, Orang-orang musyrikin Quraisy mengganti nama Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Mudzammam (manusia tercela) sebagai kebalikan dari nama asli Beliau Muhammad (manusia terpuji). Mereka gunakan nama Mudzammam ini untuk menghina dan melaknat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. misalnya mereka mengatakan; “terlaknat Mudzammam”, “terkutuk Mudzammam”, dan seterusnya. Dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak merasa dicela dan dilaknat, karena yang dicela dan dilaknat orang-orang kafir adalah “Mudzammam” bukan “Muhammad”, Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidakkah kalian heran, bagaimana Allah mengalihkan dariku celaan dan laknat orang Quraisy kepadaku, mereka mencela dan melaknat Mudzammam sedangkan aku Muhammad.” (HR. Ahmad & Al Bukhari)

Meskipun maksud orang Quraisy adalah mencela Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun karena yang digunakan bukan nama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam maka Beliau tidak menilai itu sebagai penghinaan untuknya. Dan ini dinilai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bentuk mengalihkan penghinaan terhadap dirinya. Oleh karena itu, bisa jadi orang-orang Yahudi tidak merasa terhina dan dijelek-jelekkan karena yang dicela bukan nama mereka namun nama Nabi Ya’qub ‘alaihis salam.

Kembali ke kisah nabi musa dan nabi khidir, ada ending yang menarik di akhir kisah tersebut saat nabi khidir menceritakan maksud dibalik semua yang telah dilakukan terhadap kapal, terhadap anak, dan rumah. Nabi khidir berkata “wa maa fa’altuhu ‘an amrii”, apa yang aku lakukan ini bukanlah keinginanku. Ya.. Nabi khidir melakukan semua itu karena Allah telah mewahyukan secara lengkap kejadian apa yang terjadi sebelum, saat, dan yang akan datang pada Nabi Khiddir.

Apakah itu berarti Nabi Khiddir lebih utama dari Nabi Musa? Tentu saja tidak

Musa termasuk dalam golongan rasul istimewa, Golongan ulul ‘azmi bersama Nuh, Ibrahim, ‘Isa, dan Muhammad. Maka Musa lebih utama dari Nabi Khiddir.

“Hai Musa, sesungguhnya Aku telah melebihkan engkau dari antara manusia, untuk membawa risalahKu dan untuk berbicara secara langsung denganKu.” (Al A’raaf 144)

Allah memerintahkan kita meneladani para Rasul yang kisah mereka bisa kita jumpai dalam Al Quran ditujukan untuk menguatkan jiwa kita dalam meniti kehidupan dunia. Para Rasul itu, utamanya Rasul-rasul Ulul ‘Azmi menjadi bisa kita teladani karena mereka memiliki sifat-sifat manusiawi. Mereka tak seperti malaikat. Juga bukan manusia setengah dewa. Mereka bertindak melakukan tugas-tugas yang luar biasa beratnya dalam keterbatasannya sebagai seorang manusia.

Justru keagungan para Rasul itu terletak pada kemampuan mereka menyikapi perintah yang belum tersingkap hikmahnya dengan iman. Dengan iman. Berbeda dengan Khidzir yang diberitahu skenario dari awal hingga akhir atas apa yang harus dia lakukan –ketika mengajar Musa-, para Rasul seringkali tak tahu apa yang akan mereka hadapi atau terima sesudah perintah dijalani. Mereka tak pernah tahu apa yang menanti di hadapan. Yang mereka tahu hanyalah Allah pasti bersama mereka.

Nuh yang bersusah payah membuat kapal di atas bukit tentu saja harus menahan geram ketika dia ditertawai, diganggu, dan dirusuh oleh kaumnya. Tetapi, sesudah hampir 500 tahun mengemban risalah dengan pengikut yang nyaris tak bertambah. Ya.. 950 tahun lamanya ummat nabi Nuh tetap hanya sedikit. Nuh berkata dengan bijak, “Kelak kami akan menertawai kalian sebagaimana kalian kini menertawai kami”, Tentu saja Nuh belum tahu Allah akan menurunkan banjir. Air tercurah dari langit, keluar dari dalam bumi. Nuh belum tahu. Yang ia tahu adalah ia diperintahkan membina kapalnya. Yang ia tahu adalah ketika dia laksanakan perintah Rabbnya, maka Allah bersamanya. Dan alangkah cukup itu baginya. ‘Alaihis Salaam..

Begitu pula Nabi Ibrahim saat beliau bermimpi mendapatkan perintah untuk menyembelih anaknya yang masih kecil. Ibrahim tidak pernah tahu apa yang akan terjadi saat ia benar-benar menyembelih putra tercintanya. Anak itu, yang lama dirindukannya, yang dia nanti dengan harap dan mata gerimis di tiap doa, tiba-tiba dititahkan untuk dipisahkan dari dirinya. Dulu ketika lahir dia dipisah dengan ditinggal di lembah Bakkah yang tak bertanaman, tak berhewan, tak bertuan. Kini Isma’il harus disembelih. Bukan oleh orang lain. Tapi oleh tangannya sendiri.

Dibaringkanlah sang putera yang pasrah dalam taqwa. Dan ayah mana yang sanggup membuka mata ketika harus mengayau leher sang putera dengan pisau? Ayah mana yang sanggup mengalirkan darah di bawah kepala yang biasa dibelainya sambil tetap menatap wajah? Tidak. Ibrahim terpejam. Dan ia melakukannya! Ia melakukannya meski belum tahu bahwa seekor domba besar akan menggantikan sang korban. Yang diketahuinya saat itu bahwa dia diperintah Tuhannya. Yang ia tahu adalah ketika dia laksanakan perintah Rabbnya, maka Allah bersamanya. Dan alangkah cukup itu baginya. ‘Alaihis Salaam..

Ibu Nabi Musa yang mendapatkan ilham dari Allah untuk menghanyutkan anaknya Musa ke sungai, belum tahu apa yang terjadi setelah ia menghanyutkan anaknya.

Yaitu ketika Kami mengilhamkan kepada ibumu suatu yang diilhamkan. Yaitu: “Letakkanlah ia (Musa) didalam peti, kemudian lemparkanlah ia ke sungai (Nil), Maka pasti sungai itu membawanya ke tepi, supaya diambil oleh (Fir’aun) musuh-Ku dan musuhnya. dan aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku; dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku. (yaitu) ketika saudaramu yang perempuan berjalan, lalu ia berkata kepada (keluarga Fir’aun): “Bolehkah saya menunjukkan kepadamu orang yang akan memeliharanya?” Maka Kami mengembalikanmu kepada ibumu, agar senang hatinya dan tidak berduka cita. dan kamu pernah membunuh seorang manusia,..” (QS-Thohaa, 38-40)

 

Begitu pula dengan musa dan kaumnya saat menemui jalan buntu, terpepet di tepi laut dalam kejaran Fir’aun dan bala tentaranya. Bani Israel yang dipimpinnya sudah riuh tercekam panik. “Kita pasti tersusul! Kita pasti tersusul!”, kata mereka “Tidak!”, seru Musa. “Sekali-kali tidak akan tersusul! Sesungguhnya Rabbku bersamaku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” Petunjuk itupun datang. Musa diperintahkan memukulkan tongkatnya ke laut. Nalar tanpa iman berkata, “Apa gunanya? Lebih baik dipukulkan ke kepala Fir’aun!” Ya, bahkan Musa pun belum tahu bahwa lautan akan terbelah kemudian. Yang dia tahu Allah bersamanya. Dan itu cukup baginya. ‘Alaihis Salaam..

Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berdoa dengan khusuknya di malam sebelum pertempuran badar. Dalam sirah dituliskan bahwa rasul shalat dan berdoa sepanjang malam, dalam doanya beliau berkata, Andai pasukan ini kalah, maka engkau tidak tidak akan lagi disembah dimuka bumi ini (HR. Muslim 3/1384 hadits no 1763). Saat itu beliau tidak tahu bagaimana akhir dari pertempuran tersebut. Saat 300 kaum muslimin akan berperang melawan 1000 lebih pasukan kafirin. Akal sehat manusia pasti akan berpikir, yang 1000 pasti akan mengalahkan yang 300. Tapi kuasa Allah diatas segalanya. Allah pun mengabarkan kemenangan lewat perantara Rasulnya di pagi hari. Saat Rasul melihat bantuan 3000 malaikat yang datang dari langit berturut-turut dengan Jibril sebagai komandannya. Sebuah pemandangan yang membuat syetan yang ada di pihak kaum kafir ketika itu pun mundur. Tepat pada tanggal 17 Ramadhan tahun 2 hijrah, Sejarah mencatat bagaimana kuasa Alloh bekerja terhadap semua makhluk ciptaanNYA. Pasukan yang jumlah nya sedikit tersebut dimenangkan oleh Allah.

Kuncinya kesabaran.

Sabar adalah bingkai yang tepat untuk doa, usaha, dan tawakal yang telah kita lakukan. Tidak ada seorangpun dari makhluk ciptaan Allah yang tidak diuji kesabarannya. Allah pasti akan menguji para hambaNYa dengan berbagai musibah, maka kewajiban hambaNya adalah bersabar dalam menghadapi ujian tersebut.

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”.. mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (al-baqarah, 155-157).

Ya.. “innalillahi wa inna ilahi raaji’uun”, sesungguhnya  kita semua adalah milik Allah dan kepadaNYAlah kita dikembalikan. Ungkapan sabar yang sungguh indah yang diajarkan Allah untuk kita. Sebuah ucapan yang bahkan tidak diajarkan oleh Allah kepada Nabi ya’qub saat ditimpa musibah kehilangan anak yang paling dicintainya, yusuf. Ya’qub hanya mengucapkan “fashobrun jamiil”, maka kesabaran yang baik itulah kesabaranku.

Maka, semua urusan itu bagi seorang muslim adalah baik. Rasul pun mengabarkan betapa mengherankannya urusan seorang muslim itu.

Dari Shuhaib, dia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mengherankan urusan seorang Mukmin. Sesungguhnya semua urusan orang Mukmin itu baik, dan itu tidaklah ada kecuali bagi orang mukmin. Jika kesenangan mengenainya, dia bersyukur, maka syukur itu baik baginya. Dan jika kesusahan mengenainya, dia bersabar, maka sabar itu baik baginya [HR. Muslim, no: 2999]

 

Kita di padang mahsyar

Saat ini, tidak sedikit manusia di tengah kesibukannya dalam urusan dunia, mereka melalaikan perkara akhirat. Mereka seolah lupa bahwa mereka bergerak pada satu titik yang sama, yaitu kematian. Mereka seolah lupa jika nanti akan tiba masanya Rabb pemilik langit akan menghancur luluhkan semua yang ada di semesta ini. Apabila hari itu tiba, maka habislah masa untuk mencari bekal bagi manusia dan berganti masa penghisapan menanti untuk mereka.  

Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup. dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur.Maka pada hari itu terjadilah hari kiamat (al-haaqqah, 13-15)  

(yaitu) pada hari Kami gulung langit sebagai menggulung lembaran – lembaran kertas. sebagaimana Kami telah memulai panciptaan pertama Begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; Sesungguhnya kamilah yang akan melaksanakannya. (al-anbiya’, 104)

Bisakah kita membayangkan gunung tertinggi yang ada di dunia saat ini.. Kalau sudah, segera bayangkan gunung tersebut hancur sehancur-hancurnya, menjadi debu yang berterbangan. Itu gambaran kejadian bagaimana Allah menghancurkan gunung di hari kiamat.  

dan mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung, Maka Katakanlah: “Tuhanku akan menghancurkannya (di hari kiamat) sehancur-hancurnya (thahaa, 105)

Kebangkitan Manusia

Itulah hari saat keraguan manusia akan hari berbangkit disingkap. Mereka yang dahulu di dunia tidak percaya akan hari kebangkitan, tidak percaya adanya hari pembalasan. Mereka dahulu yang ragu, apakah setelah mereka menjadi tulang belulang akan dihidupkan lagi. Mereka akan terkejut tepat setelah mereka dibangkitkan dari kubur. Itu adalah permulaan dari saat yang berat bagi orang yang kafir. 

dan ia membuat perumpamaan bagi kami; dan Dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?” Katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. dan Dia Maha mengetahui tentang segala makhluk (Yaasiin, 78-79)  

mereka berkata: “Aduhai celakalah kami! siapakah yang membangkitkan Kami dari tempat-tidur Kami (kubur)?”. Inilah yang dijanjikan (tuhan) yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul- rasul(Nya). (Yaasiin,52)

Padang Mahsyar

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Pada hari kiamat, matahari didekatkan jaraknya terhadap makhluk hingga tinggal sejauh satu mil.” –Sulaim bin Amir (perawi hadits ini) berkata: “Demi Allah, aku tidak tahu apa yang dimaksud dengan mil. Apakah ukuran jarak perjalanan, atau alat yang dipakai untuk bercelak mata?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sehingga manusia tersiksa dalam keringatnya sesuai dengan kadar amal-amalnya (yakni dosa-dosanya). Di antara mereka ada yang keringatnya sampai kedua mata kakinya. Ada yang sampai kedua lututnya, dan ada yang sampai pinggangnya, serta ada yang tenggelam dalam keringatnya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan isyarat dengan meletakkan tangan ke mulut beliau.” (Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2864)

Mereka pun mulai bertanya kepada yang lain tentang berapa lama mereka tinggal di dunia.Ÿ  

Allah bertanya: “Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?”. mereka menjawab: “Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, Maka Tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.”. Allah berfirman: “Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu Sesungguhnya mengetahui” (al-mu’minuun,112-114)

Di ayat yang lain Allah menyebutkan kadar 1 hari,  

malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun. (al-ma’aarij, 4)

mari kita melakukan hitungan sederhana, mengambil patokan ayat tersebut dimana 1 hari = 50000 tahun.

Kita samakan usia hidup manusia di bumi adalah 63 tahun (sama dengan usia hidup rasulullah).

1 Hari di akhirat sama dengan 50000 tahun di dunia (Qs al-ma’ariij, 4), hal ini berarti 24 jam di akhirat  = 50000 tahun di dunia. Maka,

1 jam akhirat= 2083.33 tahun, berarti untuk usia 63 tahun akan sama dengan

63 tahun/2083.33 tahun = 0.03 jam atau 1.8 menit. Ya, dengan mengambil patokan ayat diatas, masa hidup manusia ternyata hanya 1.8 menit saja. Bisa dibayangkan betapa pendeknya masa tersebut. Maka pantaslah apabila Allah mengumpakan kehidupan di dunia itu seperti hanya di waktu sore atau pagi hari, sangat sebentar sekali. 

pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari (an-naazi’at, 46)

Ada yang lebih mencengangkan lagi, jika kita membandingkan dengan hitungan para pakar fisika dan astronomi NASA. Berdasarkan pendekatan kosmik, yaitu setelah dimulainya ledakan big bang yang menyebabkan terbentuknya tata surya, mereka menghitung 1 detik = 438 tahun kosmik. Jadi seandainya umur manusia adalah 63 tahun, maka sesungguhnya mereka hanya 0.143 detik kosmik. Masyaallah!

Maka pantaskah pada kehidupan yang sebentar ini kita disibukkan dengan dunia dan melalaikan akhirat? Setelah tahu sedikit waktu yang diberikan kepada kita, akankah kita menggunakan waktu yang singkat ini untuk mendapatkan kenikmatan dunia yang hanya sesaat? Atau menggunakan waktu yang singkat tersebut untuk mendapatkan kebahagian kampong akhirat yang hakiki?

 

Kyoto, 11 Juli 2014

Hidayat Panuntun

 

Wahai istriku..

 

Wahai istriku..hari ini, 2 tahun yang lalu adalah saat yang sangat mendebarkan untukku.. Saat aku menggenapkan separuh agamaku dengan menjadikan engkau sebagian tulang rusukku..

 

Wahai istriku..seperti mimpi nabi melihat ‘aisyah..saat malaikat membawa gambarnya pada sepotong kain sutra..saat itu aku pun berdoa, agar Allah berkenan menjadikan engkau pelengkap agamaku..

 

Wahai istriku..Engkau memilihku disaat banyak yang datang memintamu..Engkau memilihku padahal aku tidak punya apa-apa..Engkau memilihku padahal aku tidak setampan nabi yusuf, sekaya nabi sulaiman, segagah nabi musa..

 

Wahai istriku..Saat kebanyakan orang memilih untuk jatuh cinta..Bersama engkau aku memilih untuk membangun cinta..Membangun setinggi-tingginya untuk menggapai syurga..

 

Wahai istriku..ingatkanlah aku jika aku keliru..tegurlah aku jika ada hakmu yang terlalaikan..maafkanlah aku jika aku berbuat salah terhadap engkau..Sungguh aku hanya menginginkan kebaikan untuk keluarga kecil kita..

 

Wahai istriku..Engkaulah madrasah peradaban pertama di rumah kita..Engkaulah yang membentuk anak kita..Dibalik ketegasanmu, ada aura kelembutan yang sangat menyejukkan..Dalam kasih sayangmu, terdapat kekuatan yang menggetarkan..Kesabaranmu dan ketundukanmu yang tanpa batas membuatmu semakin cantik melebihi bidadari..Sungguh memang tak salah Rasulullah menyebutmu 3x berulang..Karena engkau memang tak tergantikan..Oleh siapapun..

 

Wahai istriku..kebaikanmu sungguh sangat besar..Ketaatan, kesetiaan, dan pengorbanaanmu begitu sangat terasa oleh diriku..Wahai istriku..Semoga Allah membalas semua itu dengan memasukkanmu kedalam syurgaNya..karena itu mengingatkan aku dengan sebuah hadist…“Apabila seorang istri mengerjakan shalat lima waktu, berpuasa pada bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya, niscaya ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang ia kehendaki.”  (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan di shahihkan oleh syaikh al-Albani)..

 

Wahai istriku..semoga Allah menjaga rumah tangga kita diatas ketaatan kepada Allah hingga akhir kehidupan kita di dunia..Dan mempertemukan kembali keluarga kita di awal kehidupan yang abadi di kampung akhirat, didalam syurgaNya..

 

kyoto, 8 Juli 2014

Hidayat Panuntun

Engkau adalah karunia Allah untukku

 

Alkisah suatu ketika saat sepasang suami istri sedang jalan-jalan, si istri tiba-tiba bertanya, “yang, mana yang lebih cantik, ummi atau perempuan di bawah pohon itu”. Si abi yang menyadari “pertanyaan jebakan” dari istri pun memilih untuk diam pura-pura tidak mendengarkan. Si istri pun mengulangi pertanyaan dengan suara yang lebih keras, “sayaang, mana yang lebih cantik antara ummi dan perempuan di bawah pohon itu?”. Si Abi masih saja pura-pura tidak paham dengan pertanyaan istrinya kemudian menjawab, ‘hah, apa mi? (sambil siul siul melihat langit)”. Si istri sudah mulai merah padam, “cepet jawaab!”. Akhirnya si suami pun menjawab, “cantik ummi lah”. Baru selesai menjawab, si istri kemudian langsung menyahut, “abi bohoong.. yang jujur abii”, sambung si istri sambil cemberut. Demi melihat si istri tidak cemberut akhirnya si suami menjawab , “ya udah, cantik dia dikit ummi”. Si istri pun langsung menyahut dengan cepatnya, “dasar abi mata keranjaaang”. Si abi (Suami).. (pura-pura mati).

 

Di lain kesempatan, suatu ketika si istri tertidur menunggu suami pulang dari kantor. Si suami lupa untuk mengabarkan kepada istri bahwa ia akan pulang terlambat. Sesampainya di rumah, si suami pun langsung tidur, karena saking capeknya, si suami pun tertidur tanpa memeluk istrinya. Menjelang shubuh pun si suami bangun untuk melaksanakan sholat malam, suami terkejut saat melihat istrinya sudah bangun dan menangis sesenggukan. Dengan halus suami pun bertanya kepada istri, “ummi kenapa menangis?”. Istri pun menjawab, “abi dah ga sayang lagi sama ummi!”. Jedeeer, suami pun bingung dibuatnya, “kenapa?” tanya suami. “Tadi malem ummi tidurnya ga dipeluk”, kata istri.  Si abi (suami), “tuiing…tuing, (jedot-jedotin kepala ke tembok)”

 

Begitulah seorang perempuan dengan sifat-sifatnya yang telah Allah tetapkan untuk perempuan. Sebagai seorang laki-laki (suami), haruslah bisa memahami sifat dan karakteristik tersebut. Bagi yang sudah berumah tangga, mungkin ada “kejadian menarik” lainnya yang akan membuat tersenyum lebar saat mengingat kejadian tersebut.

Tidak sedikit orang yang sudah berumah tangga, saat ditanya tentang pengalaman mengarungi bahtera rumah tangga, mereka akan menjawab “ternyata tidak seindah dan semulus yang dibayangkan sebelum menikah”. Tapi ijinkan lah saya memberikan jawaban lain, kehidupan rumah tangga itu seindah yang saya bayangkan, bahkan jauh lebih indah dari yang saya bayangkan dahulu sebelum menikah. Bahkan tidak hanya itu, jauh lebih bermakna dan jauh lebih bisa mendekatkan diri kepada Allah ‘azza wa jalla.

Untuk seorang istri, sebelum menikah sah-sah saja membayangkan bahwa kelak suami anda adalah seorang yang rupawan, ganteng, kaya raya, tidak sombong, suka menabung, penyayang, dan berbagai gambaran indah lainya.

Begitu pula dengan seorang suami, sebelum menikah bolah saja membayangkan kelak istrinya cantik bagaikan foto model, kaya, penyayang, dll.

