Penaklukan Mekah dan suara adzan yang menggema

Janji Allah untuk rasulNYA adalah sebuah kepastian yang 100% pasti akan terjadi. Begitulah ketetapan yang akan berlaku hingga hari kiamat kelak.

Adalah janji Allah pula bahwa Rasulullah Muhammad ﷺ dan ummatnya, setelah terusir dari kota Mekah, akan memasukinya dengan aman. Banyak buku sejarah yang menuliskan proses penaklukan kota suci tersebut, bagaimana persiapannya, bagaimana Rasulullah ﷺ berusaha menyembunyikan rencana, bagaimana 10ribu pasukan berjalan melintas dari madinah menuju mekah tanpa diketahui oleh orang kafir Quraisy ketika itu.

Singkat cerita, waktu shalat telah tiba dihari penaklukan kota Mekah. Setelah berhala yang berada di dalam dan sekitar sudah dihancurkan, Rasulullah ﷺ memerintahkan Bilal bin Rabah untuk adzan. Suara yang dahulu paling dibenci oleh penduduk kota ini ketika cahaya hidayah belum menyapa mereka, Suara yang dahulu ketika telinga mereka mendengarnya, si pemilik suara sudah pasti bakal babak belur dihajar oleh penduduk kota itu, kini bebas menggema.

Adalah Abu Sufyan bin harb, Attab bin Asid, dan Harits bin Hisyam sedang duduk di pelataran Ka’bah ketika suara adzan menggema. Attab pun kemudian berkata, “Allah telah memuliakan Asid (Asid adalah bapaknya Attab) karena tidak perlu mendengar ini. Andaikata mendengarnya, tentu dia akan murka”

Haris pun tak kalah lantang bersuara,”Demi Allah, kalau aku tahu itu benar maka aku akan mengikutinya (Rasulullah ﷺ)”

Nama terakhir, Abu Sufyan bin harb, yang saat itu sudah memeluk islam, dengan bijak mengatakan, “Demi Allah, aku tidak akan mengatakan apapun. Jika aku berbicara, kerikil-kerikil ini pasti akan memberitahukan apa yang aku bicarakan kepadanya (Rasulullah ﷺ)”

Tiba-tiba Rasulullah ﷺ keluar menemui mereka, kemudian bersabda, “Aku tahu apa yang kalian ucapkan”. Rasulullah ﷺ pun mengulangi dengan sama persis seperti yang diucapkan ketiga orang tersebut. Haris dan Attab pun langsung berkata, “Aku bersaksi bahwa Engkau adalah Rasulullah, Demi Allah tidak ada seorang pun yang mendengarkan apa yang kami ucapkan. Kami juga tidak memberitahukan perkataan kami tersebut kedapa orang lain”

Dan begitulah, suara yang dahulunya mereka benci itu pada akhirnya bebas berkumandang di kota Mekah.

Saat ini, nun jauh di Negeri seberang sana, saat adzan direndahkan, disebut bukan suci, dan bahkan ada yang dilarang.

Disini saya merindukan gema suara itu.

 

Kyoto, 12 April 2018

Hidayat Panuntun

Belajar dari seorang nenek tua

nenek-tuaSuatu ketika saat Rasulullah ﷺ berkunjung ke kediaman seorang arab badui, saat hendak pulang Rasulullah ﷺ meminta kepada arab badui untuk datang ke Madinah agar Rasulullah ﷺ bisa membalas kebaikannya.

Saat badui tersebut datang, beliau ﷺ bersabda kepadanya, “Wahai badui, katakanlah keperluanmu?”.

Dia menjawab, “Yaa Rasulullah, seekor unta betina dengan pelananya dan domba betina yang bisa diperah oleh keluargaku”. Setelah mendengar jawaban tersebut, Rasulullah ﷺ pun menanyakan ulang pertanyaannya dan dijawab dengan hal yang sama pula oleh orang arab badui tersebut.

Rasulullah ﷺ pun menjawab “Mengapa kamu tidak seperti nenek tua Bani Israil?”

Mendengar pertanyaan tersebut, para sahabat balik bertanya, “Ya Rasulullah, siapa nenek tua Bani Israil itu?”

Rasulullah ﷺ kemudian menjelaskan “Sesungguhnya (Nabi )Musa hendak berjalan membawa Bani Israil, tetapi dia tersesat di jalan. Maka para ulama Bani Israil berkata kepadanya, ‘Kami katakan kepadamu bahwa (Nabi) Yusuf mengambil janji janji Allah atas kami, agar kami tidak pergi dari Mesir sehingga kami memindahkan jasad-nya bersama kami.”

Nabi Musa bertanya, “Siapa di antara kalian yang mengetahui kubur (Nabi) Yusuf?”

Mereka menjawab, “Yang tahu di mana kuburan Yusuf hanyalah seorang wanita tua Bani Israil.”

Musa memintanya agar dihadirkan. Musa berkata kepadanya, “Tunjukkan kepadaku di mana kubur Yusuf.”

Wanita itu menjawab, Aku tidak mau hingga aku menemanimu di Surga.

Musa tidak menyukai permintaannya, maka Allah mewahyukan kepadanya, “Kabulkan permintaannya.”

Musa pun memberikan apa yang diminta. Lalu wanita itu mendatangi sebuah danau dan berkata, “Kuraslah airnya.” Ketika air telah surut, wanita itu berkata, “Galilah di sini.” Begitu mereka menggali, mereka menemukan jasad Yusuf”

(Hadist riwayat Al-Hakim, dalam Al-Mustadrak (2/624) No.4088)

Sebuah permintaan sederhana yang keluar dari mulut nenek tersebut. Nenek yang faham bahwa masa kehidupan di dunia ini hanyalah sebentar saja, maka nenek tersebut meminta permohonan untuk kehidupan yang masanya sangat lama (kekal).

