Wahai istriku..

 

Wahai istriku..hari ini, 2 tahun yang lalu adalah saat yang sangat mendebarkan untukku.. Saat aku menggenapkan separuh agamaku dengan menjadikan engkau sebagian tulang rusukku..

 

Wahai istriku..seperti mimpi nabi melihat ‘aisyah..saat malaikat membawa gambarnya pada sepotong kain sutra..saat itu aku pun berdoa, agar Allah berkenan menjadikan engkau pelengkap agamaku..

 

Wahai istriku..Engkau memilihku disaat banyak yang datang memintamu..Engkau memilihku padahal aku tidak punya apa-apa..Engkau memilihku padahal aku tidak setampan nabi yusuf, sekaya nabi sulaiman, segagah nabi musa..

 

Wahai istriku..Saat kebanyakan orang memilih untuk jatuh cinta..Bersama engkau aku memilih untuk membangun cinta..Membangun setinggi-tingginya untuk menggapai syurga..

 

Wahai istriku..ingatkanlah aku jika aku keliru..tegurlah aku jika ada hakmu yang terlalaikan..maafkanlah aku jika aku berbuat salah terhadap engkau..Sungguh aku hanya menginginkan kebaikan untuk keluarga kecil kita..

 

Wahai istriku..Engkaulah madrasah peradaban pertama di rumah kita..Engkaulah yang membentuk anak kita..Dibalik ketegasanmu, ada aura kelembutan yang sangat menyejukkan..Dalam kasih sayangmu, terdapat kekuatan yang menggetarkan..Kesabaranmu dan ketundukanmu yang tanpa batas membuatmu semakin cantik melebihi bidadari..Sungguh memang tak salah Rasulullah menyebutmu 3x berulang..Karena engkau memang tak tergantikan..Oleh siapapun..

 

Wahai istriku..kebaikanmu sungguh sangat besar..Ketaatan, kesetiaan, dan pengorbanaanmu begitu sangat terasa oleh diriku..Wahai istriku..Semoga Allah membalas semua itu dengan memasukkanmu kedalam syurgaNya..karena itu mengingatkan aku dengan sebuah hadist…“Apabila seorang istri mengerjakan shalat lima waktu, berpuasa pada bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya, niscaya ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang ia kehendaki.”  (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan di shahihkan oleh syaikh al-Albani)..

 

Wahai istriku..semoga Allah menjaga rumah tangga kita diatas ketaatan kepada Allah hingga akhir kehidupan kita di dunia..Dan mempertemukan kembali keluarga kita di awal kehidupan yang abadi di kampung akhirat, didalam syurgaNya..

 

kyoto, 8 Juli 2014

Hidayat Panuntun

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Anti-spam image

One thought on “Wahai istriku..”