Terwujudkah keinginan “sempurna” dalam bayangan sebelum menikah? Tidak ada yang sempurna di dunia ini, kesempurnaan itu hanyalah milik Allah semata. Tugas kita sebagai hamba adalah mensyukuri setiap nikmat yang telah diberikan kepada kita. Tidak mungkin bagi setiap keluarga untuk bisa terbebas dari dinamika kehidupan. Ada kalanya bahagia, sedih, tertawa, menangis, itu lah yang telah ditetapkan Allah terhadap anak-anak Adam di dunia ini.

Belajar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

“Orang terbaik di antara kalian ialah orang yang terbaik dalam memperlakukan istrinya, dan aku adalah orang terbaik di antara kalian dalam memperlakukan istriku.” (Hr. At-Tirmidzi).

Teman, tidak ada salahnya bila sejenak kita kembali memutar lamunan dan gambaran tentang istri ideal dan idaman yang pernah singgah dalam benak Anda. Selanjutnya, bandingkan gambaran istri idaman kita dengan gambaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kaum wanita berikut ini,

“Wanita itu bagaikan tulang rusuk. Bila engkau ingin meluruskannya, niscaya engkau menjadikannya patah, dan bila engkau bersenang-senang dengannya, niscaya engkau dapat bersenang-senang dengannya, sedangkan ia adalah bengkok.” (Muttafaqun ‘alaihi)

“Tidak mungkin istrimu kuasa bertahan dalam satu keadaan. Sesungguhnya, wanita itu bak tulang rusuk. Bila engkau ingin meluruskannya, niscaya engkau menjadikannya patah. Adapun bila engkau biarkan begitu saja, maka engkau dapat bersenang-senang dengannya, (tetapi hendaklah engkau ingat) ia adalah bengkok.” (Hr. Ahmad)

Yup, wanita itu bagaikan tulang rusuk, bahkan hawa pun diciptakan oleh Allah dari tulang rusuk nabi Adam. Oleh karena itu, apabila kita meluruskannya maka akan menjadikannya patah. Wanita itu memang seperti kaca, akan mengkilap apabila dibersihkan dengan lembut tapi akan retak apabila terlalu bertenaga dalam membersihkannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperlakukan dengan sempurna istri-istri beliau. Mari kita simak bagaimana rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersikap saat menjumpai istri nabi marah,

Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berada di salah satu rumah istri-istrinya. Suatu ketika salah seorang dari istri Nabi mengutus seseorang untuk memberikan piring yang berisi makanan kepada Nabi. Kemudian seorang istri Nabi memukul tangan utusan tersebut hingga terjatuhlah piring tersebut dan pecah. Nabi pun segera mengumpulkan pecahan piring tersebut, kemudian mengumpulkan makanan yang telah terjatuh dari piring tersebut. Nabi pun berkata, “Ibumu sedang cemburu.” Kemudian Nabi menahan utusan tersebut sampai menyerahkan piring baru yang ada di rumah istri beliau, sebagai pengganti piring yang telah pecah tadi, dan membereskan pecahan piring yang tadi. (HR. Al-Bukhari).

Ya.. disaat istri beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memecahkan piring, nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  pun segera membersihkan pecahan piring tersebut dan bersabda, “ibumu sedang cemburu”. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak marah atas kejadian tersebut.

Selanjutnya mari kita simak bagaimana rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menenangkan istri-istri beliau yang sedang berselisih (antara hafsah dan shafiyyah), dimana hafsah mencela shafiyyah dengan dengan ucapan yang tidak disukainya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  mendapati shafiyyah sedang menangis dan bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Shafiyyah menjawab: “Hafshah mencelaku dengan mengatakan begini.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata menghiburnya: “Sesungguhnya engkau adalah putri seorang nabi dan pamanmu adalah seorang nabi dan engkau adalah istri seorang nabi, lalu bagaimana dia membanggakan dirinya terhadapmu?” Kemudian beliau menasehati Hafshah: “Bertakwalah kepada Allah, wahai Hafshah”. (HR. An-Nasai)

Lihatlah bagaimana allah menenangkan shafiyyah dengan pujian yang tinggi, Sesungguhnya engkau adalah putri seorang nabi dan pamanmu adalah seorang nabi dan engkau adalah istri seorang nabi, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak marah kepada hafsah bahkan menasihati hafsah untuk bertakwa kepada Allah.

Nah, sekarang. Sudah selesaikah anda memutar lamunan dan gambaran tentang istri ideal dan idaman yang pernah singgah dalam benak Anda? Kalau sudah selesai, mungkin kita perlu membaca hadist yang telah saya tulis diatas

Wanita itu bagaikan tulang rusuk. Bila engkau ingin meluruskannya, niscaya engkau menjadikannya patah, dan bila engkau bersenang-senang dengannya, niscaya engkau dapat bersenang-senang dengannya, sedangkan ia adalah bengkok”.

Kita tidak akan pernah mendapati tulang rusuk yang lurus sempurna, begitu pula dengan wanita dimana rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumpakannya dengan hal tersebut. Bagian yang paling menyenangkan adalah “..dan bila engkau bersenang-senang dengannya, niscaya engkau dapat bersenang-senang dengannya..

Kalau kita sudah selesai memutar lamunan dan gambaran tentang istri ideal yang pernah singgah dalam benak, kita pasti bakal terkejut (terutama untuk saya pribadi) karena akan mendapati berbagai kelebihan dan kebaikan yang terdapat pada istri. 🙂

Segala puji bagi Allah, Rabb yang telah mengaruniakan kepada ku nikmat istri yang shalihat yang menjadi penyejuk hati saat melihatnya.

Kyoto, 4 Juli 2014

Hidayat Panuntun

Kisah perang badar

Minggu ini adalah minggu spesial di jepang. Orang jepang menamai minggu ini dengan “golden week”, awalnya saya mengira ada festival atau kegiatan apa gitu, tapi setelah menanyakan hal tersebut ke teman lab akhirnya jadi paham, disebut golden week itu karena di minggu tersebut berkumpul banyak hari libur. Sebenarnya tidak banyak juga sih, dari 7 hari tersebut 5 harinya adalah hari libur (termasuk sabtu dan minggu). Walaupun libur, saya tidak libur (biasa, sok sibuk), saya diberi “liburan” untuk mengikuti seminar di yokohama, huufftt. Dan tahukah anda, karena kebanyakan session di sampaikan dalam bahasa jepang, kalaupun ada session yang berbahasa inggris topiknya tidak relevan dengan tema penelitian S3 saya, akhirnya kadang saya membunuh waktu di tempat seminar dengan membaca sirah nabawiyah.

 

Artikel ini tidak akan bercerita tentang “liburan” saya di Yokohama, sesuai dengan judulnya, saya akan menuliskan kisah tentang sebuah peperangan yang sangat heroik. Perang besar pertama kali yang dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabatnya.

Penyiksaan dan perbuatan dzalim yang dilakukan kaum kafir kepada kaum mu’min sudah sangat banyak sekali. Hal tersebut berlangsung hingga kaum muslimin berhijrah ke kota madinah. Saat hijrah, seluruh harta kaum muslimin ditinggalkan di kota makkah. Sebagai bentuk pembalasan, kaum muslimin pun menghadang kafilah dagang kaum kafir Quraisy yang akan pulang menuju kota Makkah.

Saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar ada kafilah dagang Quraisy di bawah pimpinan Abu Sufyan bin Harb dengan 40 pengawal bergerak dari Syam membawa harta orang-orang Quraisy, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam segera mengajak kaum Muslimin untuk mencegatnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Ini ada kelompok dagang Quraisy yang membawa harta-harta kaum Quraisy. Cegatlah mereka ! Semoga Allah Azza wa Jalla memberikannya kepada kalian.”

Karena niatan awal hanya untuk mencegat kafilah dagang Abu Sufyan bin Harb maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tidak memobilisasi semua sahabat untuk ikut dalam pencegatan tersebut.

 

Gambar 1. Rute Kafilah dagang abu sufyan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan pasukan kafir quraisy

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya menyuruh mereka yang memiliki tunggangan untuk ikut serta dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mencela para shahabat yang tidak ambil bagian dalam perang Badar. Jumlah para shahabat yang mengiringi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam saat itu adalah 319 dengan rincian 230-an kaum Anshar, sisanya kaum Muhajirin. Mereka hanya membawa dua ekor kuda dan 70 unta yang kami tunggangi secara bergantian. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta rombongan berangkat. Saat di Rauha`, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh Abu Lubâbah Radhiyallahu anhu untuk kembali ke Madinah dan mengganti posisi beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pemimpin dan sebelumnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat `Abdullâh bin Ummi Maktûm untuk menggantikan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai imam.

 

Sementara itu, di pihak lain, Abu Sufyân pemimpin kafilah dagang ini terus dalam ekstra waspada dan bersiap-siap mengantisipasi berbagai kemungkinan. Oleh karena itu, ketika berita tentang rencana pencegatan kaum Muslimin ini sampai ke telinganya, dia segera mengirim utusan yang bernama Dhamdham ke Mekah untuk meminta bantuan. Setibanya di Mekah utusan ini berteriak-teriak meminta bantuan sembari memberitahukan harta benda kaum Quraisy yang terancam dirampas oleh kaum Muslimin. Mendengar teriakan ini, sontak seluruh kaum Quraisy keluar dengan membawa senjata, siap berhadapan dengan kaum Muslimin demi menyelamatkan kafilah dagang mereka dan memusnahkan kaum Muslimin yang mereka nilai sebagai ancaman bagi jalur bisnis mereka. Tidak ada seorang pun pembesar Quraisy yang absen dari pertempuran ini kecuali Abu Lahab. Dia menyuruh al-Ash bin Hisyâm menggantikannya. Tidak ada satu keluargapun yang tidak ikut kecuali bani Adiy. Jumlah mereka saat akan berangkat mencapai seribu orang.

 

Kendati sudah mengirim utusan ke Mekah, Abu Sufyân tidak berpangku tangan menunggu kedatangan bala bantuan. Dia terus berusaha mencari berita tentang keberadaan kaum Muslimin. Setelah mendapatkan kepastian posisi kaum Muslimin, dia mengambil jalan lain agar terhindar dari sergapan kaum Muslimin dan ternyata, dia berhasil. Kemudian dia mengirim utusan lagi ke pasukan kaum Quraisy yang masih berada di Juhfah guna memberitahukan keselamatannya dan meminta agar mereka mengurungkan niat menyerang kaum Muslimin. Abu Jahl yang memimpin pasukan kafir Quraisy tidak memperdulikan seruan Abu Sufyân. Abu Jahl mengatakan : “Demi Allah Azza wa Jalla , kita tidak akan kembali ke Mekah sebelum sampai ke Badr. Kita akan tinggal di sana selama tiga hari untuk memotong hewan, memberi makan dan minum khamer sambil menikmati nyanyian para biduwanita. Orang-orang Arab akan mendengar ekspedisi dan perkumpulan kita ini sehingga mereka akan tetap segan kepada kita selama-lamanya. Ayo, majulah !”