Mari kita tengok doa kita, berapa bagian doa yang kita mintakan kepada Allah untuk kebutuhan akhirat, berapa bagian pula doa yang kita mintakan untuk kehidupan dunia?

 

Kyoto, 10 Nopember 2016

Hidayat Panuntun

Murah dibumi, mahal dilangit

mahal di langit

Kita sudah cukup familiar dengan sebuah untaian kata “tidak terkenal di bumi, terkenal di langit” untuk menggambarkan sosok uwais bin amir al-qarn.

Kali ini mari kita duduk dan mendengarkan sebuah hadist, yang mengabarkan sesosok manusia yang paling cocok digambarkan dengan kalimat “Murah di bumi, akan tetapi mahal di langit”.

Mari kita duduk dan mendengarkan kisah yang disampaikan oleh sahabat Nabi Shallallahu’alaihi wasallam, Anas bin Malik radiallahu ‘anhu.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ، أَنَّ رَجُلا مِنْ أَهْلِ الْبَادِيَةِ كَانَ اسْمُهُ زَاهِرًا , وَكَانَ يُهْدِي إِلَى

النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , هَدِيَّةً مِنَ الْبَادِيَةِ ، فَيُجَهِّزُهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ,

إِذَا أَرَادَ أَنْ يَخْرُجَ ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” إِنَّ زَاهِرًا بَادِيَتُنَا وَنَحْنُ

حَاضِرُوهُ ” وَكَانَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحِبُّهُ وَكَانَ رَجُلا دَمِيمًا , فَأَتَاهُ النَّبِيُّ صَلَّى

:اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , يَوْمًا وَهُوَ يَبِيعُ مَتَاعَهُ وَاحْتَضَنَهُ مِنْ خَلْفِهِ وَهُوَ لا يُبْصِرُهُ ، فَقَالَ

مَنْ هَذَا ؟ أَرْسِلْنِي . فَالْتَفَتَ فَعَرَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَعَلَ لا يَأْلُو مَا

أَلْصَقَ ظَهْرَهُ بِصَدْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ عَرَفَهُ ، فَجَعَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ

عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , يَقُولُ : ” مَنْ يَشْتَرِي هَذَا الْعَبْدَ ” ، فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِذًا وَاللَّهِ

تَجِدُنِي كَاسِدًا ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” لَكِنْ عِنْدَ اللَّهِ لَسْتَ بِكَاسِدٍ ” أَوْ

قَالَ : ” أَنتَ عِنْدَ اللَّهِ غَالٍ ”

Dari Anas bin Malik: ‘Bahwasanya ada seorang dari penduduk desa (Arab badui) yang bernama Zahir, dia selalu menghadiahkan berbagai hadiah dari desa untuk Nabi ﷺ. Jika Nabi ﷺ hendak keluar, beliau menyiapkan perbekalannya.

Lalu bersabda: ‘Sesungguhnya Zahir adalah desa kami (maksudnya beliau ﷺ bisa belajar darinya sebagaimana orang Badui mengambil manfaat dari padang Sahara) dan kami adalah kotanya (yang membuka pintu Madinah lebar-lebar untuk kehadirannya). Nabi ﷺ mencintainya, dia adalah seorang yang buruk wajahnya namun baik hatinya.

Suatu hari Nabi ﷺ mendatanginya sementara ia sedang menjual barangnya, lalu beliau mendekapnya dari belakang, sementara dia tidak bisa melihat beliau. Zahir berseru: ‘Siapa ini? Lepaskan aku!’ Kemudian ia menengok ke belakang dan ia tahu bahwa itu adalah Nabi ﷺ. Ketika dia tahu, dia tetap merapatkan punggungnya agar bersentuhan dengan dada Nabi ﷺ.

Lalu Nabi ﷺ berseru, ‘Siapa yang mau membeli hamba sahaya ini?’ Zahir menjawab, ‘Wahai Rasulullah, kalau begitu demi Allah, engkau akan mendapatiku (terjual) sangat murah.’ Nabi ﷺ bersabda, ‘Akan tetapi, di sisi Allah engkau tidaklah murah.’ atau ‘Di sisi Allah engkau sangat mahal.’ (HR. Ahmad 12669).

Banyak orang berusaha agar menjadi berharga (terkenal), dihormati oleh orang lain di muka bumi ini. Tidak sedikit pula orang yang mengasuransikan suaranya, betisnya, dan bagian tubuh lainnya karena merasa itu berharga dan harus dijaga bagi orang tersebut selama hidup di dunia.

Akan tetapi di akhirat, tidak sedikit yang melupakan bagian untuk kampung abadi tersebut.

Maka, sungguh indah nasihat dari para salaf,

إذا رأيت الرجل ينافسك في الدنيا فنافسه في الآخرة

“Apabila engkau melihat seseorang mengunggulimu dalam masalah dunia, maka unggulilah dia dalam masalah akhirat”

Jangan sedih apabila engkau diremehkan dan tidak dianggap oleh orang lain, jadilah engkau mahal disisi Allah Pemilik Langit dan Bumi.

.

Kyoto, 19 Juli 2016

Hidayat Panuntun

 

Saat Rasulullah menjabat tangannya dihari kiamat

salam_tangan

Apa yang biasa dilakukan orang (fans) ketika bertemu dengan idolanya dalam acara jumpa fans??

Histeris?? Minta foto bareng?? Bersalaman? Cipika/cipiki?

Singkat kata, fans tersebut pasti senang bukan kepalang, apalagi sampai diajak tour oleh idolanya tersebut.

Kemudian sekarang coba bayangkan, apabila kita bertemu Nabi ﷺ lalu beliau meraih tangan kita… di hari KIAMAT.

Hari dimana setiap manusia akan mengalami kesulitan yang banyak, kecuali yang dimudahkan oleh ﷲ

Salah satu fans yang beruntung mendapatkan uluran tangan Nabi ﷺ dihari kiamat adalah seorang tua yang hidup di masa Nabi ﷺ.

