Bagai langit yang berlapis-lapis

Jikalau Allah telah membuka pintu kemudahan tahajud untuk kita, jangan pernah memandang remeh kaum muslimin yang tertidur diwaktu malamnya.

Jikalau Allah telah membuka pintu kemudahan puasa sunnah untuk kita, jangan pernah memandang remeh kaum muslimin yang tidak menjalankannya.

Jikalau Allah telah membuka pintu kemudahan haji untuk kita, jangan pernah memandang rendah kaum muslimin yang belum berkesempatan melakukannya.

Jikalau Allah telah membuka pintu rizki untuk kita, jangan pernah memandang rendah kaum muslimin yang diuji dengan kemiskinan.

Saya, anda, kita semua adalah makhluk ciptaan Alloh yang paling sempurna. Tidak satu orangpun yang berhak untuk menghakimi kedudukan orang lain di sisi Allah. Apa yang terlihat di mata ini hanyalah sebatas pandangan dhohir saja, hanya Allah lah Dzat yang maha tahu atas segala sesuatu. Boleh jadi seseorang yang kita anggap remeh memiliki kedudukan yang tinggi disisi Alloh dibandingkan dengan kita.

“Aku ingin bertanya tentang 3 hal mengenai dirinya semalam”, begitulah pertanyaan polos putra Imam Ahmad bin hanbal tentang tamunya, Muhammad bin Idris, atau yang lebih kita kenal dengan Imam Syafi’i. “Wahai ayahanda, benarkah ini seseorang yang sering engkau ceritakan kepadaku?”, tanya sang putra lagi. “Benar putraku”, Jawab Imam Ahmad.

“Aku melihatnya tadi malam makan banyak sekali, kemudian dia melewatkan malam tanpa shalat tahajud, selanjutnya dia shalat shubuh bersama kita tanpa berwudhu”, tanya putra Imam Ahmad.

Sang ayah pun dengan tenang menjawab, “Nak, silahkan engkau menanyakan hal tersebut kepada tamu kita”.

Anak Imam Ahmad pun bergegas dan menanyakan ketiga pertanyaan tersebut kepada tamu yang oleh ayahnya sering disebut-sebut dengan banyak kebaikan.

Sang tamu pun menjawab, “saya tidak akan melewatkan keberkahan dari makanan yang mulia, dari harta yang halal milik keluarga Imam Ahmad, dalam kamar tadi malam saya habiskan untuk mengkaji suatu masalah fiqh, hingga saya tidak tidur. Dan saya shalat shubuh dengan kalian dengan wudhu shalat isya”.

Terjawab sudah keraguan dari putra Imam Ahmad, dia pun belajar bahwa apa yang tidak nampak pada pandangan manusia jauh lebih baik dari pada yang nampak.

tidak sedikit orang yang masih suka meremehkan orang yang lain. Padahal yang diremehkan boleh jadi memiliki kebaikan yang lebih banyak, lebih luas ilmunya, lebih faqih dalam agama, dan lebih tinggi kedudukannya dibandingkan dengan yang meremehkan.

Sama saat kita melihat langit, orang dahulu menyangkan itulah tempat tertinggi. padahal yang dilihatnya tidak lain hanyalah lapis pertama dari tujuh lapis langit. Manusia yang seperti langit ke tujuh, karena mereka memilih untuk tidak terkenal, mencintai apa yang dicintai Alloh dan RasulNya. Jika mereka tidak nampak, mereka tidak dicari orang, apabila nampak, mereka pun juga tidak dikenali orang. Hati mereka bagaikan cahaya petunjuk, yang menerangi jalan untuk selamat di hari pembalasan.

Kyoto, 5 Nopember 2014

Hidayat Panuntun

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Anti-spam image

2 thoughts on “Bagai langit yang berlapis-lapis”