 

Kabar tentang pasukan Quraisy ini terdengar juga oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya. Kabar ini direspon oleh para Shahabat dengan respon yang berbeda. Sebagian mereka merasa khawatir karena pertempuran ini tidak disangka-sangka sama sekali dan mereka juga belum melakukan persiapan maksimal. Mereka berusaha menyampaikan berbagai alasan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar diterima. Berkenaan dengan peristiwa ini, Allah Azza wa Jalla menurunkan firman-Nya :

 

“Sebagaimana Rabbmu menyuruhmu pergi dari rumahmu dengan kebenaran, padahal sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya. Mereka membantahmu tentang kebenaran sesudah nyata (bahwa mereka pasti menang), seolah-olah mereka dihalau kepada kematian, sedang mereka melihat (sebab-sebab kematian itu)” (al-anfaal, 5-6)

Melihat keadaan yang kurang menggembirakan ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengajak para shahabat beliau bermusyawarah untuk mengambil keputusan antara melanjutkan perjalanan dan bertempur, atau kembali ke Madinah. Pendapat pertama berasal dari pemimpin kaum Muhajirin yang menyatakan kesiapan mereka untuk bertempur dan tidak akan membiarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertempur seorang diri. Kemudian disusul oleh kaum Anshar yang diwakili oleh Sa’ad bin Mu’azd Radhiyallahu anhu yang juga menyatakan kesetiannya.

 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa gembira mendengar ucapan para Shahabat ini. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ”Berangkatlah kalian dan berbahagialah karena sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah menjanjikanku salah satu dari kedua rombongan tersebut. Demi Allah Azza wa Jalla , seakan aku melihat kematian mereka sekarang.”

 

Dalam perjalanan ini, ada kisah menarik yang bisa dijadikan pelajaran bagi kaum Muslimin yang menginginkan kejayaan. Yaitu, ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pasukan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai di daerah berbatu al-Wabirah, seseorang musyrik menyusul mereka dan menyatakan kesiapannya bergabung berperang bersama pasukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Namun, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak serta merta menyambut uluran tangan si musyrik ini, meski beliau menyadari jumlah pasukan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedikit. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam terlebih dahulu bertanya : “Apakah kamu beriman kepada Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam ?” Orang itu menjawab : “Tidak.” Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Pulanglah kamu karena kami tidak akan meminta tolong kepada orang musyrik [HR. Muslim 3/1449-1450]

 

Kemudian orang itu berlalu. Ketika kami sampai di asy-Syajarah dia menyusul lagi dan menawarkan diri lagi untuk yang kedua kalinya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan tanggapan yang sama dengan yang pertama. Kemudian dia berlalu lagi. Ketika kami sampai di al-Baidâ’, orang itu menyusul lagi dan menawarkan diri lagi untuk yang ketiga. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengulangi pertanyaan beliau ketika orang ini menawarkan diri untuk pertama kalinya : “Apakah kamu beriman kepada Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam ?” Orang itu menjawab : “Ya.” Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan orang ini bergabung dengan pasukan kaum Muslimin.

 

Ketika Rasullulah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pasukannya sampai di dekat Safra` (suatu daerah di dekat Badar); beliau mengutus Basbas dan Ady bin Abi Zaghba` ke Badar. Keduanya disuruh mencari informasi tentang Abu Sufyan dan rombongan dagangnya. Dalam riwayat lainnya disebutkan bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakar Radhiyallahu anhu juga keluar untuk tujuan ini. Keduanya bertemu dengan seseorang yang sudah tua. Rasulullah bertanya kepadanya tentang pasukan Quraisy. Orang tua itu mau menjawab asalkan mereka berdua memberitahu dari mana asal mereka..? Keduanya setuju. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memintanya agar bercerita lebih dahulu. Orang itu menjelaskan bahwa ia mendengar berita tentang Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabatnya telah berangkat pada hari ini dan ini. Jika si pembawa berita itu benar, berarti mereka sekarang sudah sampai di tempat ini dan ini. Dan jika si pembawa berita tentang pasukan Quraisy juga jujur, berarti mereka sekarang berada di tempat ini dan ini.

 

Setelah menyelesaikan ceritanya, orang itu bertanya: “Dari mana kalian berdua ?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Kami berasal dari air”. Kemudian keduanya meninggalkan orang tua itu yang masih bertanya : “Dari air ? Apakah dari air Irak ?”

 

Sore harinya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Ali, Zubair, dan Sa`d Bin Abi Waqqash Radhiyallahu anhum beserta sekelompok Sahabat lainnya untuk mengumpulkan data-data tentang musuh. Di sekitar sumur Badar, rombongan ini menemukan dua orang yang bertugas mengambil air untuk pasukan Mekah. Mereka membawa dua orang ini ke Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang saat itu sedang shalat. Lantas mereka mulai mengorek keterangan dari keduanya. Dua orang ini mengakui bahwa mereka pemberi minum pada pasukan Mekah. Namun, para Sahabat tidak mempercayai mereka. Para Sahabat mengira keduanya adalah anak buah Abu Sufyan. Lalu mereka memukuli keduanya hingga mau mengaku bahwa mereka anak buah Abu Sufyan.

 

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai shalat, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan para Sahabatnya, karena mereka telah memukul keduanya saat jujur dan membiarkan mereka saat berdusta. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada keduanya tentang posisi pasukan Mekah. Mereka menjawab: “Mereka di belakang bukit di Udwatul Qushwa.”

 

Kemudian beliau bertanya tentang jumlah pasukan Mekah. Akan tetapi, dua orang ini tidak bisa menyebutkan jumlah pastinya, namun keduanya menyebutkan jumlah unta yang mereka sembelih setiap harinya, yaitu antara 9 sampai 10. Dari sini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyimpulkan bahwa jumlah mereka antara 900 – 1000 pasukan. Dua orang ini juga menyebutkan bahwa di antara pasukan itu ada beberapa tokoh Mekah. Dalam kitab Rahîqul Makhtûm disebutkan, Beliau bertanya dua orang ini, “Siapa sajakah pemuka Quraisy yang ikut?” Mereka menjawab, “Utbah dan Syaibah, keduanya anak Rabî`ah, Abul Bakhtari bin Hisyâm, Hakim bin Hizâm, Naufal bin Khuwailid, al-Hârits bin Amir, Thaîmah bin Adi, an-Nadhr bin Harits, Zam`ah bin al-Aswad, Abu Jahl bin Hisyam, Umayah bin Khalaf dan lainnya.” Rasululllah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata kepada para Sahabatnya: “Mekah telah mencampakkan para tokohnya ke hadapan kalian.” Lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan beberapa tempat yang akan menjadi tempat tewasnya beberapa tokoh Quraisy.

 

Malam itu Allah Azza wa Jalla menurunkan hujan untuk mensucikan kaum Muslimin dan meneguhkan telapak kaki mereka di atas bumi. Allah Azza wa Jalla jadikan hujan tersebut sebagai bencana yang besar bagi kaum Musyrikin.

 

“Dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan setan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kaki(mu)” (al-anfaal, 11)

 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa pasukannya mendekati mata air Badar mendahului orang-orang Musyrik agar musuh tidak bisa menguasai mata air. Saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah menentukan satu posisi, al-Habâb bin Mundzir Radhiyallahu anhu mengeluarkan pendapatnya, “Wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , bagaimanakah pendapat anda tentang posisi ini ? Apakah posisi ini diwahyukan oleh Allah Azza wa Jalla sehingga kita tidak boleh maju atau mundur ? Ataukah ini hanya pendapat, siasat dan takti perang saja”? Beliau menjawab: “Ini hanya pendapat, siasat dan taktik perang saja.” al-Habâb Radhiyallahu anhu mengatakan : “Wahai Rasulullah, posisi ini kurang tepat, bawalah orang-orang ini ke sumur yang paling dekat dengan posisi musuh. kita kuasai sumur itu lalu yang lainnya kita rusak. Kita membuat telaga besar lalu kita penuhi air. Kemudian baru kita perangi mereka, kita bisa minum sementara mereka tidak bisa.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada al-Habâb Radhiyallahu anhu , “Engkau telah menyampaikan pendapat yang jitu.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyetujuinya dan melakukannya.

Gambar 2. Strategi perang yang diusulkan Sahabat al-Habâb bin Mundzir Radhiyallahu anhu

Setelah melakukan semua persiapan fisik yang memungkinan untuk mewujudkan kemenangan di lapangan, malam itu beliau bertadarru` (memohon) kepada Allah Azza wa Jalla agar menolongnya.

 

Ya Allah Azza wa Jalla , penuhilah janji-Mu kepadaku. Ya Allah Azza wa Jalla berikanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah Azza wa Jalla , jika Engkau membinasakan pasukan Islam ini, maka tidak ada yang akan beribadah kepada-Mu di muka bumi ini. [HR. Muslim 3/1384 hadits no 1763]

 

Dalam riwayat ini juga disebutkan bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam terus bermunajat kepada Rabbnya hingga selendang beliau jatuh dari pundak. Abu Bakar Radhiyallahu anhu datang dan mengambil selendang tersebut kemudian meletakkan kembali di pundak beliau. Abu Bakar Radhiyallahu anhu berkata, “Wahai Nabi Allah Azza wa Jalla , sudah cukup engkau bermunajat kepada Rabbmu dan Allah Azza wa Jalla pasti akan memenuhi janji-Nya.” Kemudian turunlah firman Allah Azza wa Jalla :

 

“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu : “Sesungguhnya aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu Malaikat yang datang berturut-turut”. (Al-anfaal, 9)

Setelah itu Abu Bakar Radhiyallahu anhu memegang tangan beliau dan berkata, “Cukup wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , engkau telah berkali-kali memohon kepada Rabbmu”. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam segera mengambil baju besi dan terjun ke medan tempur seraya membaca firman Allah Azza wa Jalla :

 

“Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang”. (al-Qamar, 45)

 

Tepat pada tanggal 17 Ramadhan tahun 2 Hijriyah, Sejarah mencatat bagaimana kuasa Alloh berkerja kepada makhluk ciptaanNYA. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a : “Ya Allah Azza wa Jalla, kaum Quraisy telah datang dengan sombong dan penuh kecongkakan. Mereka menentang-Mu dan mendustakan Rasul-Mu. Ya Allah Azza wa Jalla , berilah pertolongan yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah Azza wa Jalla, binasakanlah mereka pagi ini!”