Mari kita simak penuturan Al-Walid berikut ini:

Abdurrahman bin Yazid bin Jabir bercerita kepadaku, bahwa ada orang tua yang berperangai kasar pada masa jahiliyah berkata, ‘Hai Muhammad! Ada 3 hal yang aku dengar darimu. Tak patut bagi siapapun yang berakal untuk mempercayai perkataanmu terkait 3 hal itu’

Kemudian orang tua itu melanjutkan pembicaraannya, ‘Aku mendengar engkau mengatakan bahwa bangsa Arab akan meninggalkan berhala-berhala yang mereka dan nenek moyang mereka sembah selama ini’.

‘Aku juga mendengar engkau mengatakan kita akan meraih harta-harta simpanan Kisra dan Kaisar’, kakek tua itu melanjutkan, ‘Darimu aku juga mendengar bahwa kita akan mati lalu dibangkitkan kembali’.

Rasulullah ﷺ mendekati kakek tua itu dan bersabda, ‘setelah itu aku akan meraih tanganmu pada hari kiamat nanti, dan aku akan mengingatkanmu pada kata-katamu ini’.

Dengan heran orang tua itu bertanya, ‘Engkau tidak akan melupakan aku diantara semua orang yang mati?’

Rasulullah ﷺ pun menjawab, ‘Aku tidak akan melupakanmu diantara semua orang yang mati’.

Orang tua itu kemudian berumur panjang hingga Rasulullah ﷺ wafat. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana kaum muslimin mengalahkan Kisra dan Kaisar. Orang tua itu kemudian masuk islam dan keislamannya membaik.

Umar bin Khattab sering mengucapkan salam kepadanya di masjid nabawi karena ia memuliakan kata-kata yang pernah Rasulullah ﷺ sampaikan kepadanya. Umar menemui orang tua itu lalu berkata, ‘Kini engkau sudah masuk islam dan rasulullah ﷺ berjanji akan meraih tanganmu. Ketika rasulullah ﷺ meraih tangan siapapun, ia pasti beruntung dan berbahagia, insyaallah

Maka siapa yang tidak ingin tangannya diraih oleh tangan Rasululllah ﷺ dihari kiamat kelak?

 

Kyoto, 24 April 2016

Hidayat Panuntun

 

 

Sumber: kitab an-Nihayah fil Fitan wal Malahim, penulis: Ibnu Katsir. T

Text ‘arab bisa diliat di bawah ini

ibnukatsir1

Belajar menjadi suami yang baik

great husband

Tidak sedikit pasangan suami istri di Indonesia yang akhirnya memilih bercerai karena menghadapi permasalahan rumah tangga mereka. Salah satu kekurangan yang harus dibenahi adalah tidak adanya kewajiban mengambil pelatihan menjadi suami yang baik. Menjadi dokter saja butuh waktu paling tidak 5 tahun untuk bisa menjadi dokter. Bagaimana dengan menjadi suami??

Imam untuk istrinya, teladan bagi calon anak-anaknya, nahkoda yang oleh Allah dibebani kewajiban untuk menjaga seluruh anggota keluarganya dari api neraka. Dan sayangnya, di Indonesia, tidak ada kewajiban untuk mengambil “mata kuliah” menjadi suami sebelum mereka menikah.

Maka, mari belajar menjadi suami yang baik. Mari belajar menjadi pendengar yang baik.

 

[iframe src=”//www.ytcropper.com/embed/c456e12e4e60dc2″ width=”640″ height=”480″]

 

Kyoto, 10 Maret 2016

Hidayat Panuntun

abu dahdah sang pembeli pohon kurma di surga

pohon kurma abu dahdahBagaimana menurut kalian, apabila ada yang mau melakukan pertukaran barang, 1 pohon pisang dengan 1 kebun penuh yang berisi pohon pisang, adilkah pertukaran itu??

Logika manusia pasti akan mengatakan, tidak ada yang mau melakukan pertukaran seperti itu.

Tapi tunggu dulu, manusia generasi terbaik umat ini pernah ada yang melakukan pertukaran itu. 1 pohon ditukar dengan berhektar-hektar kebun. Mari kita simak kisahnya.

Dikisahkan ada anak yatim, yang dihalaman rumahnya terdapat 1 pohon kurma milik tetangga. Karena ada suatu keperluan, maka si anak yatim meminta keikhlasan si pemilik pohon kurma untuk memberikan 1 pohon tersebut kepadanya.

Anak yatim itu berkata, “kau punya banyak pohon kurma, kehilangan 1 pohon tidak akan merugikanmu sama sekali. Jadi saya mohon keikhlasannya”. Tapi si tetangga menolak.

Anak ini mengadu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam mengenai permasalahannya tersebut. Kemudian rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam berkata kepada tetangga anak tersebut, “berikan kepadanya, engkau akan mendapatkan 1 pohon kurma di surga”. Sayangnya, tetangga anak yatim tersebut tetap tidak mau memberikannya.

Dengan cepat kemudian Abu dahdah radhiallahu ‘anhu berkata kepada tetangga si anak yatim, “Engkau tahu kebun kurma milikku?”

“Apakah ada seseorang di Madinah yang tidak mengetahui kebun tersebut?”,jawab si tetangga anak yatim (hal ini menunjukkan bahwa kebun milik abu dahdah populer di kalangan warga Madinah).

“Aku beli 1 pohon kurmamu dengan kebunku tersebut”, kata abu dahdah dengan mantap.

Satu-satunya harta milik abu dahdah ketika itu, kebun kurma yang berisi 500-600 pohon, akhirnya dijual dengan 1 pohon kurma milik tetangga anak yatim tersebut.

Kemudian abu dahdah pun pergi menemui rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam dan berkata, “Wahai rasulullah, aku telah membeli pohon kurma tersebut, aku bayar dengan kebunku. Sekarang aku berikan pohon kurma itu kepadamu”.

“Alangkah banyaknya tandan kurma yang harum baunya milik abu dahdah di syurga kelak”, Jawab rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam kepada abu dahdah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam mengucapkan kalimat tersebut tidak hanya 1 atau 2 kali. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam mengucapkan kalimat tersebut berulang-ulang hingga abu dahdah pun pergi untuk menemui keluarganya.

“wahai ummu dahdah, keluarlah engkau dari situ, aku telah menjualnya dengan 1 pohon di syurga”, kata abu dahdah kepada istrinya.

Ummu dahdah (istri abu dahdah) pun menjawab, “Alangkah beruntungnya jual beli (perniagaan) yang telah kau lakukan itu”.

“Betapa banyak pohon kurma yang merunduk karena lebat buahnya, akar-akarnya dari mutiara dan Yaqut, bagi Abu Dahdah di surga.”(Tafsir Ibnu Abi Hatim, 12/286 dan Tafsir Ibnu Katsir, 8/14)

Tidak sedikit dari kita yang masih berpikir, harta yang kita sedekahkan/infakkan di jalan Allah, itu akan mengurangi harta yang kita miliki. Hitungan sederhananya, apabila seseorang mempunyai uang 100ribu, dia infakkan 50ribu maka uang yang dia miliki tinggal 50ribu.

Padahal tidak! Justru uang yang tersisa didompet itulah yang akan habis (Makan bakso, beli susu, beli bensin^_^), dan uang yang dia infak itulah yang akan dilipatgandakan hingga 700x lipat oleh allah.

مَّثَلُ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمۡوَٰلَهُمۡ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنۢبَتَتۡ سَبۡعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنۢبُلَةٖ مِّاْئَةُ حَبَّةٖۗ وَٱللَّهُ يُضَٰعِفُ لِمَن يَشَآءُۚ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ ٢٦١

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui (al-baqarah, 261)

Menunggu kaya?

Sebagian orang akan mengatakan, “ya, nantilah kalau kita sudah punya uang yang cukup, kita akan bersedekah insyaallah”.

Berhati-hatilah, karena syaitan itu sangat lembut dalam menggoda manusia. Bapak kita, Nabi Adam, yang Allah menciptakan langsung dengan tanganNYA, meniupkan ruh dan mengajarkan ilmu yang tidak diajarkan kepada malaikat saja masih bisa digoda oleh iblis sehingga diturunkan ke bumi, lalu bagaimana dengan kita? Adakah yang bisa menjamin dirinya tidak akan terjerumus godaan syaitan??

Maka tanyakanlah kepada diri masing-masing, apabila didalam dompet HANYA ADA UANG 1000 rupiah, beratkah dia untuk menginfakkan 500 dari uang 1000 tersebut? Tentu saja tidak berat, meskipun itu artinya 50% dari hartanya telah berkurang.

Lalu bagaimana jika didompet ada uang 100 juta, masihkah dia mau berinfak 50% dari hartanya?? Atau dia hanya mau tetap berinfak 500 saja?

Masyaallah, Ayo jangan ditunda-tunda.

Mari kita sama-sama menjemput syurga Allah seluas langit dan bumi.

 

Kyoto, 8 Oktober 2015

Hidayat Panuntun

sebuah pelajaran dari khadijah radhiallahu ‘anha

pelajaran dari khadijah“Selimuti aku.. selimuti aku..” Begitu pinta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam dengan tubuh gemetar kepada istrinya, Khadijah radhiallahu ‘anha. Khadijah pun menyelimuti beliau shallallahu ‘alaihi wassalam hingga beliau shallallahu ‘alaihi wassalam merasa tenang.

“Aku sangat mengkhawatirkah diruku” sambung rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam. Dengan lembut Khadijah pun berkata, “tidak, demi Allah, Allah tidak akan menjadikanmu bersedih sama sekali. Engkau adalah orang yang suka menyambung silaturahmi, menghormati tamu, suka meringankan beban orang lain dan menolong orang yang tertimpa musibah. (Mukhtashar al bidayah Wan nihayah, Ibnu Katsir, 158)

Tak hanya menghibur, untuk lebih menenangkan suami tercintanya, Khadijah radhiallahu’anha kemudian mengajak rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam menemui pamannya, waraqah bin naufal, seorang ahli kitab. Hingga pada akhirnya beliau shallallahu ‘alaihi wassalam yakin bahwa puncak kegelisahan yang baru saja beliau alami adalah awal dari sebuah hidayah yang tidak hanya merubah wilayah arab saja, tapi seluruh alam.

Kriteria Suami yang Baik

Sebelum menuntut banyak hal kepada Istri, alangkah baiknya jika kita memenuhi dulu kriteria suami yang baik menurut dialog antara Khadijah radhiallau’anha dan rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam diatas. Yakinkan istri kita bahwa kita adalah suami yang baik yang harus didukung perubahannya.

Kriteria suami yang baik menurut dialog tersebut adalah:

  • Suka menyambung tali silaturahim.
  • Menghormati tamu.
  • Suka meringankan beban orang lain.
  • Menolong orang yang tertimpa musibah.

Sudahkan kita memenuhi kriteria-kriteria tersebut? Untuk para suami, kriteria tersebut harus wajib dipenuhi agar istri menjadi semakin yakin bahwa suaminya adalah suami yang baik yang harus didukung setiap rencana perubahannya.

Ketika suami gelisah

Pelajaran lain yang bisa diambil dari kisah tersebut adalah bagaimana memperlakukan suami ketika suami gelisah, galau, sedih, tertimpa musibah.

Mari kita tanyakan kepada diri kita, apa yang akan kita lakukan pertama kali saat melihat suami masuk rumah dalam keadaan galau, tatapan kosong, atau bahkan hingga meneteskan airmata layaknya anak kecil..??