 

Setelah itu, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengobarkan semangat pasukan Muslimin. Imam Muslim meriwayatkan bahwa ketika kaum Quraisy sudah mendekat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Bangkitlah kalian menuju surga yang luasnya seperti luas langit dan bumi.”Mendengar ini, Umair bin Humam al-Anshâri Radhiyallahu anhu berkata, “Wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam! Apakah benar surga seluas langit dan bumi?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Benar.” Dengan penuh rasa kagum, Umair Radhiyallahu anhu berujar, “Wah.. wah!” Mendengar ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam balik bertanya : “Kenapa engkau berkata demikian?” Umair Radhiyallahu anhu menjawab, “Tidak, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Demi Allah, aku hanya berharap menjadi bagian dari penghuninya.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya engkau akan menjadi salah satu penghuninya.” Kemudian, Umair Radhiyallahu anhu mengeluarkan beberapa butir kurma dari kantong anak panahnya dan menyantapnya. Tidak lama kemudian, Umair Radhiyallahu anhu mengatakan, “Seandainya aku masih hidup sampai bisa menghabiskan kurma-kurma ini, maka itu adalah kehidupan yang sangat panjang.” Lalu ia melemparkan kurma-kurma itu, kemudian maju bertempur sampai akhirnya terbunuh.

 

#bersambung_insyaallah

Sumber: Shahih shirah nabawiyah

Yokohama, 30 Maret 2014

Hidayat Panuntun

Belajar dari kekurangan seorang yang buta

Akhirnya, setelah beberapa waktu tidak sempat menulis karena kesibukan yang cukup menegangkan (padahal biasa aja, hehehe).. aktivitas disini benar-benar berbeda dengan aktivitas saat masih di indonesia yang jam 4 sore sudah bersiap-siap untuk pulang ke rumah. Di sini, jam 4 sore masih terlalu pagi untuk pulang, teman-teman satu lab biasanya menyudahi kegiatan di lab setelah jam 9. Dan saya  pun terbawa dengan pola mereka.

Hmmm…tapi kali ini saya tidak mau membahas tentang itu.

Beberapa waktu yang lalu saya membaca link video youtube yang di share di wall FB saya. Video tentang seorang yang buta.
berikut adalah videonya:

Saya tidak akan menuliskan banyak hal, cukup video tersebut mewakili apa yang ingin saya sampaikan.
Nama pemuda yang sholih itu adalah Mu’adz. Pemuda yang istimewa.. Kenapa istimewa, karena dalam kebutaannya dia berhasil menghafalkan Al-quran (subhanallah..bagaimana dengan saya….astaghfirullah..T_T).
Mungkin, beberapa orang yang melihat video tersebut akan merasa sedih/iba karena dia adalah seseorang yang Allah mengambil nikmat penglihatan dari dirinya.

Tapi..kita tidak perlu merasa iba kepada pemuda itu..bahkan bagi pemuda itu, buta adalah nikmat yang diberikan Allah untuknya. Berikut saya cuplikan potongan kata-kata pemuda tersebut.

Penanya: Katanya anda suka bermain?

Pemuda: Alhamdulillah, Allah telah memberikan kepada ku nikmat dengan mengambil penglihatanku, subhanallah..alhamdulillah.. Dalam shalatku, aku sama sekali tidak pernah berdoa agar Allah mengembalikan penglihatanku..

Penanya: Anda tidak mau allah mengembalikan penglihatan anda..?? Mengapa..??

Pemuda: Agar aku dapat memohon ampun kepada Allah kelak dihari kiamat.. Hingga Allah akan meringankan sebagian adzabku (jika aku diadzab).. Kelak aku akan berdiri dihadapNYA..dalam keadaan bergetar dan ketakutan..Lalu DIA bertanya kepadaku, “apa yang telah kamu lakukan terhadap Al-quran..??”..Semoga Allah mau meringankan siksaanku, dan Allah merahmati siapapun yang kehendakinya..

Subhanallah..astaghfirullah..

Hujjah apa yang akan disampaikan oleh orang-orang yang diberi nikmat yang banyak oleh Allah tapi mereka tidak bersyukur…?????

Semoga bisa kita bisa mengambil ibrah dari seorang pemuda tersebut..

 

Kyoto, 13 April 2014

Hidayat Panuntun

Uwais Al-Qarni

Bagaimana menurut kalian, apabila ada seseorang yang mempunyai kedudukan yang sangat tinggi memuji-muji kalian..?? Bagaimana apabila presiden di suatu rapat di hadapan para menteri-menterinya memuji satu nama, dan nama itu adalah anda..bagaimana perasaan anda..?? Sudah tentu perasaan yang muncul adalah perasaan bangga, senang, dan mungkin ada rasa tidak percaya hingga mendapatkan pujian itu.

Lalu bagaimana jika yang memuji itu adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam…?? Tentu bakalan lebih girang lagi bukan.

Berikut adalah sebuah kisah bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seseorang dari hamba Alloh yang bahkan beliau belum pernah melihatnya sama sekali..Subhanallah..

 

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dia seorang penduduk Yaman, daerah Qarn, dan dari kabilah Murad. Ayahnya telah meninggal. Dia hidup bersama ibunya dan dia berbakti kepadanya. Dia pernah terkena penyakit kusta. Dia berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, lalu dia berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, lalu dia diberi kesembuhan, tetapi masih ada bekas sebesar dirham di kedua lengannya. Sungguh, dia adalah pemimpin para tabi’in.”

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, “Jika kamu bisa meminta kepadanya untuk memohonkan ampun (kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala) untukmu, maka lakukanlah!”

Ketika Umar radhiyallahu ‘anhu telah menjadi Amirul Mukminin, dia bertanya kepada para jamaah haji dari Yaman di Baitullah pada musim haji, “Apakah di antara warga kalian ada yang bernama Uwais al-Qarni?” “Ada,” jawab mereka.

Umar radhiyallahu ‘anhu melanjutkan, “Bagaimana keadaannya ketika kalian meninggalkannya?”

Mereka menjawab tanpa mengetahui derajat Uwais, “Kami meninggalkannya dalam keadaan miskin harta benda dan pakaiannya usang.”

Umar radhiyallahu ‘anhu berkata kepada mereka, “Celakalah kalian. Sungguh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bercerita tentangnya. Kalau dia bisa memohonkan ampun untuk kalian, lakukanlah!”

Dan setiap tahun Umar radhiyallahu ‘anhu selalu menanti Uwais. Dan kebetulan suatu kali dia datang bersama jemaah haji dari Yaman, lalu Umar radhiyallahu ‘anhumenemuinya. Dia hendak memastikannya terlebih dahulu, makanya dia bertanya, “Siapa namamu?”

“Uwais,” jawabnya.

Umar radhiyallahu ‘anhu melanjutkan, “Di Yaman daerah mana?’

Dia menjawab, “Dari Qarn.”

“Tepatnya dari kabilah mana?” Tanya Umar radhiyallahu ‘anhu.

Dia menjawab, “Dari kabilah Murad.”

Umar radhiyallahu ‘anhu bertanya lagi, “Bagaimana ayahmu?”

“Ayahku telah meninggal dunia. Saya hidup bersama ibuku,” jawabnya.

Umar radhiyallahu ‘anhu melanjutkan, “Bagaimana keadaanmu bersama ibumu?’

Uwais berkata, “Saya berharap dapat berbakti kepadanya.”

“Apakah engkau pernah sakit sebelumnya?” lanjut Umar radhiyallahu ‘anhu.

“Iya. Saya pernah terkena penyakit kusta, lalu saya berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga saya diberi kesembuhan.”

Umar radhiyallahu ‘anhu bertanya lagi, “Apakah masih ada bekas dari penyakit tersebut?”

Dia menjawab, “Iya. Di lenganku masih ada bekas sebesar dirham.” Dia memperlihatkan lengannya kepada Umar radhiyallahu ‘anhu. Ketika Umarradhiyallahu ‘anhu melihat hal tersebut, maka dia langsung memeluknya seraya berkata, “Engkaulah orang yang diceritakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mohonkanlah ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untukku!”

Dia berkata, “Masa saya memohonkan ampun untukmu wahai Amirul Mukminin?”

Umar radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Iya.”

Umar radhiyallahu ‘anhu meminta dengan terus mendesak kepadanya sehingga Uwais memohonkan ampun untuknya.

Selanjutnya Umar radhiyallahu ‘anhu bertanya kepadanya mengenai ke mana arah tujuannya setelah musim haji. Dia menjawab, “Saya akan pergi ke kabilah Murad dari penduduk Yaman ke Irak.”

Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Saya akan kirim surat ke walikota Irak mengenai kamu?”

Uwais berkata, “Saya bersumpah kepada Anda wahai Amriul Mukminin agar engkau tidak melakukannya. Biarkanlah saya berjalan di tengah lalu lalang banyak orang tanpa dipedulikan orang.”

(Sumber: Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah, Pustaka Arafah Cetakan 1)

Kyoto, 17 Maret 2014

Hidayat Panuntun

 

Ini adalah contoh manusia yang pintar

Jika ada pertanyaan yang diajukan untuk kalian semua, pertanyaan yang sangat simpel, mudah dijawab. Begini pertanyaannya, Siapakah yang paling pintar dan paling bermanfaat ilmunya, antara Einstein, Sir Isaac Newton, dan Amr ‘ibnu Jamuh…? Kira-kira apa yang jawaban anda..?

Siapa yang tidak kenal dengan Einstein..? Seorang fisikawan modern yang telah menemukan sebuah teori relativitas yang mashur hingga kini. Fisikawan yang terkenal dengan rumus E=mc2 nya. Siapa juga yang tidak kenal dengan Newton, seorang yang dianggap sebagai peletak dasar gravitasi dengan kisah apel yang sangat terkenal di anak-anak SD.

Bagaimana dengan nama terakhir..???

Saya yakin tidak semua orang mengenal nama terakhir yang saya tulis tersebut, bahkan boleh dikatakan hanya sedikit sekali yang mengenal nama itu. Memang benar, nama ini tidak pernah kita dengarkan pada saat pelajaran ilmu-ilmu dasar di SD dulu, tidak seperti dua nama yang saya sebut sebelumnya yang sangat sering disebut saat mempelajari IPA di sekolah.

Silahkan berpikir 1 menit untuk menebak siapa manusia ini..ilmu apa yang dia miliki..manfaat apa yang diperoleh dari ilmu itu..

Sudah… Sudah ada bayangan siapa nama terakhir yang saya sebutkan tersebut…????

Baiklah, akan saya bantu untuk mendeskripsikan nama terakhir..

Ia adalah ipar dari Abdullah bin Amr bin Haram, karena menjadi suami dari saudara perempuan Hindun binti ‘Amara Ibnul Jamuh merupakan salah seorang tokoh penduduk Madinah dan salah seorang pemimpin Bani Salamah. Ia didahului masuk Islam oleh putranya Mu’adz bin Amr yang termasuk kelompok 70 peserta bai’at ‘Aqabah. Bersama shahabatnya Mu’adz bin Jabal, Mu’adz bin Amr ini menyebarkan Agama Islam di kalangan penduduk Madinah dengan keberanian luar biasa sebagai layaknya pemuda Mu’min yang gagah.

Saya yakin sekarang anda sudah punya bayangan siapakah orang terakhir yang namanya saya sebutkan tadi.

Dan tahukah anda jawaban yang paling betul dari pertanyaan diatas…??? Ya, Amr ibnul Jamuh adalah jawaban yang paling tepat. Mengapa…??? Mari kita ikuti kisahnya,

Telah menjadi kebiasaan bagi golongan bangsawan di Madi­nah, menyediakan di rumah masing-masing duplikat berhala­ berhala besar yang terdapat di tempat-tempat pemujaan umum yang dikunjungi oleh orang banyak. Maka sesuai dengan ke­dudukannya sebagai seorang bangsawan dan pemimpin, Amr bin Jamuh juga mendirikan berhala di rumahnya yang dinamakan Manaf.

Putranya, Mu’adz bin Amr bersama temannya Mu’adz bin Jabal telah bermufakat akan menjadikan berhala di rumah bapaknya itu sebagai barang permainan dan penghinaan. Di waktu malam mereka menyelinap ke dalam rumah, lalu meng­ambil berhala itu dan membuangnya ke dalam lobang yang biasa digunakan manusia untuk membuang hajatnya. Pagi harinya Amr tidak melihat Manaf berada di tempatnya yang biasa, maka dicarinyalah berhala itu dan akhirnya ditemu­kannya di tempat pembuangan hajat. Bukan main marahnya Amr, lalu bentaknya: “Keparat siapa yang telah melakukan perbuatan durhaka terhadap tuhan-tuhan kita malam tadi . . . ?” Kemudian dicuci dan dibersihkannya berhala itu dan diberinya wangi-wangian.

Malam berikutnya, berdua Mu’adz bin Amr dan Mu’adz bin Jabal memperlakukan berhala itu seperti pada malam se­belumnya. Demikianlah pula pada malam-malam selanjutnya. Dan akhirnya setelah merasa bosan, Amar mengambil pedangnya lalu menaruhnya di leher Manaf, sambil berkata: “Jika kamu betul-betul dapat memberikan kebaikan, berusahalah untuk mempertahankan dirimu … !”

Pagi-pagi keesokan harinya Amr tidak menemukan berhala­nya di tempat biasa … tetapi ditemukannya kali ini di tempat pembuangan hajat itu tidak sendirian, berhala itu terikat bersama bangkai seekor anjing dengan tali yang kuat. Dan selagi ia dalam keheranan, kekecewaan serta amarah, tiba-tiba datanglah ke tempatnya itu beberapa orang bangsawan Madinah yang telah masuk Islam. Sambil menunjuk kepada berhala yang tergeletak tidak berdaya dan terikat pada bangkai anjing itu, mereka meng­ajak akal budi dan hati nurani Amr bin Jamuh untuk berdialog serta membeberkan kepadanya perihal Tuhan yang sesungguh­nya, Yang Maha Agung lagi.

Maha Tinggi, yang tidak satupun yang menyamai-Nya. Begitupun tentang Muhammad saw. orang yang jujur dan terpercaya, yang muncul di arena kehidupan ini untuk memberi bukan untuk menerima, untuk memberi petunjuk dan bukan untuk menyesatkan. Dan mengenai Agama Islam yang datang untuk membebaskan manusia dari belenggu,  segala macam belenggu  dan menghidupkan pada mereka ruh Allah serta menerangi dalam hati mereka dengan cahaya-Nya.

Maka dalam beberapa saat, Amr telah menemukan diri dan harapannya . . . . Beberapa saat kemudian ia pergi, dibersihkan­nya pakaian dan badannya lalu memakai minyak wangi dan merapikan diri, kemudian dengan kening tegak dan jiwa bersinar ia pergi untuk bai’at kepada Nabi terakhir, dan menempati kedudukannya di barisan orang-orang beriman.

Subhanallah.. Sesungguhnya manusia yang paling beruntung itu adalah manusia yang dengan ilmu yang dikuasainya bisa menyebabkan datangnya hidayah dari Allah. Manusia yang dengan ilmu yang dikuasainya menyebabkan dia bertambah takut kepada Allah, bertambah yakin bahwa Allah lah Rabb Pemilik Alam semesta. Sungguh betapa banyaknya ilmuan, filsuf, pemikir yang telah Alloh benamkan dalam kesesatan meskipun mereka menguasai ilmu yang lebih banyak dibandingkan yang lain.

Sebagai contoh dapat kita kemukakan di sini, Athena. Yakni Athena di masa Perikles, Pythagoras dan Socrates! Athena yang telah mencapai tingkat berfikir yang menakjubkan, tetapi seluruh penduduknya, baik para filosof, tokoh-tokoh pemerintahan sampai kepada rakyat biasa, mempercayai patung-patung yang dipahat, dan memujanya sampai taraf yang amat hina dan memalukan. Bagaimana mungkin kaum pemikir bisa sampai mempercayai patung-patung yang mereka pahat sendiri dan menyembahnya sebagai dewa, Na’udzubillah tsuma na’udzubillah.

Sekarang mari kita saksikan bagaimana ilmu yang telah diperoleh Amr ibnu Jamuh ini mengantarkannya kepada syurga firdaus, surga tertinggi dambaan kaum muslimin.

Amr telah berketetapan hati dan telah menyiapkan per­alatannya untuk turut dalam perang Badar, tetapi putra-putranya memohon kepada Nabi agar ia mengurungkan maksudnya dengan kesadaran sendiri, atau bila terpaksa dengan larangan dari Nabi. Nabi pun menyampaikan kepada Amr bahwa Islam membebas­kan dirinya dari kewajiban perang, dengan alasan ketidak mampu­an disebabkan cacad kakinya yang berat itu. Tetapi ia tetap mendesak dan minta diizinkan, hingga Rasulullah terpaksa mengeluarkan perintah agar ia tetap tinggal di Madinah.

Sekarang datanglah saatnya perang Uhud. Amr lalu pergi menemui Nabi saw. memohon kepadanya agar diizinkan turut, katanya: “Ya Rasulallah, putra-putraku bermaksud hendak menghalangiku pergi bertempur bersama anda. Demi Allah, aku amat berharap kiranya dengan kepincanganku ini aku dapat merebut surga .. . !”

Karena permintaannya yang amat sangat, Nabi saw. mem­berinya izin untuk turut. Maka diambilnya alat-alat senjatanya, dan dengan hati yang diliputi oleh rasa puas dan gembira, ia berjalan berjingkat-jingkat. Dan dengan suara beriba-iba ia memohon kepada Allah: “Ya Allah, berilah aku kesempatan untuk menemui syahid, dan janganlah aku dikembalikan kepada keluargaku . . . !”

Dan kedua pasukan pun bertemulah di hari Uhud itu …Amr ibnul Jamuh bersama keempat putranya maju ke depan me­nebaskan pedangnya kepada tentara penyebar kesesatan dan pasukan syirik . . . .

Di tengah-tengah pertarungan yang hiruk pikuk itu Amr melompat dan berjingkat, dan sekali lompat pedangnya me­nyambar satu kepala dari kepala-kepala orang musyrik. la terus melepaskan pukulan-pukulan pedangnya ke kiri ke kanan dengan tangan kanannya, sambil menengok ke sekelilingnya, seolah-olah mengharapkan kedatangan Malaikat dengan secepatnya yang akan menemani dan mengawalnya masuk surga.

Memang, ia telah memohon kepada Tuhannya agar diberi syahid, dan ia yakin bahwa Allah swt. pastilah akan mengabul­kannya. Dan ia rindu, amat rindu sekali akan berjingkat dengan kakinya yang pincang itu dalam surga, agar ahli surga itu sama mengetahui bahwa Muhammad Rasulullah saw. itu tahu bagai­mana caranya memilih shahabat dan bagaimana Pula mendidik dan menempa manusia ….

Dan saat yang ditunggu-tunggunya itu pun tibalah, suatu pukulan pedang yang berkelebat  . . , memaklumkan datangnya saat keberangkatan . . . , yakni keberangkatan seorang syahid yang mulia, menuju surga jannatul khuldi, surga Firdausi yang abadi … !

Dan tatkala Kaum Muslimin memakamkan para syuhada mereka,Rasulullah saw. mengeluarkan perintah yang telah kita dengar dulu, yaitu:

“Perhatikan, tanamkanlah jasad Abdullah bin Amr bin Haram dan Amr ibnul Jamuh di makam yang satu, karena selagi hidup mereka adalah dua orang shahabat yang setia dan bersayang-sayangan … !”

Kedua shahabat yang bersayang-sayangan dan telah menemui syahid itu dikuburkan dalam sebuah makam, yakni dalam pang­kuan tanah yang menyambut jasad mereka yang suci, setelah menyaksikan kepahlawanan mereka yang luar biasa.

Dan setelah berlalu masa selama 46 tahun di pemakaman dan penyatuan mereka, datanglah banjir besar yang melanda dan menggenangi tanah pekuburan, disebabkan digalinya sebuah mata air yang dialirkan Mu’awiyah melalui tempat itu. Kaum Muslimin pun segera memindahkan kerangka para syuhada. Kiranya mereka sebagai dilukiskan oleh orang-orang yang ikut memindahkan mereka: “Jasad mereka menjadi lembut, dan ujung-ujung anggota tubuh mereka jadi melengkung … !”

Ketika itu Jabir bin Abdullah masih hidup. Maka bersama keluarganya ia pergi memindahkan kerangka bapaknya Abdullah bin Amr bin Haram serta kerangka bapak kecilnya Amr ibnul Jamuh …. Kiranya mereka dapati kedua mereka dalam kubur seolah-olah sedang tidur nyenyak . . . . Tak sedikit pun tubuh mereka dimakan tanah, dan dari kedua bibir masing-masing belum hilang senyuman manis alamat ridla dan bangga yang telah terlukis semenjak mereka dipanggil untuk menemui Allah dulu….

Apakah anda sekalian merasa heran . . . ? Tidak, jangan tuan-tuan merasa heran . . . ! Karena jiwa-jiwa besar yang suci lagi bertaqwa, yang mampu mengendalikan arah tujuan hidupnya, membuat tubuh-tubuh kasar yang menjadi tempat kediam­annya, memiliki semacam ketahanan yang dapat menangkis sebab-sebab kelapukan dan mengatasi bencana-bencana tanah….

 

Sekarang, apakah jawaban saya masih anda ragukan kebenarannya…???

Kyoto, 15 Maret 2014

Hidayat Panuntun

 

Pelajaran dari kisah Nabi Ibrahim

Akhir-akhir ini, istri sering sekali mendengarkan muratal syeikh Mishari Rashid al-`Afasy. Surat yang paling sering diputar akhir-akhir ini adalah Surat Ibrahim, surat ke 14  dari kitabullah Al-quran. Saya yang ada di sebelahnya pun otomatis menjadi ikut sering mendengarkan qiraat dari syeikh Mishari tersebut. Suara beliau sungguh luar biasa indahnya, enak didengarkan, (tapi tidak membuat kantuk, hehehe). Bagaikan suara kicau burung yang indah.