Sependek yang saya tahu, respon istri biasanya adalah kalimat Tanya “kenapa?” “ada apa?” atau kalimat-kalimat Tanya sejenis.

Ummul mu’minin Khadijah radhiallahu’anhu memberikan sebuah solusi yang sangat aplikatif bagi para istri untuk menyambut suami tersebut.

  • Saat suami pulang dalam keadaan gelisah, usahakan jangan banyak bertanya. Lakukan apa yang diinginkan suami. Apabila suami tidak berkata apa-apa, berikan sentuhan fisik untuk memberi ketenangan pada suami tercinta.

Hal ini juga dilakukan Khadijah saat menyambut suaminya yang sedang gelisah. Masuk rumah dengan tubuh gemetar dan ketakutan, Khadijah tidak serta merta langsung menanyakan, “Ada apa wahai suamiku?”, “Engkau kenapa wahai suamiku?”.

Baliau radhiallahu’anha melakukan apa yang diperintahkan oleh suami tercintanya, bahkan Khadijah tidak menanyakan apa yang terjadi hingga suaminya sendiri yang menceritakan kisahnya kepada Khadijah.

  • Saat suami sudah tenang, jadilah istri yang siap mendengarkan. Jangan memotong dan menunjukkan sikap tidak percaya terhadap kisah yang dialami sang suami.
  • Hibur suami dengan kalimat hiburan yang bisa menenangkan.
  • Saat suami mengeluarkan kalimat kurang percaya diri terhadap dirinya sendiri, jadilah orang pertama yang percaya dan menyebutkan kelebihan-kelebihan suami.
  • Damping suami dan jadilah istri yang menawarkan alternatif solusi dari setiap proses perubahan yang bisa mendekatkan diri kepada Allah.
  • Berikanlah waktu sejenak untuk suami agar istirahat.
  • Ajak suami untuk menemui orang yang berilmu yang dapat memberikan solusi atas masalahnya tersebut.

Semoga Allah memudahkan kita untuk memenuhi kriteri Suami yang baik dan menjadikan istri kita sebagai penyejuk hati dan pandangan kita

 

Maukah engkau dimadu?

maduAl-qur’an menulis dengan kata ‘asal.

Dalam surat Muhammad ayat 15,

وَأَنۡهَٰرٞ مِّنۡ عَسَلٖ مُّصَفّٗىۖ

“Dan sungai-sungai dari madu murni.. ” (QS. Muhammad: 15).

Secara bahasa, kata ini berarti “madu”.

Apabila ditambah dengan kata depan “di”, maka akan menjadi kata “dimadu“,

Sebuah kata yang sepertinya merupakan kata-kata keramat yang mungkin seakan tidak mau didengar oleh para istri.

Coba tanyakan pada istri masing-masing,

“wahai adinda, maukah engkau dimadu?” Maka bukan jawaban yang akan diterima, melainkan muka ngambek dan tambahan mellow dengan sedikit air mata menghiasi.

Kalaupun dijawab, mungkin si istri hanya akan menjawab singkat, “abi tega kah..??”

Tapi madu yang ini lain.

Sang pemberi madu itu bukan suaminya.. bukan hewan lebah.. bukan makhluk..

Sang pemberi madu adalah Allah azza wa jalla.

Mari kita simak penuturan sahabat ‘amr bin al-hamiq radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda

“Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, maka Allah memberinya ’asal.

Para sahabat bertanya, ‘Ya Rasulullah, apa maksud ‘asal dari-Nya?’

Beliau bersabda,

“Allah berikan taufiq untuk beramal soleh, kemudian Allah cabut nyawanya dalam keadaan husnul khotimah.”

(HR. Ahmad 17784, Ibn Hibban 342, al-Hakim 1258 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Al-Munawi menjelaskan,

Dalam hadis, “apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, dia akan berikan ‘asal-Nya, maknanya adalah pujian yang baik di tengah masyarakat. Para sahabat bertanya, ‘Apa itu ‘asal dari Allah?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Allah berikan taufiq untuk melakukan amal soleh sebelum dia mati.’

Dalam hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut amal soleh yang Allah berikan kepada seseorang dengan kata ‘asal yang artinya madu. Karena madu adalah makanan yang paling bagus, yang bisa membuat manis semua yang diberi madu dan menjadi lebih bagus jika ditambah madu.

(at-Taisir bi Syarh Jami’ Shaghir, 1/126).

Jadi, maukah engkau dimadu?

Kyoto, 25 Maret 2015

Hidayat Panuntun

sumber: www.muslimah.or.id

Tentang perempuan

Sesaat setelah nabi menyelesaikan shalat kusuf (shalat gerhana). Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda menceritakan kondisi syurga dan neraka yang diperlihatkan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wassalam,

“Dan aku melihat neraka. Aku belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari ini. Dan aku lihat ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita.”

Mereka bertanya, “Kenapa para wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Disebabkan kekufuran mereka.” Ada yang bertanya kepada beliau, “Apakah para wanita itu kufur kepada Allah?”

Beliau menjawab, “(Tidak, melainkan) mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan (suami). Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang istri kalian pada suatu waktu, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu (yang tidak berkenan di hatinya) niscaya ia akan berkata, ‘Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikan darimu’.”

(HR. Bukhari no. 5197 dan Muslim no. 907).

dalam syarh shahih muslim (6:192) dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan kufur dalam hadist ini bukanlah kufur keluar dari Islam, akan tetapi yang dimaksud adalah kufronul huquq, yaitu istri tidak mau memenuhi kewajiban terhadap suami. Ini menujukkan celaan terhadap wanita yang dimaksud dalam hadist.