Tapi artikel ini tidak akan membahas tentang keindahan suara syeikh mishari, bagaimana beliau bisa mendapatkan suara tersebut, atau pun bagaimana kita bisa seperti beliau. Saya lebih suka menulis tentang salah satu ayat yang ada pada surat ibrahim tersebut, yaitu ayat ke 37 yang terjemahannya adalah sebagai berikut :

Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur (Ibrahim, 37)

Mari kita dengarkan penuturan salah satu sahabat nabi, Ibnu Abbas ra, menceritakan bagaimana indahnya kisah tersebut. Kisah tentang Bapak, anak, dan istrinya. Kisah tentang Ibrahim, anaknya ismail, dan istrinya Hajar. Kisah yang bertempat di belahan bumi paling suci di muka bumi, yang terdapat Baitul Haram. Di sanalah kaum muslimin berhaji. Di sanalah mereka menghadap dalam shalat. Di sanalah wahyu turun kepada Ismail dan orang setelahnya, yaitu Rasul termulia Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Salam.

Ini adalah kisah yang panjang dan alurnya mengalir jelas.  Peristiwanya gambling, yang menceritakan tentang bapak kita Ismail bin Khalilullah Ibrahim ‘Alayhi Salam dan tentang ibu kita Hajar Ummu Ismail. Semua orang Arab adalah eturunan Ismail. Ada yang menyatakan bahwa sebagian orang Arab berasal dari asal-usul Arab kuno yang bukan anak keturunan Ismail. Ibu kita Hajar adalah wanita Mesir yang dihadiahkan oleh penguasa dzalim Mesir kepada Sarah dalam sebuah kisah yang akan disebutkan selanjutnya.

Takdir Allah menetapkan bahwa Nabi Ibrahim tidak mempunyai anak kecuali dia sudah dalam keadaan tua. Manakala Ibrahim belum kunjung dikaruniai anak dari istrinya, Sarah, maka Sarah memberikan hamba sahayanya, Hajar, kepada Ibrahim untuk dinikahi dengan harapan bahwa darinya Allah akan memberi anak. Hajar pun hamil dan melahirkan Ismail di bumi yang penuh berkah, Palestina.

Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa. (Ibrahim, 39)

Sifat manusiawi Sarah pun muncul, dan ini memang tidak bisa dipersalahkan. Sarah akhirnya cemburu kepada Hajar. Hal tersebut bukan menunjukkan kejelekan dari Sarah, tapi memang seperti itulah fitrah seorang wanita didunia. Bahkan istri-istri Rasulullah pun pernah saling cemburu. Allah pun memerintahkan Ibrahim agar pindah bersama Hajar dan Ismail kecil yang masih dalam susuan ibunya. Allah memerintahkan Ibrahim ke tempat jauh yang tidak bisa dijangkau oleh kendaraan kecuali dengan kelelahan jiwa. Daerah padang pasir yang tandus dan luas tanpa ada orang yang ada disekitarnya.

Ini adalah perkara yang mungkin sulit dan berat bagi Ibrahim yang sudah tua, yang diberi anak Ismail dalam usia lanjut. Bisa kita bayangkan, setelah sekian lama menanti kelahiran seorang anak, setelah diberi anugrah seorang anak kemudian diuji dengan perintah untuk menjauhkannya. Perkaranya bertambah sulit manakala Ibrahim meletakkan belahan jiwanya dan ibunya di tempat yang sepi tanpa air, tanpa makanan dan tanpa penduduk.

Ibrahim membawa Ismail kecil, dan ibunya dari tanah yang penuh berkah dengan udaranya yang sejuk, kebunnya yang hijau, airnya yang mengalir ke lembah itu, dan kemudian meletakkan keduanya di bawah pohon pada suatu padang pasir yang tandus. Kemudian Ibrahim segera meninggalkan mereka di tempat itu tanpa membuatkan rumah, mencari orang yang bersedia tinggal di sisinya.

Hajar pun kemudian berkata kepada suaminya, Ibrahim, “Engkau membiarkan kami dan pergi begitu saja..??”. Ibrahim pun berlalu tanpa menoleh dan menjawab pertanyaan dari ibu Ismail tersebut. Hajar mengulang pertanyaan itu berkali-kali sementara Ibrahim tidak menjawabnya sedikitpun. Ini adalah perintah Allah, dan perintah Allah tidak boleh dibantah. Inilah Islam di mana Ibrahim membawa dirinya kepadanya.

“Ketika Tuhannya berfirman kepadanya, ‘Tunduk patuhlah!’ Ibrahim menjawab, ‘Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam.” (QS. Al-Baqarah: 131)

Ketika hajar merasa gagal mendapatkan jawaban atas pertanyaannya tersebut, dia kemudia merubah pertanyaannya, “Apakah Allah yang memerintahkanmu untuk melakukan ini..??”. Barulah kemudian ibrahim menjawab, “Iya, Allah lah yang memerintahkan aku untuk melakukan ini”. Kemudian Hajar pun tersenyum lega dan menjawab, “Kalau memang demikian, Dia tidak akan mengabaikan kami.”, kemudian Hajar pun kembali kepada anaknya, Ismail. Sang Bapak ini pun kemudian berjalan sampai kesuatu bukit dimana mereka tidak bisa melihatnya. Kemudian beliau menghadapkan wajahnya ke Baitullah, lalu berdoa dengan beberapa kalimat seraya mengangkat kedua tangannya dan mengucapkan,

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam tanaman di dekat rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berikanlah rizki kepada mereka dari buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim: 37)

Sungguh indah doa Ibrahim kepada keluarga yang baru saja beliau tinggal di bawah pohon di padang pasir yang luas. Ibrahim menyerahkan semua urusannya kepada Rabb Yang Mengatur Segala Sesuatu, Rabb Yang tidak pernah menyalahi janji, Rabb yang maha penyayang.

Hajar menyusui Ismail dan meminum dari air yang berada di dalam kantong kulit. Berhari-hari hajar dan ismail kecil tinggal di lembah tersebut. Semakin lama, perbekalan mereka pun habis. Air sudah habis, ia merasa kehausan, demikian pula putranya, Ismali kecil, yang menangis kehausan. Ia pun pergi karena tidak tega melihatnya. Hingga ia menemukan Shafa, bukit yang paling dekat dengannya. Maka ia berdiri di atasnya, menghadap ke lembah sambil melihat-lihat adakah seseorang, tetapi dia tidak melihat seorang pun. Setelah turun dari Shafa, ia sampai di lembah, ia mengangkat ujung bajunya dan berusaha keras seperti orang yang berjuang mati-matian, hingga berhasil melewati lembah. Lalu dia mendatangi bukit yang lain, Marwah, berdiri di atasnya sembari melihat apakah ada seseorang yang dapat dilihatnya, tetapi dia tetap tidak melihat seorang pun. Dia melakukan hal itu sebanyak tujuh kali.”

Pada saat dia mondar-mandir itu, dia menyempatkan diri menengok anaknya, untuk menghilangkan rasa cemas dan mengetahui keadaannya. Kemudian dia meneruskan mondar-mandir. Inilah sa’i pertama di antara bukit Shafa dan Marwah. Dan sa’i yang pertama kali dilakukan oleh Hajar ini menjadi salah satu syiar ibadah haji dan umrah.

“Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya.” (QS. Al-Baqarah:158)

Setelah tujuh kali berputar-putar antara bukit shafa dan marwah, Hajar pun mendengar suara. Dia mencermatinya. Dia berkata kepada dirinya, “Diamlah.” Sepertinya dia ingin agar bisa mendengar sejauh mungkin. Ternyata suara itu terdengar oleh telinganya untuk kedua kalinya. Dia berkata kepada sumber suara itu, “Aku telah mendengar suaramu, jika kamu berkenan untuk menolong.” Dia meneliti sumber suara itu. Dia melihat, ternyata suara itu berasal dari putranya. Ternyata Malaikat Allah, Jibril, sedang memukulkan tumitnya atau sayapnya ke tanah di tempat Zamzam. Air
pun memancar. Ia menciduk dan memasukkan air itu ke kantongnya. Air itu terusmengalir deras setelah ia menciduknya.” Karena didorong rasa ingin memanfaatkan air tersebut, Hajar pun membendung air Zamzam tersebut.

Ibnu Abbas mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda, “Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada ibu Ismail, jika saja ia membiarkan Zamzam.” Atau beliau bersabda, ”Seandainya ia tidak menciduk airnya, niscaya Zamzam menjadi mata air yang mengalir.”

Lebih lanjut, Ibnu Abbas mengatakan bahwa kemudian ia meminum air itu dan menyusui anaknya. Lalu Malaikat berkata kepadanya, “Janganlah engkau khawatir akan disia-siakan, karena di sini terdapat sebuah rumah Allah yang akan dibangun oleh anak ini dan bapaknya. Dan sesungguhnya Allah tidak akan menelantarkan penduduknya.” Posisi rumah Allah itu terletak lebih tinggi dari permukaan bumi, seperti sebuah anak bukit yang diterpa banjir sehingga mengikis bagian kiri dan kanannya.

Allah menyempurnakan nikmat kepada Ismail dan ibunya. Maka datanglah orang-orang ke lembah itu untuk menetap. Ibu dan Ismail pun mulai kerasan. Keterasingan sedikit demi sedikit mulai lenyap. Mereka mulai menetap di lembah itu setelah takjub melihat air yang memancar di padang pasir yang tandus. Mereka takjub dan meminta ibu Ismail agar mengizinkan mereka untuk tinggal bersamanya. Ibu Ismail setuju, dengan syarat bahwa mereka tidak berhak terhadap air. Mereka hanya boleh minum. Mata air tetap menjadi hak ibu dan Ismail. Maka mereka mendatangkan keluarga mereka dan tinggal bersama ibu Ismail.

Perhatikanlah bagaimana seseorang yang yakin betul dengan penjagaan dan perlindungan dari Alloh. Ibu Ismail tidak ragu sedikitpun mengucapkan bahwa mereka tidak akan diterlantarkan karena sang bapak melakukan perintah dari Alloh. Dan ternyata persangkaan Ibu Ismail tepat. Bahkan tempat tersebut sekarang dikunjungi oleh jutaan umat muslim dari segala penjuru untuk melaksanakan ibadah haji.

Melaksanakan perintah Alloh itu jelas akan mendatangkan kebaikan, kebahagiaan dan kemuliaan bagi yang melakukannya. Kita tidak akan pernah tahu seperti apa takdir yang telah ditetapkan untuk kita. Tugas kita adalah berusaha dengan sungguh-sungguh, berdoa, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Alloh Rabb Pencipta Langit. Sebagaimana yang dilakukan Ibu Ismail saat melihat Ismail kecil menangis merengek-rengek kerena kehausan, yang dilakukan Ibu Ismail adalah berusaha dengan sangat keras untuk mencarikan sumber makanan untuk anaknya. Hal tersebut dibuktikan dengan Ibu Ismail berlari hingga 7 kali bolak-balik dari bukit shafa menuju bukit marwah. Hingga pada akhirnya pertolongan Alloh pun datang di tengah-tengah kesulitan Ibu ismail mencari air.

Semoga kita bisa belajar dari kisah Nabi kita, Bapak para Nabi, Ibrahim as.