“aku sama sekali belum pernah melihat kebaikan darimu”, begitulah rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam menggambarkan kekufuran seorang wanita kepada suaminya. Begitu mudahnya kalimat tersebut keluar dari mulut seorang wanita saat mereka melihat ada sesuatu yang tidak mereka sukai dari suami mereka, meskipun itu baru pertama kalinya dilihat orang istri tersebut.

Pernahkah kalian menjumpai pernyataan-pernyataan berikut:

– wanita itu bergerak/memutuskan dengan perasaannya.

– wanita itu hatinya selembut kapas/sangat perasa.

– wanita itu ibarat kaca, maka berhati-hatilah untuk membersihkannya.

dan masih banyak lagi kalimat-kalimat dalam dunia psikologi yang pada intinya bahkan ada yang menyebut bahwa wanita itu “complicated”.

pertanyaannya, benarkah itu demikian?? bagaimana islam mengajarkan para wanita untuk bertindak?? bagaimana para wanita (ibu) generasi salaf bisa mencetak manusia-manusia semacam Imam Asy-syafi’i, ‘Umar bin abdul aziz, muhammad al-fatih, dan para pahlawan-pahlawan islam lainnya??

Lupakah kita dengan kisah al-khansa binti amru, ibunda para syuhada??

Seorang wanita yang ketika panggilan jihad memanggil beliau mengumpulkan 4 orang putranya dan memberi titah kepada mereka untuk berangkat. Medan perang Qadisiyah menjadi saksi bisu bagaimana kemuliaan seorang wanita (ibu) atas syahidnya 4 orang anaknya sekaligus. Seorang ibu yang ketika melepas kepergian 4 putranya dengan mengucapkan, “wahai putraku, carilah kematian”.

Tahukah kalian bagaimana reaksi wanita (ibu) ini ketika mendengar berita kematian 4 orang putranya sekaligus di medan Qadisiyah?? Bukan kalimat kesedihan yang keluar, bukan sebuah kalimat kekecewaan yang keluar dari mulut wanita shalihat ini, Bahkan ia telah berkata, ‘Alhamdulillah yang telah memuliakanku dengan syahidnya putra-putraku. Semoga Allah segera memanggiiku dan berkenan mempertemukan aku dengan putra-putraku dalam naungan Rahmat-Nya yang kokoh di surgaNya yang luas.’ Bahkan saat orang-orang berkata kepadanya “kasihan khansa binti amru, kehilangan 4 orang putranya”, tapi khansa binti amru menjawab, “diamlah kalian, aku sedih karena tidak mempunyai anak lagi yang bisa aku antar ke medan jihad”

Atau lupakah kita bagaimana sikap ummu sulaim mengabarkan kematian anak tercinta kepada suaminya, tepat setelah menunaikan hajat dengan suaminya, “Sesungguhnya putramu adalah kepunyaan Allah, dan Allah sekarang telah memintanya kembali”.

Dan sungguh masih banyak lagi kisah-kisah hebat para wanita, ibunda dari anak-anak yang hebat. sikap mereka, keteguhan mereka, kesabaran mereka jelas sepertinya bertentangan dengan ilmu-ilmu psikologi wanita seperti yang saya tulis diatas.

Bagaimana seharusnya wanita itu bertindak??

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam telah memberikan sebuah hadist yang indah untuk para istri.

Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka

(HR. Ahmad 1: 191 dan Ibnu Hibban 9: 471. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Jadi, kemuliaan untuk memilih masuk dari pintu surga manapun yang dia mau itu bisa diraih apabila :

1. Melaksanakan shalat liat waktu.

2. Puasa bulan ramadhan.

3. Menjaga kemaluan.

4. Mentaati suaminya.

Semoga Allah memberikan kepada kita kemudahan untuk tetap istiqomah di jalan syurga.

Kyoto, 23 Januari 2015

Hidayat Panuntun

Bagai langit yang berlapis-lapis

Jikalau Allah telah membuka pintu kemudahan tahajud untuk kita, jangan pernah memandang remeh kaum muslimin yang tertidur diwaktu malamnya.

Jikalau Allah telah membuka pintu kemudahan puasa sunnah untuk kita, jangan pernah memandang remeh kaum muslimin yang tidak menjalankannya.

Jikalau Allah telah membuka pintu kemudahan haji untuk kita, jangan pernah memandang rendah kaum muslimin yang belum berkesempatan melakukannya.

Jikalau Allah telah membuka pintu rizki untuk kita, jangan pernah memandang rendah kaum muslimin yang diuji dengan kemiskinan.

Saya, anda, kita semua adalah makhluk ciptaan Alloh yang paling sempurna. Tidak satu orangpun yang berhak untuk menghakimi kedudukan orang lain di sisi Allah. Apa yang terlihat di mata ini hanyalah sebatas pandangan dhohir saja, hanya Allah lah Dzat yang maha tahu atas segala sesuatu. Boleh jadi seseorang yang kita anggap remeh memiliki kedudukan yang tinggi disisi Alloh dibandingkan dengan kita.

“Aku ingin bertanya tentang 3 hal mengenai dirinya semalam”, begitulah pertanyaan polos putra Imam Ahmad bin hanbal tentang tamunya, Muhammad bin Idris, atau yang lebih kita kenal dengan Imam Syafi’i. “Wahai ayahanda, benarkah ini seseorang yang sering engkau ceritakan kepadaku?”, tanya sang putra lagi. “Benar putraku”, Jawab Imam Ahmad.

“Aku melihatnya tadi malam makan banyak sekali, kemudian dia melewatkan malam tanpa shalat tahajud, selanjutnya dia shalat shubuh bersama kita tanpa berwudhu”, tanya putra Imam Ahmad.

Sang ayah pun dengan tenang menjawab, “Nak, silahkan engkau menanyakan hal tersebut kepada tamu kita”.

Anak Imam Ahmad pun bergegas dan menanyakan ketiga pertanyaan tersebut kepada tamu yang oleh ayahnya sering disebut-sebut dengan banyak kebaikan.

Sang tamu pun menjawab, “saya tidak akan melewatkan keberkahan dari makanan yang mulia, dari harta yang halal milik keluarga Imam Ahmad, dalam kamar tadi malam saya habiskan untuk mengkaji suatu masalah fiqh, hingga saya tidak tidur. Dan saya shalat shubuh dengan kalian dengan wudhu shalat isya”.

Terjawab sudah keraguan dari putra Imam Ahmad, dia pun belajar bahwa apa yang tidak nampak pada pandangan manusia jauh lebih baik dari pada yang nampak.

tidak sedikit orang yang masih suka meremehkan orang yang lain. Padahal yang diremehkan boleh jadi memiliki kebaikan yang lebih banyak, lebih luas ilmunya, lebih faqih dalam agama, dan lebih tinggi kedudukannya dibandingkan dengan yang meremehkan.

Sama saat kita melihat langit, orang dahulu menyangkan itulah tempat tertinggi. padahal yang dilihatnya tidak lain hanyalah lapis pertama dari tujuh lapis langit. Manusia yang seperti langit ke tujuh, karena mereka memilih untuk tidak terkenal, mencintai apa yang dicintai Alloh dan RasulNya. Jika mereka tidak nampak, mereka tidak dicari orang, apabila nampak, mereka pun juga tidak dikenali orang. Hati mereka bagaikan cahaya petunjuk, yang menerangi jalan untuk selamat di hari pembalasan.

Kyoto, 5 Nopember 2014

Hidayat Panuntun

Karena doanya menembus batas

 

Pertanyaan sederhana ini akan saya ajukan kepada para orang tua, khususnya para ibu.

Saat kondisi badan lelah, kemudian melihat putra/putrinya melakukan sebuah tindakan nakal..ditengah keramaian umum/saat ada tamu.. Apa yang akan diperbuat oleh seorang ibu…??

Tindakan paling banyak yang akan dilakukan oleh para ibu biasanya (mungkin karena saking jengkelnya..) membentak, menjewer telinga, bahkan ada juga yang memukul anggota badan si Anak. Yaah, namanya juga anak-anak, akal yang diberikan oleh Allah kepadanya masih perlu dibentuk agar sempurna dan peran orang tua lah yang paling besar dalam membentuk akal si anak tersebut.

Biasanya dalam keadaan jengkel si ibu akan menjewer/mencubit si Anak karena kelakuan nakalnya sambil berkata “dasar anak nakal”, atau “dasar anak tidak bisa dikasih tau”, atau bahasa-bahasa jelek sejenis lainnya.

Tidakkah para ibu mengetahui, bahwa apa yang mereka ucapkan boleh jadi menjadi doa yang akan dikabulkan oleh Allah…??? Bagaimana jadinya apabila anak mereka ternyata kelak benar-benar menjadi anak nakal..menjadi anak yang tidak bisa dikasih tau…???

Tidak sedikit pula para ibu yang kemudian hanya bisa menghela napas dan bersabar saat menjumpai anaknya yang telah dewasa tumbuh menjadi anak nakal..mereka berpikir dimana letak kesalahannya..sudah dimasukkan ke sekolah, ikut pengajian rutin di kampung..bahkan mungkin ada juga yang sudah pernah mencicipi pondok pesantren..tapi kenapa tetap nakal..begitu mungkin gumam para ibu tersebut… Padahal boleh jadi itu disebabkan karena doa mereka saat mereka jengkel dan memarahi si Anak saat mereka masih kecil..

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi yaitu doa orang tua, doa orang yang bepergian (safar) dan doa orang yang dizholimi.” (HR. Abu Daud no. 1536. Syaikh Al Albani katakan bahwa hadits ini hasan).

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidak doa yang tidak tertolak yaitu doa orang tua, doa orang yang berpuasa dan doa seorang musafir.” (HR. Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubro. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shahih sebagaimana dalam As Silsilah Ash Shahihah no. 1797). Dalam dua hadits ini disebutkan umum, artinya mencakup doa orang tua yang berisi kebaikan atau kejelekan pada anaknya.

Teman, tahukah kalian nama ini Abdurrahman AsSudais, beliau adalah seorang syeikh yang menjadi imam di masjidil haram. Suaranya yang mendayu-dayu tidak jarang menyebabkan para jama’ah menangis saat shalat bersama beliau di masjidil Haram.

Teman, tahukah kalian kisah beliau saat beliau masih kanak-kanak…???

Saat syeikh sudais masih kanak-kanak, suatu ketika orang tua beliau kedatangan tamu  kehormatan, sehingga ibunda Syeikh Sudais menyiapkan hidangan termasuk memasak kambing untuk menyambut tamu tersebut.

Ketika hidangan sudah siap saji, masuklah Sudais kecil setelah bermain ke dalam rumahnya. dan alangkah kagetnya sang IBU melihat apa yang Sudais kecil lakukan terhadap hidangan yang sudah ia siapkan.

Sudais kecil menaburkan pasir ke dalam hidangan kambing yang disiapkan ibunya.

Kaget bercampur kesal akhirnya ibunda beliau memarahinya, “Sudais, Awas kamu kalau sudah besar kamu akan menjadi IMAM MASJIDIL HARAM!”

Kemarahan ibunda Sudais inilah yang menjadi do’a luar biasa untuknya. dan kita bisa melihat hasilnya bahwa syeikh sudais benar-benar menjadi Imam di Masjidil Haram.

berikut adalah salah satu sholat yang beliau imami di masjidil haram:

http://www.youtube.com/watch?v=KfoI96RZ10o

Jadi, bagi para orang tua, terutama para ibu.. Masih punya pikiran untuk berkata yang buruk kepada anak saat dalam kondisi marah…???

berhati-hatilah dalam berkata pada Anak, karena boleh jadi apa yang seorang ibu ucapkan tersebut menjadi doa yang akan diijabah oleh Allah azza wa jalla. Menjadi marah adalah hal yang biasa saat melihat kelakuan anak yang tidak sesuai dengan kehendak orang tuanya, tapi perkataan yang baik saat marah adalah hal yang luar biasa yang akan menjadi kebaikan bagi si Anak kelak, insyaallah.