Kyoto, 14 Maret 2014

Hidayat Panuntun

Karena engkau berdoa kepada Dzat Yang Maha Mendengar

Terharu saat membaca cerita ini.

Benar-benar takjud dengan ini,

Bagaimana kuasa Alloh berlaku kepada seorang hamba,

Bagaimana seorang istri yang tetap taat kepada suaminya,

Bagaimana seorang anak yang sholehah yang doanya di dengar oleh Alloh dari atas langit ke tujuh.

Mari kita sama-sama simak sebuah cerita yang benar-benar terjadi di bumi Arab, semoga bisa menjadi pelajaran, untuk ku, keluargaku dan seluruh umat muslim di seluruh dunia.

Kisah ini dituturkan oleh seorang istri yang menceritakan tentang kisah suaminya pada tahun 1415 H, ia berkata :

Suamiku adalah seorang pemuda yang gagah, semangat, rajin, tampan, berakhlak mulia, taat beragama, dan berbakti kepada kedua orang tuanya. Ia menikahiku pada tahun 1390 H. Aku tinggal bersamanya (di kota Riyadh) di rumah ayahnya sebagaimana tradisi keluarga-keluarga Arab Saudi. Aku takjub dan kagum dengan baktinya kepada kedua orang tuanya. Aku bersyukur dan memuji Allah yang telah menganugerahkan kepadaku suamiku ini. Kamipun dikaruniai seorang putri setelah setahun pernikahan kami.

Lalu suamiku pindah kerjaan di daerah timur Arab Saudi. Sehingga ia berangkat kerja selama seminggu (di tempat kerjanya) dan pulang tinggal bersama kami seminggu. Hingga akhirnya setelah 3 tahun, dan putriku telah berusia 4 tahun… Pada suatu hari yaitu tanggal 9 Ramadhan tahun 1395 H tatkala ia dalam perjalanan dari kota kerjanya menuju rumah kami di Riyadh ia mengalami kecelakaan, mobilnya terbalik. Akibatnya ia dimasukkan ke Rumah Sakit, ia dalam keadaan koma. Setelah itu para dokter spesialis mengabarkan kepada kami bahwasanya ia mengalami kelumpuhan otak. 95 persen organ otaknya telah rusak. Kejadian ini sangatlah menyedihkan kami, terlebih lagi kedua orang tuanya lanjut usia. Dan semakin menambah kesedihanku adalah pertanyaan putri kami (Asmaa’) tentang ayahnya yang sangat ia rindukan kedatangannya. Ayahnya telah berjanji membelikan mainan yang disenanginya…

Kami senantiasa bergantian menjenguknya di Rumah Sakit, dan ia tetap dalam kondisinya, tidak ada perubahan sama sekali. Setelah lima tahun berlalu, sebagian orang menyarankan kepadaku agar aku cerai darinya melalui pengadilan, karena suamiku telah mati otaknya, dan tidak bisa diharapkan lagi kesembuhannya. Yang berfatwa demikian sebagian syaikh -aku tidak ingat lagi nama mereka- yaitu bolehnya aku cerai dari suamiku jika memang benar otaknya telah mati. Akan tetapi aku menolaknya, benar-benar aku menolak anjuran tersebut.

Aku tidak akan cerai darinya selama ia masih ada di atas muka bumi ini. Ia dikuburkan sebagaimana mayat-mayat yang lain atau mereka membiarkannya tetap menjadi suamiku hingga Allah melakukan apa yang Allah kehendaki.

Akupun memfokuskan konsentrasiku untuk mentarbiyah putri kecilku. Aku memasukannya ke sekolah tahfiz al-Quran hingga akhirnya iapun menghafal al-Qur’an padahal umurnya kurang dari 10 tahun. Dan aku telah mengabarkannya tentang kondisi ayahnya yang sesungguhnya. Putriku terkadang menangis tatkala mengingat ayahnya, dan terkadang hanya diam membisu.

Putriku adalah seorang yang taat beragama, ia senantiasa sholat pada waktunya, ia sholat di penghujung malam padahal sejak umurnya belum 7 tahun. Aku memuji Allah yang telah memberi taufiq kepadaku dalam mentarbiyah putriku, demikian juga neneknya yang sangat sayang dan dekat dengannya, demikian juga kakeknya rahimahullah.

Putriku pergi bersamaku untuk menjenguk ayahnya, ia meruqyah ayahnya, dan juga bersedekah untuk kesembuhan ayahnya.
Pada suatu hari di tahun 1410 H, putriku berkata kepadaku : Ummi biarkanlah aku malam ini tidur bersama ayahku…
Setelah keraguan menyelimutiku akhirnya akupun mengizinkannya.
Putriku bercerita :

Aku duduk di samping ayah, aku membaca surat Al-Baqoroh hingga selesai. Lalu rasa kantukpun menguasaiku, akupun tertidur. Aku mendapati seakan-akan ada ketenangan dalam hatiku, akupun bangun dari tidurku lalu aku berwudhu dan sholat –sesuai yang Allah tetapkan untukku-.

Lalu sekali lagi akupun dikuasai oleh rasa kantuk, sedangkan aku masih di tempat sholatku. Seakan-akan ada seseorang yang berkata kepadaku, “Bangunlah…!!, bagaimana engkau tidur sementara Ar-Rohmaan (Allah) terjaga??, bagaimana engkau tidur sementara ini adalah waktu dikabulkannya doa, Allah tidak akan menolak doa seorang hamba di waktu ini??”

Akupun bangun…seakan-akan aku mengingat sesuatu yang terlupakan…lalu akupun mengangkat kedua tanganku (untuk berdoa), dan aku memandangi ayahku –sementara kedua mataku berlinang air mata-. Aku berkata dalam do’aku, “Yaa Robku, Yaa Hayyu (Yang Maha Hidup)…Yaa ‘Adziim (Yang Maha Agung).., Yaa Jabbaar (Yang Maha Kuasa)…, Yaa Kabiir (Yang Maha Besar)…, Yaa Mut’aal (Yang Maha Tinggi)…, Yaa Rohmaan (Yang Maha Pengasih)…, Yaa Rohiim (Yang Maha Penyayang)…, ini adalah ayahku, seorang hamba dari hamba-hambaMu, ia telah ditimpa penderitaan dan kami telah bersabar, kami Memuji Engkau…, kemi beriman dengan keputusan dan ketetapanMu baginya…

Ya Allah…, sesungguhnya ia berada dibawah kehendakMu dan kasih sayangMu.., Wahai Engkau yang telah menyembuhkan nabi Ayyub dari penderitaannya, dan telah mengembalikan nabi Musa kepada ibunya…Yang telah menyelamatkan Nabi Yuunus dari perut ikan paus, Engkau Yang telah menjadikan api menjadi dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim…sembuhkanlah ayahku dari penderitaannya…

Ya Allah…sesungguhnya mereka telah menyangka bahwasanya ia tidak mungkin lagi sembuh…Ya Allah milikMu-lah kekuasaan dan keagungan, sayangilah ayahku, angkatlah penderitaannya…”

Lalu rasa kantukpun menguasaiku, hingga akupun tertidur sebelum subuh.

Tiba-tiba ada suara lirih menyeru.., “Siapa engkau?, apa yang kau lakukan di sini?”. Akupun bangun karena suara tersebut, lalu aku menengok ke kanan dan ke kiri, namun aku tidak melihat seorangpun. Lalu aku kembali lagi melihat ke kanan dan ke kiri…, ternyata yang bersuara tersebut adalah ayahku…

Maka akupun tak kuasa menahan diriku, lalu akupun bangun dan memeluknya karena gembira dan bahagia…, sementara ayahku berusaha menjauhkan aku darinya dan beristighfar. Ia barkata, “Ittaqillah…(Takutlah engkau kepada Allah….), engkau tidak halal bagiku…!”. Maka aku berkata kepadanya, “Aku ini putrimu Asmaa'”. Maka ayahkupun terdiam. Lalu akupun keluar untuk segera mengabarkan para dokter. Merekapun segera datang, tatkala mereka melihat apa yang terjadi merekapun keheranan.

Salah seorang dokter Amerika berkata –dengan bahasa Arab yang tidak fasih- : “Subhaanallahu…”. Dokter yang lain dari Mesir berkata, “Maha suci Allah Yang telah menghidupkan kembali tulang belulang yang telah kering…”. Sementara ayahku tidak mengetahui apa yang telah terjadi, hingga akhirnya kami mengabarkan kepadanya. Iapun menangis…dan berkata, اللهُ خُيْرًا حًافِظًا وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِيْنَ Sungguh Allah adalah Penjaga Yang terbaik, dan Dialah yang Melindungi orang-orang sholeh…, demi Allah tidak ada yang kuingat sebelum kecelakaan kecuali sebelum terjadinya kecelakaan aku berniat untuk berhenti melaksanakan sholat dhuha, aku tidak tahu apakah aku jadi mengerjakan sholat duha atau tidak..??

Sang istri berkata : Maka suamiku Abu Asmaa’ akhirnya kembali lagi bagi kami sebagaimana biasnya yang aku mengenalinya, sementara usianya hampir 46 tahun. Lalu setelah itu kamipun dianugerahi seorang putra, Alhamdulillah sekarang umurnya sudah mulai masuk tahun kedua. Maha suci Allah Yang telah mengembalikan suamiku setelah 15 tahun…, Yang telah menjaga putrinya…, Yang telah memberi taufiq kepadaku dan menganugerahkan keikhlasan bagiku hingga bisa menjadi istri yang baik bagi suamiku…meskipun ia dalam keadaan koma…

Maka janganlah sekali-kali kalian meninggalkan do’a…, sesungguhnya tidak ada yang menolak qodoo’ kecuali do’a…barang siapa yang menjaga syari’at Allah maka Allah akan menjaganya.

Jangan lupa juga untuk berbakti kepada kedua orang tua… dan hendaknya kita ingat bahwasanya di tangan Allah lah pengaturan segala sesuatu…di tanganNya lah segala taqdir, tidak ada seorangpun selainNya yang ikut mengatur…

Ini adalah kisahku sebagai ‘ibroh (pelajaran), semoga Allah menjadikan kisah ini bermanfaat bagi orang-orang yang merasa bahwa seluruh jalan telah tertutup, dan penderitaan telah menyelimutinya, sebab-sebab dan pintu-pintu keselamatan telah tertutup…

Maka ketuklah pintu langit dengan do’a, dan yakinlah dengan pengabulan Allah….
Demikianlah….Alhamdulillahi Robbil ‘Aaalamiin (SELESAI…)

          Janganlah pernah putus asa…jika Tuhanmu adalah Allah…
          Cukup ketuklah pintunya dengan doamu yang tulus…
          Hiaslah do’amu dengan berhusnudzon kepada Allah Yang Maha Suci
          Lalu yakinlah dengan pertolongan yang dekat dariNya…

(sumber : http://www.muslm.org/vb/archive/index.php/t-416953.html, pent: Firanda Andirja)

Kyoto, 21 Februari 2014

Hidayat Panuntun