 

[Untuk istriku, engkaulah sang ustadzah rumah kita saat ini..

kepada engkaulah anak-anak kita belajar membentuk akalnya..

Maka bersabarlah saat engkau menjumpai buah hati kita bertindak tidak seseuai dengan keinginan kita..

Berkata lah semua hal kebaikan saat engkau marah kepada buah hati kita, mudah-mudahan Allah mengijabah apa yang engkau katakan tersebut.]

saat mereka menjadi saksi

alhamdulillah, setelah sekian lama tidak meninggalkan tulisan disini, saya akhirnya bisa menulis juga.

Beberapa waktu lalu saya mendengarkan sebuah muratal yang indah dari syeikh Mishary rashid:

kemudian saya jadi teringat dengan negara tempat saya berasal, indonesia….

apa hubungannya ya, indonesia dengan surat ini…(hmmmmm)..

Indonesia.. sebuah negeri yang dulu waktu jaman saya masih SD oleh guru saya pasti disebut sebagai zamrud katulistiwa. Dengan segala kekayaan alamnya, dari sejak SD, anak-anak indonesia diberikan penjelasan tentang begitu kayanya negeri Indonesia.

Ok, tapi tulisan ini tidak akan membahas tentang kekayaan negeri Indonesia 😀

saya sangat tertarik melihat perkembangan politik yang sedang terjadi di indonesia, meskipun kontroversi hati aku masih ku lebih menyudutkan kepada konspirasi kemakmuran ya, walau basically fokus study aku di geophysics, tapi kita nggak boleh ego terhadap satu kepentingan dan mengkudeta apa yang kita menjadi keinginan (silahkan dibaca dengan gaya bahasa vicky, hehehe..)

Baik, sekarang agak serius yaa..

Masih ingat saat salah satu partai di Indonesia dengan logo banteng yang berbendera merah (deskripsinya sudah lengkap kan ya?hehe) begitu kerasnya menentang kenaikan harga BBM

http://www.merdeka.com/artis/rieke-dyah-pitaloka-semangati-demo-kenaikan-bbm.html

http://www.beritasatu.com/nasional/37059-rieke-imbau-mahasiswa-se-indonesia-demo-tolak-bbm-naik.html

bahkan sampai membuat surat terbuka segala lho

http://www.merdeka.com/politik/surat-terbuka-rieke-kita-wakil-rakyat-atau-penipu-rakyat.html

tapi…….itu dulu….sekarang sudah lain sepertinya… (silahkan teman2 cari link berita sendiri ya..)

yang terbaru adalah tentang RUU pilkada,

ada yang tadinya mendukung tidak langsung, kemudian berbalik menjadi langsung. ada pula yang mendukung langsung kemudian berbalik menjadi tidak langsung

surya paloh (nasdem) dari menolak pilkada langsung berubah menjadi mendukung

http://politik.rmol.co/read/2013/10/07/128402/Surya-Paloh-Serukan-Hapus-Pilkada-Langsung-

hidayat nur wahid (pks) dari menolak pilkada tidak langsung berubah menjadi mendukung

http://www.republika.co.id/berita/nasional/politik/13/04/02/mkm03h-pks-tolak-pilkada-tak-langsung

berjuta alasan mereka buat untuk membenarkan apa yang telah dan akan mereka lakukan. mereka memolesnya dengan kata-kata indah nan mematikan agar semua orang yang mendengar mendapatkan kesan terhadap perubahan sikap tersebut.

saya bukan pendukung atau simpatisan partai politik tertentu, bahkan waktu pileg kemarin saya golput alias tidak nyoblos.

kalau pepatah jawa mengatakan esuk dele sore tempe (pagi kedelai, sore tempe). Begitu mudahnya mereka berganti kata-kata. kalau versi mereka, mereka pasti akan mengatakan (politik itu dinamis).

bukan hasil akhirnya yang akan saya komentari, tapi apa yang disembunyikan dalam hati mereka mengenai tujuan dari perubahan sikap yang telah mereka pilih.

mereka mungkin menyangka, manusia kebanyakan pasti tidak akan tahu tujuan sebenarnya dari sikap mereka. tapi apakah mereka lupa Allah tidak mengetahui segala yang tersembunyi pada setiap hati manusia.

saya hanya berpikir, tidak takutkah mereka saat mereka berada di persidangan dengan hakim agungnya adalah Allah azza wa jalla??? kalau mereka berpikir bisa menyembunyikan hal tersebut kepada manusia, Allah kelak akan menampakkannya di hari kiamat, bukan melalui mulut mereka, tapi melalui mata, pendengaran, dan kulit mereka!!

“Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan.” (QS fussilat,20)

Lalu bagaimana kita bisa mengelak kesaksian dari mata kita sementara kita didunia melihat dengan mata, bagaimana kita bisa mengelak kesaksian pendengaran kita sementara kita didunia mendengar dengannya.

Maka pikirkan lah sekali lagi wahai teman semuanya, kalau kita merasa berbohong didunia itu akan menyelamatkan kita, kulit lah yang akan mengatakan semuanya dihari kiamat kelak.

Ingatlah, karena akan tiba masanya saat mulut kita dikunci, dan berkata tangan, kaki, mata, telinga, kulit, terhadap apa yang telah mereka kerjakan di dunia ini.

Wahai diri, hati-hatilah dalam berbicara. karena semua yang telah engkau lakukan di dunia pasti akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak.

hidayat panuntun
kyoto, 3 oktober 2014